Etnomedisin Kawasan Turgo

Artikel
Etnomedisin Kawasan Turgo
Flora, Lain-lain
156
27 Oktober 2022
Biologi
Penulis
Septian_w
1
posting

Kawasan  Turgo terletak di bawah kaki gunung Merapi, tepatnya di Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kawasan ini tidak jauh dari kawasan wisata Kaliurang,  kawasan ini memiliki radius kurang lebih 6,5 km dari gunung Merapi. Tak hanya menyajikan pemandangan yang indah dan sejuk, kawasan turgo juga menyimpan kekayaan hayati yang tinggi. Oleh sebab itu aktivitas masyarakat Turgo tidak terlepas dari hutan. Mereka memanfaatkan berbagai macam sumber daya dari hutan seperti kayu bakar untuk memasak, rumput untuk pakan ternak, serta tanaman obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Upaya untuk pemanfaatan tanaman saat ini sudah berkurang. Masyarakat di kawasan Turgo saat ini  jarang memanfaatkan tumbuhan etnomedisin, hal itu disebabkan karena masyarakat Turgo lebih memilih menggunakan obat-obatan medis siap pakai yang tersedia di pasaran.

Gambar 1. Kondisi alam kawasan Turgo

Saat ini hanya sedikit masyarakat yang mengetahui jenis dan manfaat tumbuhan obat yang ada di turgo. Diantara tumbuhan yang dimanfaatkan oleh beberapa masyarakat asli Turgo yaitu Culantro (Eryngium foetidum) digunakan untuk obat cacing  manusia dan digunakan pada hewan ternak. Untuk mengobati cacingan  pada anak  kecil dengan cara ditumbuk kemudian ditempel di pusar. Pegagan (Centella asiatica)  dimanfaatkan oleh orang tua saat kondisi kurang fit atau  saat cuaca dingin, manfaatnya untuk melancarkan peredaran darah. Rendeng (atau nama latin dari Centella asiatica)   bisa juga untuk obat panas dengan cara dimakan langsung atau direbus. Jahe (Zingiber officinale) digunakan sebagai obat capek-capek dan  pegal  dengan cara diparut. Bunga kitolod (Isotoma longiflora)  dimasukkan air dan diteteskan di mata untuk mengobati mata merah karena gatal dan iritasi. Daun mandingan (Eupatorium odoratum) digunakan masyarakat lokal Turgo secara turun-temurun untuk mengobati luka luar/ berdarah dengan cara dikunyah terlebih dahulu kemudian di tempelkan ke luka. Daun sirsat (Annona muricata) dimanfaatkan warga untuk obat darah tinggi dengan cara direbus.  Dringo (Acorus calamus) dan bengle (Zingiber cassumunar) Dringo, memiliki efek herbal yang bersifat afrodisiak, aromatik, karminatif, ekspektoran, stimulan, sedatif, diaforetik, emmenagogue, psikotropik, dan hallusinosik. Rimpang dringo dapat mengobati demam dan nifas. Selain itu, dringo juga berkhasiat sebagai obat penenang (Mulyani, Harti, & Indria, 2017), oleh masyarakat digunakan untuk menenangkan  anak yang menangis saat ada lelayu, cara penggunaan nya dengan cara ditumbuk dan dioleskan pada telapak tangan dan kaki, Jipang (Sechium edule) untuk menurunkan darah tinggi, dengan cara diparut kemudian diminum airnya. Tumbuhan lain yang dimanfaatkan, Parijoto (Medinella speciosa) digunakan masyarakat untuk  program hamil bagi pasangan yang belum memiliki keturunan , Daun kelor (Moringa oleifera) untuk menjaga imun pada anak, Daun meniran (Phyllanthus urinaria) untuk obat linu, daun salam (Eugenia polyantha) digunakan untuk obat darah tinggi, Mengkudu (Morinda citrifolia L.) sebagai obat penurun tensi. Warga juga memanfaatkan sambung nyawa (Gynura procumbens) untuk menurunkan tekanan darah,Alpukat (Persea americana Mill.) untuk menurunkan tensi, Tapak liman (Elephantopus scaber ) direbus bisa mengobati pegel linu, Teh kuning (Camellia sinensis var sinensis)  untuk diet. Selain tumbuhan yang sudah diketahui manfaatnya oleh masyarakat, kawasan Turgo masih menyimpan banyak jenis tumbuhan berpotensi etnomedisin dan belum diketahui manfaatnya oleh masyarakat.

             

Gambar. 2 Parijoto (Medinella spesiosa)     Gambar. 3 Meniran (Phyllanthus urinaria)

Selain terdapat tanaman obat di kawasan Turgo sebagai lokasi penelitian juga terdapat minuman tradisional yang di manfaatkan warga yaitu teh kuning, kopi, kombucha, dan minuman rempah seperti jahe. Proses pembuatan yang dilakukan warga masih dengan cara tradisional rumahan .

Gambar. 4 Seorang warga menjemur biji kopi

 

Bahan yang digunakan sebagai minuman tradisional dipetik dari kebun sendiri, bila bahan minuman tradisional kurang biasanya membeli di tetangga. Tidak hanya dikonsumsi sendiri,tetapi juga dijual di warung kopi.  Salah satunya milik Pak Musimin yang berada di depan rumahnya. Cuaca yang dingin sangat cocok dengan minuman yang hangat dan menyegarkan, contohnya susu jahe, kopi, dan teh. Kopi yang digunakan ada 2 macam yaitu arabika (Coffea arabica) dan robusta (Coffea canephora). Sedangkan teh yang digunakan yaitu teh (Camellia sinensis var sinensis) peninggalan nenek moyang yang masih ada hingga saat ini.

Berdasarkan kondisi tersebut, Tim Biofarmaka warrior yang didukung Yayasan KEHATI melalui Biodiversity Warriors Sponsorship Progam 2022 termin II sangat antusias dalam menggali informasi mengenai tumbuhan obat yang masih digunakan warga dan tumbuhan obat yang jarang digunakan  di Kawasan Turgo. Harapan dari kegiatan ini yaitu semakin banyak orang yang mengenal jenis tumbuhan obat, dan menggunakan kembali tumbuhan obat yang ada di lingkungan sekitar sehingga nantinya  warga dapat  menjaga kelestarian hutan dan memanfaatkannya secara bijak.

Referensi:

 

Mulyani, H., Harti, S., & Indria, V. (2017). PENGOBATAN TRADISIONAL JAWA. LITERA, 16(1), 146.

 

 

 

4
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *