Dampak Perilaku Manusia Terhadap Perubahan Iklim, Air dan Mentalitas Manusia Sendiri

Article
Dampak Perilaku Manusia Terhadap Perubahan Iklim, Air dan Mentalitas Manusia Sendiri
Marine
256
31 March 2020
Sekolah Vokasi Institut Pertanian Bogor
Author
Kesdhik Bandu Byantoro
1
posting

   Air merupakan sumberdaya alam yang memiliki fungsi penting terhadap kehidupan dan perikehidupan bagi manusia. Tanpa adanya air, manusia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti minum. Pemenuhan kebutuhan tersebut memerlukan kualitas air yang layak konsumsi dan jumlahnya cukup dengan kebutuhan manusia. Air sangat terikat dengan kondisi ekologi yang berada di sekitarnya sehinga air dapat dikatakan dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Manusia sebagai pelaku dalam pengendali lingkungan tanpa disadari telah meyebabkan kualitas dan kuantitas air berubah. Esai ini akan membahas perilaku manusia yang dapat menyebabkan  perubahan iklim, turunnya kualitas dan kuantitas air, dan pengaruhnya terhadap mentalitas manusia itu sendiri. Esai ini juga dibuat sebagai pengingat akan pentingnya menjaga lingkungan sehingga lingkungan memberikan timbal balik yang nyaman bagi kita dan anak cucu nanti.

  • Perubahan Iklim

   Perubahan iklim merupakan perubahan jangka panjang statistik pola cuaca dalam rentan waktu dasawarsa hingga ratusan juta tahun. Secara sederhana, perubahan iklim merupakan istilah terhadap perubahan pola cuaca dalam jangka panjang atau periodik. Perubahan iklim ini dapat terjadi pada suatu daerah tertentu bahkan seluruh permukaan bumi. Perubahan iklim terjadi saat sistem iklim bumi menghasilkan pola baru dan bertahan selama beberapa dekade. Sistem iklim tersebut antara lain udara, air, es, mahluk hidup, dan kerak bumi beserta mantelnya. Kelima sistem iklim tersebut saling berpengaruh satu sama lain, namun mahluk hidup merupakan sistem yang mendominasi pengaruh tersebut.
   Perubahan iklim dapat dikatakan sebagai ancaman yang sangat serius terhadap mahluk hidup yang menempati bumi. Perubahan iklim ini dampaknya sangat luas dan multi sektoral terutama terhadap kualitas lingkungan. Seperti yang kita ketahui, kualitas lingkungan merupakan tolak ukur kepedulian manusia terhadap lingkungan itu sendiri. Semakin tinggi tingkat kepedulian manusia terhadap lingkungan, maka semakin tinggi pula lingkungan memberikan timbal baliknya terhadap manusia. Pada dasarnya, timbal balik tersebut tidak ada yang tahu kapan datangnya. Namun perlu disadari dengan partisipan yang sangat tinggi, timbal balik tersebut akan terasa bagi kita bahkan generasi  yang mendatang.

  • Faktor penyebab perubahan iklim

   Perubahan iklim terjadi saat sistem iklim bumi menghasilkan pola baru dan bertahan selama beberapa dekade. Hampir semua sistem iklim menerima energi dari matahari, namun energi tersebut juga akan diberikan ulang ke luar angkasa. Pada dewasa ini, energi tersebut tidak dapat diberikan ulang karena banyaknya gas-gas di atmosfer seperti gas yang sering kita dengar yaitu gas karbon dioksida (CO2). Kejadian ini sering disebut dengan istilah “efek rumah kaca”.  Kejadian ini merupakan faktor yang mendominasi perubahan iklim, namun apabila dikaji dengan seksama, kejadian ini disebabkan oleh perilaku manusia.

  • Perilaku manusia terhadap perubahan iklim

Banyak perilaku dan kegiatan manuisa yang menyebabkan efek rumah sebagai berikut:

1.Pencemaran laut

   Pencemaran laut merupakan dampak dari aktivitas manusia terhadap laut tersebut. Pencemaran laut pada umumnya jarang dilihat langsung oleh manusia yang menetap di daratan. Keterbatasan geografi menyebabkan manusia tidak dapat langsung berada pada kawasan laut. Limbah industri yang dibuang langsung oleh pabrik ke laut menyebabkan ekosistem yang berada di dalamnya mati. Hal ini menyebabkan lautan tidak dapat meyerap karbon dioksida yang berada di bumi.

2. Ilegal Logging dan pembakaran hutan

   Ilegal logging merupakan kegiatan yang dapat mengancam kehidupan seluruh mahluk hidup yang berada di bumi. Kegiatan Ilegal logging menyebabkan pohon habis sehingga air yang turun ke bumi tidak dapat diserap dengan baik. Selain itu, kegiatan ini menyebabkan berkurangnya penyaringan gas karbon dioksida karena pohon yang ada habis ditebang. Kegiatan pembakaran hutan yang dilakukan oleh pihak tak bertanggung jawab akan menyebabkan bertambahnya gas karbon dioksida di udara.

3. Polusi kendaraan pribadi

   Mobilitas manusia dari satu tempat ke tempat lain membutuhkan kendaraan. Pada saat ini, jumlah kendaraan yang ada sangatlah banyak. Hal ini menyebabkan gas emisi yang dihasilakan berjumlah banyak. Dampak yang dirasakan secara langsung oleh manusia adalah semakin panasnya cuaca di siang hari.

   Ketiga penyebab efek rumah kaca tersebut pada dasarnya merupakan dampak dari kegiatan manusia. Setiap kegiatan tersebut dilakukan manusia dengan rasa sadar. Mirisnya, dewasa ini hal tersebut sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan manusia. Dapat dikatakan bahwasasanya perubahan iklim yang ekstrim merupakan timbal balik lingkungan terhadap perilaku manusia.

Ilustrasi Pembakaran Hutan dan Karbon Dioksida
Sumber: httpswww.hipwee.com ·

  • Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Air

   Iklim menjadi tolak ukur sumberdaya air yang berada di bumi. Hal ini dapat kita tinjau dengan adanya global warming yang menyebabkan beberapa daerah mengalami kekeringan. Menurut jurnal yang ditulis oleh zebidi (1998) diketahui bahwasanya 11 dari 20 negara di Timur Tengah dan Afrika Utara menggunakan sumberdaya air terbaharuinya sebagai langkah mengatasi kekeringan. Jumlah sumberdaya air yang terbaharui tersebut diketahui lebih dari 50%. Bencana kekeringan ini juga diketahui terus meningkat dan rentan terjadi pada negara miskin yang sensitif dan rawan terhadap fluktuatif iklim.
   Perubahan pola ikim dikhawatirkan berpengaruh terhadap perubahan pola hujan dan juga peningkatan suhu. Hal ini akan menjadi sumber bencana bagi daerah yang tidak sigap terhadap perubahan pola iklim. Perubahan frekuensi hujan tentu akan berdampak pada kekeringan maupun kebanjiran pada suatu kawasan. Intensitas air hujan tinggi yang berubah menjadi rendah akan menyebabkan suatu daerah tidak memilki sumberdaya air resapan langsung yang cukup. Apabila daerah tersebut memilki jumlah penduduk yang tidak seimbang dengan sumberdaya air resapan yang ada, maka sudah sepatutunya daerah tersebut mengalami kekeringan. Pola Intensitas air hujan ini juga akan berdampak secara langsung apabila terjadi perubahan intensitas hujan rendah menjadi tinggi. Turunnya air hujan tanpa henti akan menyebabkan debit dan volume  air naik. Pengumpulan volume air secara singkat hingga melebihi batas tampung  akan menyebabkan bencana berupa banjir.

    Perubahan pola iklim juga akan berdampak pada peningkatan suhu global. Meningkatnya suhu global dikhawatirkan akan menyebabkan cairnya gletser es pada daerah kutub. Gletser es yang mencair akan mengakibatkan hilangnya habitat sejumlah fauna yang berada di daerah tersebut. Beruang kutub merupakan salah satu contoh dari perubahan tersebut. Sebanyak 104 pakar dari 36 negara sepakat bahwasanya mencairnya gletser es ini akan memberikan efek domino bagi dunia. Gletser es yang mencair menyebabkan naiknya permukaan air sehingga dapat menyebabkan tenggelamnya pulau-pulau kecil. Mencairnya gletser es secara ilmiah juga akan menyebabkan semakin panasnya air laut dan kurangnya kadar olsigen yang berada didalamnya. Hal ini tentu akan mengakibatkan Marine heatwave atau yang dikenal dengan fenomena gelombang panas laut.

  • Mentalitas manusia terhadap perubahan iklim dan kondisi air tersebut

   Dengan adanya perubahan perubahan iklim dan pengaruhnya terhadap air, hal ini akan menyebabkan perubahan mentalitas manusia secara langsung. Iklim yang berubah menyebabkan perubahan cuaca. Perubahan cuaca ini akan berdampak terhadap mentalitas manusia berupa berubahnya sikap secara drastis. Perubahan sikap tersbut disebabkan karena adanya tekanan yang dirasakannya. Tekanan tersebut diberikan langsung oleh cuaca yang berubah cepat sehingga manusia tidak dapat meresponnya dengan baik. Apabila tekanan tersebut tidak dapat dikendalikan dengan baik, tidak menutup kemungkinan akan terjadi Discontrol emotions dan Unposition social.
   Kondisi berubahnya kualitas dan kuantitas air akan menyebabkan masyarakat resah. Kualitas air yang tidak layak akan menyebabkan kurangnya asupan air bagimanusia. Kondisi tersebut akan menyebabkan paniknya masyarakat. Bagi masyarakat yang tidak dapat memosisikan dirinya pada kondisi tersebut, akan mengalihkan seluruh kebutuhannya kepada air. Pembelian air mineral dalam jumlah banyak merupakan salah satu contoh dari kondisi tersebut. Istilah yang sering digunakan pada kondisi ini adalah “Panic buying” dimana terjadi pembelian suatu kebutuhan yang berlebihan karena disposisi mereka terhadap perubahan drastis.
   Mentalitas terakhir yang disebabkan oleh perilaku manusia sendiri adalah tidak adanya kepedulian sosial seseorang. Hal ini disebabkan karena kondisi perubahan iklim dan kurangnya kualitas maupun kuantitas air yang tersedia berubah. Manusia memposisikan dirinya agar dapat bertahan hidup tanpa melihat kondisi atau lingkungan sekitarnya. Ketika perubahan iklim dan air itu kembali normal, manusia akan mengalami disposisi diri. Dengan begitu dia akan menganggap lingkungan bukanlah hal yang penting. Kondisi seperti inilah yang membuat manusia tak acuh atau biasa dikenal dengan istilah “apatis” 


Ilustrasi Panic Buying
Sumber : Kreativv ID

   Dari esai yang telah ditulis, dapat kita ketahui bahwasanya perilaku manusia sangat berpengaruh terhadap lingkungan. Terutama terhadap perubahan kondisi iklim dan air. Perubahan tersebut akan dirasakan kembali oleh manusia. Sehingga dapat dikatakan lingkaran ekologi ini tidak akan pernah putus. Lingkaran ekologi ini akan berganti apabila terdapat kemauan diri dari dalam manusia untuk berubah. Perubahan yang ada sendiri harus disadari oleh masyarakat luas dengan partisipan yang tinggi.

#bwkehati #hariairsedunia #bwchallenge  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *