Anggrek Serat yang Unik Namun Terancam

Artikel
Anggrek Serat yang Unik Namun Terancam
Lain-lain
2846
4 Juni 2014
Penulis
Rosyid Hakiim
1
posting

sumber foto: www.kenalindonesia.com

Bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, Anggrek Serat atau Diplocaulobium utile memiliki fungsi budaya yang penting. Akan tetapi, karena eksploitasi berlebihan dan kerusakan hutan (baik secara alami maupun karena campur tangan manusia), anggrek yang menjadi maskot Sulawesi Tenggara ini sudah sangat sulit ditemukan. Oleh pemerintah, tanaman epifit ini sudah ditetapkan sebagai tanaman langka.

Dari sudut pandang budaya, Anggrek Serat memiliki posisi penting sebagai bahan baku untuk membuat kerajinan tangan tradisional khusunya anyaman. Beberapa kerajinan yang dihasilkan dari tanaman yang tumbuh baik di daerah panas dengan ketinggian 0 sampai 150 meter dpl (diatas permukaan laut) ini adalah kotak perhiasan, tas tangan, hiasan pada tepi tikar. Karena semakin sedikitnya anggrek ini di alam, harga kerajianan tersebut menjadi sangat mahal.

Karena manfaatnya itu, nama serat yang disematkan pada anggrek tersebut bukan hanya tempelan saja, akan tetapi karena secara fisik Diplocaulobium utile memiliki serat halus yang bisa digunakan sebagai bahan baku anyaman, terutama pada bagian umbi semunya. Berdasarkan situs Proseanet (kerjasama antara Prosea dan Yayasan KEHATI) umbi semu tersebut tumbuh merumpun dengan rimpang berruas pendek sehingga membentuk roset seperti paku sarang burung (kadaka), kemudian bentuknya langsing dan memanjang agak pipih serta mengeras dan menyempit keujungnya, berwarna hijau kekuning-kuningan. Untuk memanfaatkannya sebagai bahan anyaman, umbi semu itu dikumpulkan untuk dibelah-belah memanjang dan dipipihkan. Pita-pita yang diperoleh sewaktu masih basah dililitkan pada sebatang balok bulat, sesudah kering akan terbentuk bahan anyaman yang halus, mengkilap dan kuning keemasan serta dapat diwarnai. Warna keemasan mengkilap inilah yang menjadi daya tarik utama memanfaatkan tanaman yang tersebar di pedalaman Sulawesi hingga Papua Nugini itu.

Sangat disayangkan, Anggrek Serat yang memiliki potensi besar ini harus berada pada ambang kepunahan karena eksploitasi yang berlebihan. Pada Oktober 2008, kantor berita Antara pernah melaporkan bahwa Diplocaulobium utile disinyalir sudah menghilang dari hutan savana Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TN-RAW). Di Sulawesi Tenggara, tidak hanya Anggrek serat yang menghilang, tetapi juga beberapa hewan endemik lainnya seperti rusa, anoa, dan burung maleo.

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *