Artikel
Flora, Tumbuhan

Mekar dalam Satu Malam: Rahasia Hidup Bunga Buah Naga

Bunga buah naga (Selenicereus spp., sebelumnya dikenal sebagai Hylocereus) memiliki karakter unik dibandingkan sebagian besar bunga lainnya. Bunga yang dijuluki “Queen of the Night” ini mekar pada malam hari, dimulai saat senja, mencapai puncak di tengah malam, dan berakhir ketika matahari terbit. Meskipun singkat, proses ini menunjukkan strategi adaptasi yang menarik pada tumbuhan. 

 

Morfologi Bunga 

Tumbuh di sisi batang dengan jumlah kuntum yang bervariasi, bunga buah naga memiliki ukuran yang besar, berbentuk menyerupai lonceng, dan didominasi warna putih dengan bagian tengah kekuningan.

Bunga ini bersifat hermafrodit karena memiliki organ reproduksi jantan dan betina dalam satu bunga. Benang sarinya berjumlah sangat banyak dan tidak saling berlekatan, tersusun spiral, dan menempel pada permukaan tabung bunga. Sementara itu, putiknya tunggal dengan tangkai panjang berwarna kuning yang memudahkan proses penyerbukan.

Perhiasan bunganya terdiri dari dua bagian utama, yaitu sepaloid (bagian bunga yang menyerupai kelopak) dan petaloid (bagian bunga yang menyerupai mahkota berwarna putih). Karakteristik bunga ini membantu bunga terlihat mencolok pada kondisi minim cahaya.

 

Mengapa Mekar di Malam Hari?

Mekarnya bunga buah naga pada malam hari merupakan salah satu bentuk adaptasi terhadap lingkungan sekaligus strategi reproduksi tanaman. 

Mutualisme dengan Polinator Nokturnal

Di habitat alaminya, bunga buah naga umumnya diserbuki oleh polinator nokturnal, seperti ngengat elang dan kelelawar. Warna putih yang kontras dalam gelap, ukuran bunga yang besar, serta aroma manis yang kuat menjadi daya tarik utama bagi hewan-hewan tersebut. Pada beberapa kondisi budidaya di lahan pertanian, petani biasanya juga membantu proses reproduksinya melalui penyerbukan buatan. 

Adaptasi terhadap Stres Suhu Tinggi dan Keterbatasan Air

Sebagai tanaman yang berasal dari lingkungan hangat dan relatif kering, bunga buah naga mekar di malam hari untuk menghindari paparan suhu tinggi. Kondisi malam yang lebih sejuk dan lembap membantu menekan kehilangan air melalui transpirasi, sehingga dapat menjaga organ reproduksi tetap berfungsi secara optimal. Adaptasi ini sangat mendukung keberhasilan proses penyerbukan dan pembentukan buah.  

 

Siklus Mekar yang Singkat

Bunga buah naga bersifat ephemeral, yaitu memiliki masa mekar yang sangat singkat. Setelah mekar sempurna di malam hari, bunga perlahan akan layu keesokan harinya. Jika penyerbukan berhasil, bakal buah di dasar bunga akan berkembang menjadi buah naga yang kaya nutrisi. Sebaliknya, jika penyerbukan tidak terjadi, bagian tersebut tidak akan mengalami perkembangan lebih lanjut. 

Meskipun hanya mekar dalam waktu singkat, bunga buah naga menunjukkan bagaimana tumbuhan memiliki cara tersendiri untuk bertahan dan bereproduksi sesuai dengan lingkungannya. Bagi buah naga, keberhasilan hidup tidak ditentukan oleh lamanya bunga mekar, melainkan seberapa efektif ia memanfaatkan satu malam tersebut untuk memastikan generasi berikutnya dapat tumbuh. 

 

Referensi:

Cao. 2022. Dragon Fruit (Hylocereus undatus) A Superfood and Flower. https://storymaps.arcgis.com/stories/a0e94c50038146c1bf3e1e6e88f48736. Diakses pada tanggal 16 Mei 2025.

Cho, J. L. Y., Ding, P. 2021. Floral Morphology and Pollination Process of Red-fleshed Dragon Fruit (Hylocereus polyrhizus) Grown in an Open Field. HORTICULTURAL SCIENCE AND TECHNOLOGY. 39(3), 277-293. https://doi.org/10.7235/HORT.20210025 

Kakade, V., Morade, A., Kadam, D. 2022. Dragon Fruit (Hylocereus undatus). In S. N. Ghosh & R. R. Sharma (Ed.) Tropical Fruits: Theory to Practical (Pp.240-257). New Delhi: Narendra Publishing House.

Utaminingsih., Etfanti, S., Suharyanto., Maryani. 2019. ANATOMICAL STRUCTURE OF SEPAL AND PETAL OF RED DRAGON FRUIT (Hylocereus polyrhizus Britton & Rose) DURING FLOWER DEVELOPMENT. Jurnal Biodjati. 4(2), 163-174.