Artikel
Ekowisata, Satwa, Taksonomi, Urban Biodiversity

Barbodes klapanunggalensis, Si Buta dari Goa Bogor

Ikan Barbodes klapanunggalensis, Sumber : zookeys.pensoft.net/article/135950/

Ikan Barbodes klapanunggalensis, Sumber : zookeys.pensoft.net/article/135950/

Ada yang aneh di Gua Cisodong 1, Klapanunggal, Kabupaten Bogor.

Agustus 2020, sekelompok pecinta susur gua dari Latgab Caving Jabodetabek turun ke dalam sistem karst yang gelap dan basah bukan untuk mencari spesies baru melainkan hanya untuk menjelajah seperti biasa. Terdapat hal yang tak terduga di salah satu kolam kecil di dalam gua Cisodong, lampu kepala mereka menangkap sesuatu yang bergerak seperti ikan tapi tidak seperti ikan biasa. Muncul ikan dengan tubuh putih keperakan hampir transparan, tidak ada warna, tidak ada pigmen yang paling mengejutkan tidak ada mata dimana seharusnya ada bola mata namun hanya ada kulit yang menutupinya dengan mulus. Para peserta susur gua memotret ikan aneh di dalam goa Cisodong, mencatat, dan pulang dengan pertanyaan yang belum terjawab.

Penemuan visual ikan aneh di goa Cisodong, Bogor terjadi 2020 tapi nama ilmiahnya baru resmi terbit di jurnal ZooKeys pada Februari 2025 atau lima tahun kemudian. Penamaan ikan bukan karena lambat tapi karena proses identifikasi spesies baru memang panjang, teliti, dan tidak bisa terburu-buru. Tim peneliti BRIN bersama Indonesian Speleological Society harus mengumpulkan spesimen secara hati-hati, membawanya ke laboratorium di Bogor, menganalisis morfologi secara mendetail lalu membandingkannya dengan ratusan spesies kerabat yang sudah terdaftar dan hasilnya ini bukan ikan yang pernah dicatat sains sebelumnya.

Ikan buta dari Goa Cisodong kemudian diberikan nama Barbodes klapanunggalensis yang mengambil nama dari tempat ia ditemukan. Secara ilmiah, Barbodes klapanunggalensis termasuk dalam kategori ikan troglobitik yaitu makhluk yang seluruh siklus hidupnya bergantung pada ekosistem gua. Salah satu hal menarik dari penemuan ikan goa ini ikan ini tidak memiliki mata. Di dalam gua yang gelap total mata adalah organ yang percuma sehingga membangun dan memelihara mata butuh energi jadi selama ribuan atau mungkin jutaan generasi ikan-ikan yang kebetulan lahir dengan mata lebih kecil justru lebih efisien secara metabolisme sementara yang bermata normal perlahan kalah bersaing. Hasil evolusi dalam waktu lama adalah ikan yang matanya menghilang sama sekali dan bukan karena kecelakaan tapi karena di kegelapan tidak punya mata justru lebih menguntungkan. Mata ikan mungkin menghilang namun sebagai gantinya, indra lain berkembang. Pada ikan Barbodes klapanunggalensis  sistem sensorik yang mendeteksi getaran dan perubahan tekanan air menjadi jauh lebih peka sebagai pengganti mata.

Bayangkan jarak dari pusat kota Jakarta ke Klapanunggal hanya sekitar satu jam perjalanan. Kawasan karst Klapanunggal ada di Kabupaten Bogor daerah yang sudah ramai, sudah penuh aktivitas manusia di atasnya namun di bawah permukaan tanah itu dalam kegelapan total seekor ikan tanpa mata hidup tenang di kolam kecil yang dialiri rembesan air dari batuan kapur. Ikan ikan unik ini ada di sana jauh sebelum ada pabrik, jauh sebelum ada jalan tol, jauh sebelum ada siapapun yang tahu tentangnya dan kita baru menemukannya di  tahun 2020.

Ditemukan, Lalu Hampir Langsung Terancam Punah

Ikan Barbodes klapanunggalensis ketika ditemukan di habitatnya, Sumber : zookeys.pensoft.net/article/135950/

Di sinilah ceritanya menjadi tidak nyaman untuk dibaca. Kawasan karst Klapanunggal memiliki luas sekitar 66 kilometer persegi dan dari luasan itu, hanya 9,96 persen yang mendapat perlindungan resmi dari pemerintah dalam bentuk Kawasan Bentang Alam Karst Bogor sementara Sisanya? Terbuka untuk aktivitas penambangan batu kapur yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Barbodes klapanunggalensis hanya ditemukan di satu gua yaitu Cisodong 1. Hingga saat ini tidak ada catatan keberadaan ikan unik ini di tempat lain dan artinya jika ekosistem gua itu terganggu, air tanah tercemar, sistem hidrologi karst rusak akibat penambangan maka tidak ada “populasi cadangan” di tempat lain yang bisa menyelamatkan spesies ini. Para peneliti secara eksplisit menyebut ikan ini sebagai spesies yang terancam, spesies yang terancam secara nyata oleh aktivitas manusia diatasnya.

Ada sesuatu yang mengganggu pikiran dari kisah Barbodes klapanunggalensis dan bukan hanya soal konservasi yaitu jika seekor ikan tanpa mata bisa hidup tak terdeteksi di lokasi yang hanya satu jam dari ibu kota maka berapa banyak lagi makhluk serupa yang ada di bawah kaki kita? Di sistem karst Jawa yang sudah lama dianggap ‘biasa’? Di gua-gua yang belum pernah dijamah lampu kepala siapapun? Alam Indonesia tampaknya belum selesai memperkenalkan dirinya tapi masalahnya kita mungkin sedang menghancurkan perkenalan itu sebelum sempat terjadi.

Di kolam kecil di perut bumi Bogor, seekor ikan putih transparan berenang dalam kegelapan total tanpa mata, tanpa cahaya, tanpa tahu bahwa di luar sana ada manusia yang baru saja menyadari keberadaannya, dan manusia lain yang sedang meledakkan batu kapur di atasnya.