Artikel
Aktivitas, Kehutanan, Perdagangan Satwa, Perubahan Iklim, Satwa, Taksonomi

Ketika Spesies Arboreal Turun ke Lantai Hutan: Temuan Tidak Umum Boiga dendrophila pada Kegiatan Herping di KHDTK Lempake, Samarinda

Abstrak
Kegiatan herping merupakan salah satu metode eksplorasi biodiversitas herpetofauna yang efektif dilakukan pada malam hari. Pada tanggal 11 April 2026, tim MAPFLOFA FKLT Universitas Mulawarman bersama Yayasan Ulin melakukan pengamatan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Lempake, Samarinda. Dalam kegiatan tersebut ditemukan individu Boiga dendrophila yang merupakan salah satu temuan saat herping dan berada di atas serasah daun dekat pohon mati. Spesies ini tergolong jarang ditemukan di kawasan KHDTK Lempake karena sifatnya yang arboreal atau lebih sering berada di atas pohon. Keunikan temuan ini terletak pada keberadaannya di lantai hutan, yang menunjukkan kemungkinan variasi perilaku atau aktivitas tertentu. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan hasil temuan, kondisi habitat, serta karakteristik ekologis spesies tersebut berdasarkan pengamatan lapangan dan literatur ilmiah.

Kata kunci: herping, KHDTK Lempake, Boiga dendrophila, herpetofauna, Samarinda

Pendahuluan
Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, termasuk kelompok herpetofauna. Kawasan KHDTK Lempake di Samarinda menjadi salah satu lokasi penting untuk kegiatan penelitian dan pendidikan kehutanan, namun informasi mengenai keberadaan reptil, khususnya ular, masih relatif terbatas.
Kegiatan herping pada malam hari menjadi metode yang efektif untuk menemukan spesies herpetofauna karena sebagian besar bersifat nokturnal. Salah satu spesies yang menarik untuk diamati adalah Boiga dendrophila atau ular cincin emas. Spesies ini dikenal memiliki kebiasaan hidup arboreal, sehingga lebih sering ditemukan di atas vegetasi pohon dibandingkan di lantai hutan.

Metode Pengamatan 
Pengamatan dilakukan pada tanggal 11 April 2026 di KHDTK Lempake, Samarinda. Metode yang digunakan adalah visual encounter survey (VES) dengan melakukan penelusuran jalur secara perlahan pada malam hari mulai pukul 20.30 WITA menggunakan bantuan Headlamp.
Data yang diamati meliputi:
• waktu dan lokasi temuan
• kondisi habitat (mikrohabitat)
• karakteristik morfologi individu
• dokumentasi visual

Hasil dan Pembahasan
1. Deskripsi Temuan
Pada pukul 22.10 WITA ditemukan satu individu Boiga dendrophila berada di atas serasah daun di dekat pohon mati yang berdiri. Kondisi lokasi pengamatan tergolong lembap dengan tutupan serasah yang cukup tebal.
Keberadaan individu di lantai hutan menjadi hal yang menarik, mengingat spesies ini dikenal sebagai ular arboreal yang lebih sering beraktivitas di atas pohon. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya aktivitas tertentu seperti berburu, perpindahan antar vegetasi, atau respons terhadap kondisi lingkungan mikrohabitat.

2. Klasifikasi dan Identitas Spesies
Klasifikasi ilmiah Boiga dendrophila adalah sebagai berikut:
• Kingdom : Animalia
• Filum : Chordata
• Kelas : Reptilia
• Ordo : Squamata
• Famili : Colubridae
• Genus : Boiga
• Spesies : Boiga dendrophila
Nama umum: Ular cincin emas

3. Karakteristik dan Ekologi
Spesies ini memiliki ciri khas berupa tubuh berwarna hitam mengkilap dengan pola belang kuning cerah yang kontras. Mata berukuran besar dengan pupil vertikal menjadi ciri khas ular nokturnal. Tubuhnya ramping dan memanjang, mendukung pergerakan di vegetasi.
Secara ekologis, Boiga dendrophila bersifat:
• nokturnal (aktif pada malam hari)
• arboreal (hidup di pepohonan)
• karnivora (memakan burung, kadal, dan mamalia kecil)
Ular ini termasuk rear-fanged dengan bisa yang relatif lemah dan umumnya tidak berbahaya bagi manusia namun memiliki efek yang dapat menimbulkan gejala lokal seperti: nyeri ringan hingga sedang, pembengkakan di area gigitan, Kemerahan, dan dalam beberapa kasus, dapat terjadi iritasi atau rasa terbakar.

4. Habitat dan Sebaran
Habitat alami Boiga dendrophila meliputi hutan hujan tropis, hutan rawa, hingga kawasan mangrove. Spesies ini tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Di Kalimantan, keberadaannya cukup dikenal, namun perjumpaan langsung di lantai hutan relatif jarang karena kecenderungan hidupnya yang arboreal.

5. Peran Ekologis dan Keunikan
Sebagai predator, Boiga dendrophila memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dengan mengontrol populasi mangsa. Selain itu, keberadaannya dapat menjadi indikator kondisi lingkungan yang masih baik.
Keunikan utama dari temuan ini terletak pada lokasi ditemukannya individu, yaitu di atas serasah daun di lantai hutan. Hal ini jarang terjadi karena spesies ini dikenal lebih sering berada di atas pohon. Temuan ini menunjukkan bahwa Boiga dendrophila memiliki fleksibilitas perilaku dalam memanfaatkan habitat, khususnya pada kondisi tertentu seperti saat berburu atau berpindah tempat.
Selain itu, pola warna tubuh yang kontras antara hitam dan kuning menjadikan spesies ini mudah dikenali dan memiliki nilai estetika tinggi dalam dokumentasi lapangan.

6. Signifikansi Temuan
Temuan ini memberikan informasi tambahan mengenai perilaku Boiga dendrophila di habitat alaminya. Keberadaannya di lantai hutan memperkaya pemahaman tentang variasi aktivitas spesies ini di luar kebiasaan arborealnya.
Dokumentasi ini juga berkontribusi sebagai data awal dalam pengembangan penelitian herpetofauna di KHDTK Lempake.

7. Status Konservasi
Status konservasi Boiga dendrophila secara umum menunjukkan bahwa spesies ini masih relatif stabil di alam, namun tetap memerlukan perhatian dalam pengelolaannya.
• IUCN (International Union for Conservation of Nature):
Termasuk dalam kategori Least Concern (LC), yang berarti spesies ini belum menghadapi risiko kepunahan dalam waktu dekat, meskipun tekanan terhadap habitat tetap menjadi ancaman potensial.
• CITES (Convention on International Trade in Endangered Species):
Tidak termasuk dalam daftar Appendix I, II, maupun III, sehingga perdagangan internasionalnya belum diatur secara ketat. Namun demikian, pengawasan tetap diperlukan untuk mencegah eksploitasi berlebihan.
• Peraturan Indonesia (P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018):
Tidak termasuk dalam daftar jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa spesies ini masih tergolong umum dijumpai di beberapa habitat alaminya.
Meskipun status konservasinya relatif aman, keberadaan Boiga dendrophila tetap bergantung pada kelestarian habitat hutan. Oleh karena itu, upaya konservasi ekosistem tetap menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan populasi spesies ini di alam.

Kesimpulan
Kegiatan herping yang dilakukan di KHDTK Lempake, Samarinda berhasil mendokumentasikan keberadaan Boiga dendrophila pada kondisi yang tidak umum, yaitu di atas serasah daun di lantai hutan. Spesies ini diketahui jarang ditemukan di kawasan tersebut karena kebiasaannya yang arboreal, sehingga temuan ini memberikan informasi tambahan terkait fleksibilitas perilaku dalam pemanfaatan habitat.
Keberadaan Boiga dendrophila pada mikrohabitat serasah menunjukkan bahwa spesies ini tidak sepenuhnya terbatas pada vegetasi pohon, melainkan dapat memanfaatkan lantai hutan dalam kondisi tertentu, seperti saat berburu atau berpindah tempat. Hal ini memperkaya pemahaman mengenai ekologi spesies tersebut di habitat alaminya.
Secara keseluruhan, hasil pengamatan ini menegaskan pentingnya kegiatan eksplorasi malam hari dalam mengungkap keanekaragaman herpetofauna yang jarang terdeteksi. Dokumentasi ini juga dapat menjadi data awal yang mendukung penelitian lanjutan serta upaya konservasi berbasis habitat di kawasan KHDTK Lempake.

 

Daftar Pustaka
Das, I. (2010). A Field Guide to the Reptiles of South-East Asia. New Holland Publishers.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. (2020). Data Biodiversitas Kawasan Hutan
Murphy, J. C., & Voris, H. K. (2014). Ecology and distribution of Boiga dendrophila. Journal of Herpetology.
Uetz, P., Freed, P., & Hošek, J. (2023). The Reptile Database. https://www.reptile-database.org
Whitaker, R., & Captain, A. (2004). Snakes of India: The Field Guide. Draco Books.