Sang Ikon Penjaga Ekosistem Lahan Basah

Aktivitas, Ekowisata, Kehutanan, Kelautan, Perdagangan Satwa, Satwa, Taksonomi
Sang Ikon Penjaga Ekosistem Lahan Basah
20 February 2026
53
8

Di bentang hutan rawa gambut yang lembap dan tenang, saya pernah menyaksikan sosok tinggi berdiri anggun diatas tajuk pohon tinggi saat sore. Perjumpaan itu terjadi di sekitaran Hutan Kahoi, Desa Minta, Kecamatan Penyinggahan, Kalimantan Timur, tepat pada pukul 15.30 Wita hari rabu tanggal 18  februari 2026  lalu ketika matahari mulai condong ke barat dan cahaya keemasan menyapu permukaan air yang tenang. Dialah bangau tong tong (Leptoptilos javanicus), burung besar yang kehadirannya seolah menjadi penegas bahwa alam masih menyimpan wibawa dan misterinya sendiri. Tubuhnya menjulang dengan postur tegap, paruhnya panjang dan kokoh, sementara lehernya yang jenjang tampak kontras dengan bulu putih keabu-abuan yang menyelimuti tubuhnya. Dari kejauhan, siluetnya terlihat sederhana, namun justru di situlah letak keagungannya.

Ia tidak banyak bergerak. Dalam diamnya, tersimpan kesabaran yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bangau tong tong berdiri seolah menyatu dengan lanskap rawa Kahoi, mengamati permukaan air yang tenang, menunggu momen yang tepat untuk bertindak. Suasana sore itu terasa hening—hanya suara serangga dan gemerisik dedaunan yang menemani. Ketika mangsa muncul, gerakannya cepat dan presisi, menunjukkan bahwa ketenangan bukanlah kelemahan, melainkan strategi. Sayap lebarnya, ketika terbentang, menghadirkan pemandangan yang memukau—membelah langit dengan kepakan yang kuat namun tetap tenang. Ia terbang tidak untuk pamer, tetapi untuk bertahan hidup, menyusuri langit Desa Minta yang mulai berubah warna menjelang senja.

Sebagai penghuni lahan basah, bangau tong tong memiliki peran ekologis yang penting. Kehadirannya menjadi indikator bahwa ekosistem rawa gambut di Hutan Kahoi masih menyediakan sumber pakan dan ruang hidup yang memadai. Ia berada di puncak rantai makanan di habitatnya, membantu menjaga keseimbangan populasi organisme lain. Namun, keberadaannya kini tidak lagi sepenuhnya aman. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), spesies ini berstatus Vulnerable (Rentan), sebuah pengingat bahwa tekanan terhadap habitat alaminya terus meningkat akibat alih fungsi lahan, degradasi hutan, dan gangguan aktivitas manusia. Status tersebut menjadi alarm sunyi bahwa lanskap-lanskap seperti Kahoi bukan hanya ruang hidup satwa, tetapi juga benteng terakhir bagi keberlanjutan spesies ini.

Melihat bangau tong tong di habitat aslinya pada sore hari itu bukan sekadar pengalaman mengamati satwa liar, melainkan juga perjumpaan dengan simbol ketahanan alam. Ia berdiri di tengah perubahan zaman, mencoba bertahan di ruang yang semakin menyempit. Dalam setiap langkahnya di atas lumpur rawa Desa Minta, tersirat pesan tentang keseimbangan yang harus dijaga. Ia mengajarkan bahwa kekuatan tidak selalu hadir dalam kegaduhan, tetapi dalam kesabaran dan kemampuan beradaptasi.

Bagi saya, bangau tong tong bukan hanya spesies burung besar di lahan basah, melainkan cerminan rapuhnya relasi antara manusia dan alam. Sore pukul 15.30 WITA itu menjadi pengingat bahwa setiap perjumpaan di alam membawa tanggung jawab. Selama rawa gambut Kahoi masih terjaga, selama langit Penyinggahan masih menjadi jalur terbangnya, masih ada harapan bahwa generasi mendatang dapat menyaksikan keanggunannya secara langsung—bukan hanya melalui cerita dan catatan konservasi.

#Leptoptilos javanicus, #bangautongtong, #desaminta, #gambut, #hutankahoi, #hutanrawa, #konservasi, AVES, Keanekaragaman hayati, bird, burung, lahanbasah
Tentang Penulis
Yonready
UNIVERSITAS MULAWARMAN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2026-02-20
Difference:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *