Wabah Corona, Iklim & Bobolnya Benteng Pertahanan Manusia

Opini
Wabah Corona, Iklim & Bobolnya Benteng Pertahanan Manusia
Lain-lain, Perubahan Iklim
42
1 September 2020
Penulis
Riki Frindos
Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI

 

Perampasan Benua Amerika oleh bangsa Eropa sejak abad 16 telah mengakibatkan tewasnya penduduk asli Amerika secara masif. Sebagian suku bangsa asli Amerika punah sama sekali. Mereka meninggal karena pembunuhan, perbudakan, kerja paksa, juga kelaparan akibat situasi yang ditimbulkan oleh penjajahan bangsa kulit putih.

 

Tetapi, diperkirakan jumlah yang jauh lebih besar meninggal karena wabah penyakit. Terutama di masa-masa awal kedatangan Bangsa Eropa. Wabah penyakit cacar, campak, dan flu, membunuh lebih dari 90% bangsa asli.

 

Virus dan bakteri yang dibawa Bangsa Eropa ini sebelumnya tidak dikenal oleh penduduk asli. Artinya, mereka yang sama sekali belum memiliki antibodi terhadap virus dan bakteri tersebut, atau pun teknik pengobatannya, tewas bergelimpangan.

 

Ribuan tahun bangsa asli Amerika terlindungi benteng alam, yaitu samudera Atlantik, yang memisahkan mereka dengan Bangsa Eropa. Perkembangan teknologi dan ketamakan Bangsa Eropa waktu itu memungkinkan mereka mencapai Benua Amerika, membawa kehancuran bagi bangsa Amerika asli, termasuk dengan virus dan bakteri penyakit yang mereka bawa serta.

 

Bangkitnya Virus dan Bakteri dari Masa Silam

 

Pada musim panas tahun 2016 yang lalu, di Semenanjung Yamal, Siberia, seorang bocah meninggal dunia dan puluhan lainnya dirawat di rumah sakit. Mereka semua secara tidak terduga diserang penyakit anthrax. Sumbernya ternyata bangkai rusa kutub yang mati hampir seabad lalu lalu karena bakteri anthrax.

 

Selama ini bangkai-bangkai tersebut tidak memberikan ancaman pada masyarakat di sana, karena ia tersimpan dengan aman di bawah permafrost, yaitu tanah yang membeku secara permanen.

 

Masyarakat di sana tidak pernah sadar tentang bahaya bakteri anthrax. Lagi pula, mereka memang terlindungi oleh benteng alam, yaitu permafrost, tanah yang senantiasa beku di kedinginan suhu Siberia. Terjadinya kenaikan suhu yang sangat cepat di kawasan itu serta heatwave, sebuah fenomena cuaca ekstrim karena perubahan iklim, telah merubuhkan benteng pertahanan tersebut.Ketika gelombang panas (heatwave) menyapu Siberia, beberapa permafrost mencair dan bangkai-bangkai rusa kutub tadi terpapar ke udara terbuka. Demikian juga halnya bakteri anthrax yang terkubur dan terawetkan hampir satu abad lamanya.

 

Pertanyaannya, apakah hanya bakteri anthrax yang terkubur di bawah sana? Sayangnya, ilmuwan mengatakan tidak. Ribuan mikroorganisme, yang sebagian berpotensi patogenik, tersimpan dan terawetkan pada lapisan-lapisan permafrost.

 

Mereka tidak hanya "beristirahat" di sana sejak seabad yang lalu seperti bakteri anthrax di Siberia tersebut, sebagian telah bersemayam di sana ribuan atau bahkan jutaan tahun lamanya. Kondisi permafrost yang beku, gelap, dan tanpa oksigen, memungkinkan mereka untuk diam di sana menunggu waktu untuk kembali hidup - jika ada kesempatan untuk itu.

 

Sebagian dari mikroba ini dapat saja sisa-sisa dari wabah epidemik yang terjadi di masa lalu. Epidemik anthrax yang membunuh jutaan ekor rusa kutub seabad yang lalu itu, hanya salah satu contoh mikroba patogen dari masa lalu yang hidup kembali.

 

Bisa saja kembali muncul bakteri yersinia pestis, penyebab wabah paling mematikan dalam sejarah umat manusia (black death). Pada tahun 2005, Ilmuwan dari Institut Kesehatan Nasional, Maryland, AS, mengatakan telah menemukan RNA virus Flu Spanyol tahun 1918 silam di hutan beku tundra di Alaska.

 

Pusat Riset Virus dan Biotek, Novosibirsk, Rusia bahkan memberikan gambaran bahwa bangkitnya mikroorganisma patogen, dari kebekuan dan kegelapan permafrost, barangkali bukanlah sebuah hal yang baru. Mereka melakukan riset terhadap fragmen manusia purba dari jaman batu yang hidup puluhan ribu tahun sebelumnya. Mereka menemukan indikasi bahwa cacar telah menjangkiti manusia purba, meskipun virus itu sendiri tidak ditemukan.

 

Sementara itu, tim dari Universitas Copenhagen, Denmark, berhasil me-recover kembali virus Hepatitis B yang menjangkiti manusia purba yang hidup 7,000 tahun yang lalu di Jerman.

 

Bahkan, berbagai eksperimen dilakukan dan mengkonfirmasi bahwa bakteri atau virus yang lebih tua lagi dapat bangkit kembali dari permafrost.

 

Riset yang dilakukan NASA pada tahun 2005 berhasil "menghidupkan" kembali bakteri yang tersimpan selama 32.000 tahun di telaga beku di Alaska. Pada tahun 2014, sekelompok ilmuwan, di bawah pimpinan Jean-Michel Claverie, dari Universitas Aix-Marseille University, Perancis, melakukan hal yang sama terhadap dua jenis 'virus besar' yang berusia 30.000 tahun di permafrost Siberia.

 

Perubahan Iklim dan Benteng Pertahanan Manusia

 

Jika suhu global terus meningkat, maka semakin tebal dan dalam lapisan permafrost yang mencair, yang menyimpan virus dan bakteri yang lebih tua lagi. Lapisan atasnya mungkin sisa-sisa epidemi satu atau dua abad yang lalu, lapisan berikutnya serta lapisan-lapisan selanjutnya akan membawa kita pada zaman ribuan atau puluhan ribu tahun yang lalu. Artinya, semakin asing kita terhadap virus atau bakteri tersebut, dan semakin kecil kemungkinan kita memiliki antibodinya.

 

Dalam konteks ini, barangkali banyak yang tidak menyadari, bahwa saat ini kita tengah menggempur benteng pertahanan kita sendiri, benteng alam terhadap virus dan bakteri purba. Benteng tersebut berupa kebekuan lapisan permafrost dan es, terutama di belahan bumi utara.

 

Kita menggempurnya dengan aktivitas dan gaya hidup kita yang menyebabkan kenaikan suhu global dan perubahan iklim. Misalnya, penggunaan energi berbasis fosil, seperti minyak bumi dan batubara. Atau, perusakan hutan dan lahan gambut, dan aktivitas lainnya yang menghamburkan karbon (CO2) ke udara. Aktivitas tersebut, tentunya, juga merusak biodiversitas dan jasa ekosistem yang menjadi fondasi dasar kehidupan manusia.

 

Sebuah artikel di Scientific Reports bulan November 2019 lalu, memberikan ilustrasi lain bagaimana benteng alam didobrak oleh perubahan iklim.

 

Pemanasan global telah melelehkan lapisan es dan membentuk "kanal" melintasi Lautan Artik di Kutub Utara, yang memungkinkan sebuah virus berekspansi dari utara Samudera Atlantik menuju Samudera Pasifik. Jenis virus yang biasanya hanya menyerang anjing laut di Lautan Atlantik sebelah utara, kini  juga menjangkiti dan menimbulkan wabah mematikan di Samudera Pasifik.

 

Yang juga mengkhawatirkan adalah aktivitas eksploitasi dan transportasi di kawasan Artik, yang menjadi feasible akibat suhu yang semakin menghangat. Terlepas dari manfaat ekonomi, perlu diwaspadai juga bahwa aktivitas ini dapat mempercepat "terbangunnya" virus dan bakteri yang bersemayam di sana.

 

Misalnya, ketika Planet Bumi makin memanas penyakit yang berkembang di iklim hangat dan lembab, seperti malaria dan demam berdarah, akan makin merajalela. Menurut WHO, akan ada tambahan 3%-5% dari penduduk Bumi, atau ratusan juta orang, yang rawan terhadap penyakit malaria dan demam berdarah, ketika suhu global naik 2C. Selama ini mereka terlindungi oleh benteng alam, yaitu iklim yang sejuk.Kita tahu, perubahan iklim menimbulkan malapetaka multidimensi. Dampak penyakit atau wabah, adalah satu dari sekian bencana yang dapat ditimbulkan. Bahkan dalam konteks penyakit, risiko bangkitnya wabah yang terkubur di lapisan-lapisan beku Siberia atau Artik, hanyalah salah satu kemungkinan saja.

 

Wabah virus Covid-19 yang kita hadapi dengan penuh keprihatinan saat ini, menjadi contoh nyata betapa virus asing dapat meluluhlantakkan kehidupan manusia. Betapa ketika benteng alam yang selama ini melindungi atau membatasi kita terhadap sebuah virus runtuh.

 

Namun, perlu diketahui, belum ada kesimpulan ilmiah bagaimana virus ini, yang diperkirakan berasal dari kelelawar, menembus "benteng alam", untuk kemudian menyeberang dan menyerang kita.

 

Selama 500 tahun yang lalu Bangsa Eropa dengan kemajuan teknologi dan determinasi, mendobrak "benteng alam" yang melindungi penduduk asli Benua Amerika, dengan melintasi Samudera Atlantik. Mereka melakukan kekerasan dan penjajahan, yang menyebabkan terbunuhnya bangsa asli Amerika dalam jumlah yang sangat besar. Tetapi mereka juga membawa virus dan bakteri yang membunuh bangsa asli Amerika dalam jumlah yang lebih masif.

 

Ketika lapisan permafrost terus meleleh, apa yang dapat kita lakukan jika virus yang menjangkiti manusia purba atau Neanderthal 40.000 tahun lalu bangun dan menyerang kita? Seberapa mematikan virus tersebut dan seberapa cepat ia dapat menyebar di segala penjuru dunia?

 

Editor:

Sumber  foto: AP Photo/Mark Schiefelbein

Sumber berita:

https://www.cnbcindonesia.com/opini/20200609202414-14-164237/wabah-corona-iklim-bobolnya-benteng-pertahanan-manusia

Panduan Pemuatan Opini di Situs BW

Syarat dan ketentuan

  1. Memuat hanya topik terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup
  2. Panjang tulisan 5.000-6.000 karakter
  3. Tidak plagiat
  4. Tulisan belum pernah dimuat di media dan situs lain
  5. Mencantumkan nama, jabatan, dan organisasi
  6. Melampirkan foto diri dan biografi singkat
  7. Melampirkan foto pendukung (jika ada)
  8. Mengirimkan tulisan ke biodiversitywarriors@kehati.or.id
  9. Jika akan dimuat dimuat, pihak admin akan menghubungi penulis untuk menginformasikan tanggal pemuatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *