Saatnya Lebih Peduli Dengan Lahan Basah.

Activity, Animal, Climate Change, Ecotourism, Forestry, Plants
Saatnya Lebih Peduli Dengan Lahan Basah.
2 February 2024
170

Hari Lahan Basah Sedunia diperingati pada setiap tanggal 2 Februari. Tanggal tersebut dipilih untuk mengingat penanda tanganan Konvensi Ramsar pada tanggal 2 Februari 1971 di kota Ramsar, Iran.  Konvensi Ramsar adalah perjanjian antarnegara yang menyediakan kerangka kerja Konservasi dan pemanfaatan lahan basah dan sumber dayanya secara bijaksana. Hampir 90 % anggota Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) dari seluruh dunia telah menandatangani konvensi tersebut, termasuk Indonesia.

 

Namun sejauh ini, pemahaman mengenai pentingnya peraan lahan basah masih sangat terbatas, bahkan cenderung menganggap lahan basah sebagai lahan marginal, sehingga dengan mudahnya dialih fungsikan. Memperingati hari lahan basah dimaksudkan untuk memacu kesadaran dan penghargaan terhadap pentinya lahan basah bagi kehidupan, serta untuk mengundang aksi dalam menyelamatkan lahan basah.

 

“Lahan basah dan kesejahteraan manusia” adalah tema hari lahan basah sedunia tahun 2024. Dimaksudkan untuk menyoroti bagaimana semua aspek kehidupan manusia bertalian dengan kesehatan lahan basah dunia, secara fisik, mental maupun lingkungan. Dan bahwa sepanjang sejarah, orang-orang mendapatkan penghidupan, inspirasi, dan betahan hidup dari ekosistem lahan basah. Namun kehilangan lahan basah 3 kali lebih cepat dari pada hutan. Lebih dari 80 % lahan basah telah hilang sejak tahun 1700 an. Bahkan saat ini lahan basah merupakan ekosistem yang paling terancam, sehingga menjadi kebutuhan mendesak pengelolaan lahan basah secara bijaksana oleh umat manusia.

 

Apa itu lahan basah

Lahan basah adalah habitat utama di seluruh planet yang membuat kehidupan di bumi, ekosistem dimana air merupakan faktor utama pengendali lingkungan dan kehidupan bagi tumbuh-tumbuhan dan hewan. Saat ini lahan basah menutupi 6 % permukaan bumi meliputi lahan basah pesisir dan daratan.

 

Kehidupan di bumi tergantung pada air. Namun air tawar hanya 2,5 % dari air yang ada di bumi dan kurang dari 0,025 % yang dapat diakses untuk dimanfaatkan manusia. Lahan basah menyediakan hampir semua air tawar kita. Tanah lahan basah yang kaya akan lumpur dan tumbuhan secara alami menyaring dan menyimpan air, sehingga lahan basah dipahami sebagai ginjal dunia.

 

Lahan basah juga merupakan pusat ketahan pangan. Lebih dari separuh dunia bergantung pada produk yang bertumbuh dari lahan basah untuk makanan pokok. Bahkan lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia bergantung pada ikan dari lahan basah untuk sumber protein nya, padi bagi 3,5 miliar orang setiap tahunnya. Lahan basah juga mengalirkan 70 % air untuk pertanian, dan irigasi, ini sangat penting bagi area yang curah hujannya terbatas dan tidak teratur.

 

Keragaman hayati lahan basah mendukung kesejahteraan manusia

Lahan basah sebagai gudang penting bagi keanekaragaman hayati, karena merupakan satu diantara habitat yang paling beragam, menyediakan tempat hidup bagi banyak jenis terancam punah dan kehidupan tumbuh subur di lahan basah. Masing-masing tipe ekosistem menyumbang secara unik terhadap keseluruahan keragaman hayati dengan mendukung tumbuhan dan satwa yang beradaptasi pada kondisi tertentu.

 

Dari keseluruhan tumbuhan dan satwa di bumi, 40% hidup atau berkembang biak di lahan basah, termasuk lebih dari 100.000 spesies ikan air tawar. Banyak spesies endemik hanya ada di lahan basah tertentu. Aliran Sungai dan anak Sungai membawa nutrient yang kaya dari lahan basah untuk menggerakan rantai makanan yang lebih besar. Seiring dengan kecepatan kerusakan lahan basah, spesies lahan basah menghadapi resiko kepunahan, menurun lebih cepat dibanding spesies di ekosistem lainnya.

 

Lahan basah dan perubahan iklim

Mangrove, adalah lahan basah di pesisir, berfungsi menjaga terpaan gelombang badai dan tsunami. Dari banjir pasang surut, perakaran vegetasi mangrove menangkap dan menyimpan karbon mencapai 55 kali lebih cepat dibanding hutan hujan tropis. Tanah gambut yang terbentuk dari tumpukan bahan organik, memiliki kemampuan menyimpan karbon 18-60% dari bobotnya (pantaugambut.id).  Sehingga keberadaan hutan mangrove dan gambut sangat penting untuk upaya memitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Lahan basah daratan setiap hektarnya mampu menyerap 3,7 juta gallon air banjir, dengan demikian lahan basah mengurangi banjir dan meredakan kekeringan.

 

Lahan Basah Unik di Kalimantan Timur

Lahan Basah Mesangat Suwi (LBMS) berada di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. LBMS unik, karena merupakan habitat bagi buaya badas hitam atau buaya siam (Crocodylus siamensis) yang berstatus sangat terancam punah. Lahan Basah Mesangat diperkirakan menjadi habitat buaya siam terakhir di Indonesia. Berdasarkan informasi dari masyarakat, di Lahan Basah Suwi, semula banyak ditemukan buaya siam. Namun setelah ada pembukaan untuk perkebunan sawit, sangat jarang ditemukan. Bekantan (Nasalis larvatus), satwa endemik Kalimantan yang berstatus dilindungi, umum dijumpai di Lahan Basah Suwi dan beberapa lokasi di Mesangat. Jenis tumbuhan pakan bekantan di Lahan Basah Suwi sama sekali berbeda dengan jenis-jenis tumbuhan mangrove. Awak media yang pernah berkunjung, berkomentar, bahwa bekantan di Lahan Basah Suwi lebih gemoy dan lebih bersih bulunya.

 

Hasil survei keragaman hayati di LBMS yang dilakukan oleh Yayasan Ulin sejak tahun 2009 di Mesangat dan survei oleh Yasiwa di Lahan Basah Suwi sejak tahun 2013, setidaknya tercatat 117 jenis burung, 15 jenis mamalia, 50 jenis ikan air tawar, 33 jenis herpet, 102 tumbuhan berbunga, dan 28 jenis tumbuhan berspora (paku-pakuan).  40 jenis diantaranya merupakan jenis terancam, dilindungi dan endemik.

 

Karena keunikan dan kepentingan LBMS sebagai sumber perikanan, daerah resapan air dan habitat bagi banyak hidupan liar, Lahan Basah Mesangat Suwi ditetapkan sebagai Kawasan Ekosistem Penting oleh Bupati Kutai Timur, melalui Surat Keputusan Bupati Nomor 660/K.391/2023. Kawasan Ekosistem Penting Lahan Basah Mesangat Suwi, yang Sebagian merupakan Arean Nilai Konservasi Tinggi perkebunan sawit, dikelola secara kolaboratif oleh forum multipihak, untuk menjaga fungsi ekosistemnya dan menyelaraskan manfaat ekonominya bagi masyarakat secara berkelanjutan.

 

Untuk mengenal lebih jauh keragaman hayati LBMS, bisa diakses di web: kehatimesangatsuwi.org

Keanekaragaman hayati, Mesangat Suwi, lahan basah
About Author
Monica Kusneti
Ketua Yayasan Konservasi Khatulistiwa Indonesia (YASIWA)

Terms and Conditions

  1. Contains only topics related to biodiversity and the environment
  2. Writing length 5,000-6,000 characters
  3. No plagiarism
  4. The article has never been published in the media and on other sites
  5. Include name, title, and organization
  6. Attach a photo of yourself and a brief biography
  7. Attach supporting photos (if any)
  8. Sending writings to [email protected]
  9. If it will be loaded, the admin will contact the author to inform the loading date

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *