Puisi Cinta untuk Fajar

Puisi Cinta untuk Fajar
19 Agustus 2023
800

Pada 18 Maret 1857, 5 spesimen orang utan tiba di World Museum Liverpool, Inggris.  Kelima spesimen itu dikirim Alfred Russell Wallace dari Borneo.  Orang utan dalam catatan Wallace masih menggunakan istilah Simea, belum ada istilah Pongo seperti yang dikenal pada saat ini.

 

Selama 8 tahun, Wallace menjelajah berbagai tempat di Nusantara, dan pada akhirnya mahakarya The Malay Archipelago terbit di tahun 1869.   Lewat buku ini, Wallace menempatkan orang utan sebagai ikon yang paling menonjol.  Ia pun memberi sub judul; The land of orang-utan, and the bird of paradise. A narrative of travel, with studies of man and nature.

 

Buku tua Wallace tersebut membahas mengenai kekayaan alam yang ia temui di rute perjalanannya.  Khususnya, pembahasan Orang utan.  Bahkan, ia juga mengemas spesimen orang utan dengan tangannya sendiri, menembak dari pelatuk senjata dan bidikan matanya.  Sebagai catatan, pada masa itu, perburuan orang utan ia lakukan hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan.  Belakangan, orang utan yang dikirim Wallace ke Inggris dikenal dengan Pongo pygmaeus yang lebih dikenal dengan nama orang utan kalimantan.

 

Harus diakui, Wallace bukanlah orang pertama yang menyebut orang utan dalam catatannya.  Pada 1631, Historiae Naturalis et Medicea Indiae Orientalis buah tangan Jacobus Bontius ternyata adalah pendahulunya.  Tetapi, orang utan versi Bontius lebih merujuk pada manusia yang mengalami persoalan serius dari sisi medis.

 

Carolus Linnaeus mempublikasikan Systema Naturae pada 1758.  Dia diklaim sebagai orang pertama yang menyebut orang utan dengan nama Homo troglodytes atau Homo sylvestris.  Sebutan ini, lantas berubah menjadi Simia pygmaeus pada 1760 di tangan Christian Emmanuel Hopp.

 

Sampai akhirnya, pada 1996, orang utan yang tersebar di wilayah Sumatra dan Kalimantan hanya dikenal sebagai satu spesies saja.  Sebelumnya, tahun 1827, Rene Lesson pernah mengusulkan, untuk melakukan  pemisahan spesies Orang utan di Kalimantan dan Sumatra.  Namun, sejak tahun 2001, orang utan sumatra (Pongo abelii) pun resmi diumumkan.

 

Orang utan di banyak tempat juga dikenal dengan nama mawas atau kera besar.  Ada pula yang menyebutnya gorila, merujuk pada jenis lain yang berkembang di Afrika.  Di interior pulau Sumatra dan Kalimantan, kedekatan spesies ini dengan manusia juga telah melahirkan berbagai cerita rakyat.  Kerap cerita-cerita itu berbau mistis, pelajaran hidup, bahkan bernada ejekan.

 

Sepanjang perjalanan pemisahaan Pongo pygmaeus dan Pongo abelii, riset-riset ilmiah terus berlangsung.  Riset mutakhir terhadap sebaran orang utan di selatan Danau Toba, membuktikan bahwa mereka lebih dekat dengan Pongo pygmaeus ketimbang Pongo abelii.  Dan pada akhirnya, di tahun 2017, orang utan punya kerabat spesies baru yang diberi nama Pongo tapanuliensis (Orang utan tapanuli).

 

Sebuah kisah yang menyedihkan  sekaligus penuh harap,  diunggah lewat laman orangutan.or.id, pada 15 Juni 2012. Mengisahkan bayi orang utan betina bernama Fajar, yang kala itu usianya belum genap satu tahun. Fajar terpisah dari induknya di Desa Unggan, Kecamatan Katingan, Kalimantan Tengah.  Pembukaan lahan untuk kepentingan perkebunan kelapa sawit memaksa Fajar berakhir hidup di pusat rehabilitasi Nyaru Menteng di Palangkaraya.  Entah bagaimana nasibnya kini.

 

Cerita dari lapangan menghimpun banyak sekali persoalan yang berkaitan dengan upaya perlindungan orang utan.  Tapi ancaman pembukaan lahan, perburuan dan lainnya telah membawa generasi baru orang utan hidup dalam situasi yang rumit.  Mereka bahkan banyak dikomersilkan sebagai model untuk sesi foto, yang sifatnya hanya memuaskan manusia. Bahkan tak jarang pula, mereka dikerangkeng lalu disodori makanan sehingga dipaksa bercerai dari sifat aslinya.

 

Kisah-kisah pilu lainnya terus bercokol di media.  Kampanye besar-besaran untuk segera menyelamatkan orang utan terjadi di jagat internasional.  Para praktisi konservasi, lembaga non pemerintah, bahkan International Union for Conservation of Nature (IUCN) menyuarakan pentingnya upaya  perlindungan untuk  orang utan.

 

Di 19 Agustus 2013, beberapa lembaga seperti Center for Orangutan Protection (COP), Sumatra Orangutan Society (SOS), The Orangutan Project (TOP), Orangutan Outreach, Humane Society International dan banyak lagi, mengumumkan Hari Orangutan Sedunia.  Sejak saat itu, tanggal 19 Agustus dipilh sebagai momentum yang terus bergelora guna menyuarakan proteksi untuk Fajar dan kerabat orang utan lainnya di seluruh dunia, termasuk habitat tempat tinggal mereka di ekosistem hutan hujan.

 

Beragam tiang sejarah telah terpancang.  Mulai dari Wallace, hingga penerusnya di berbagai organisasi konservasi.  Semuanya untuk kelangsungan hidup yang lebih baik, hidup yang selaras dengan alam, hidup yang bercermin pada daya dukung terhadap ekosistem, hidup yang bertumpu pada kepandaian manusia mengelola lingkungan dan sumber daya alamnya.

 

Lantas apa yang bisa dilakukan?

 

Tentunya, buku Wallace banyak dikoleksi oleh perpustakaan-perpustakaan besar.  Bahkan versi digitalnya juga sudah dapat dibaca lewat perpustakaan daring. Pertanyaannya, apakah Gen Z dan Generasi Millenial sudah membacanya? mungkin Generasi X yang memenuhi bumi pasca baby boomer pun banyak yang tak  tahu.

 

Peringatan 19 Agustus ini adalah waktu yang tepat untuk kembali membuka catatan lama.  Ini adalah waktu pengingat yang tepat, bahwa kita adalah manusia yang tidak mungkin hidup tanpa sejarah.  Karenanya, tulisan ini mestinya menjadi pengingat agar kita semua menilik lagi pengalaman para pendahulu. Pergilah, unduh catatan-catatan itu kembali, bacalah, gawai ada di tangan kalian.  Mari umumkan pada dunia, bahwa kalian sudah membacanya. Apa lagi media sosial adalah senjata kita di hari ini.

 

Love for Orang utan adalah tema yang diusung tahun ini secara global.  Love yang bukan hanya berarti suka dan cinta – lebih  dalam – love adalah kepedulian, kasih sayang, kehangatan, romantis dan kerinduan. Dari Sumatra Utara, para pegiat konservasi orang utan dan habitatnya, berfokus pada tema Love from Tapanuli.  Ini mengingatkan kita bahwa adik bungsu kerabat spesies ini sudah lahir di 2017 lalu.

 

Lantas apa yang dapat disumbangkan lewat tema yang dipilih tahun ini? Mungkinkah sebait dua bait puisi pertanda cinta? Puisi yang mengingatkan kita semua, bahwa kerabat spesies Si Fajar lebih baik tinggal di habitatnya, bahwa spesimen yang dikirim Wallace ke Liverpool, bukan hanya untuk pajangan tapi menjadi bahan pertimbangan kebijakan.

 

Dimana berpuisi? Tulisan ini tak kan lagi mengajarkan bagaimana cara mengunggah puisi cinta untuk Fajar di laman FaceBook, Twitter, Instagram, candaan ceria di Discord, bahkan mungkin dengan sedikit goyangan di TikTok.

Tentang Penulis
Syafrizaldi Jpang
Direktur Eksekutif Yayasan Orangutan Sumatra Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC)

Direktur Eksekutif Yayasan Orangutan Sumatra Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC)

Syarat dan ketentuan

  1. Memuat hanya topik terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup
  2. Panjang tulisan 5.000-6.000 karakter
  3. Tidak plagiat
  4. Tulisan belum pernah dimuat di media dan situs lain
  5. Mencantumkan nama, jabatan, dan organisasi
  6. Melampirkan foto diri dan biografi singkat
  7. Melampirkan foto pendukung (jika ada)
  8. Mengirimkan tulisan ke [email protected]
  9. Jika akan dimuat dimuat, pihak admin akan menghubungi penulis untuk menginformasikan tanggal pemuatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Opini
Terkait
Tidak ada opini yang ditemukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *