Eksplorasi Trip Dayeuh Luhur Sumedang: Potensi Primata Lokal yang perlu Dilestarikan

Aktivitas, Ekowisata, Satwa
Eksplorasi Trip Dayeuh Luhur Sumedang: Potensi Primata Lokal yang perlu Dilestarikan
30 Januari 2023
785

Setiap tanggal 30 Januari diperingati sebagai Hari Primata Indonesia. Pada peringatan Hari Primata tahun 2023, tema yang diambil adalah “Setiap Primata Itu Berarti”. Oleh karena itu,  perlu meningkatkan kesadaran pada masyarakat bahwa  semua jenis primata, baik yang dilindungi atau tidak dilindungi mempunyai arti penting dalam ekosistem sehingga perlu dijaga keberadaanya agar fungsi ekosistem suatu lingkungan berjalan dengan baik. Empat jenis primata (tiga diantaranya endemik Jawa) di luar kawasan konservasi yang berhasil ditemukan dalam kegiatan eksplorasi yang bersifat edukatif di Desa Dayeuh Luhur, Sumedang, Jawa Barat awal  Januari 2023 lalu, yaitu Trachypitecus mauritius (lutung Jawa), Presbytis Comata (surili) dan Nycticebus caucang (kukang jawa) serta Macaca fascicularis (monyet ekor panjang). Ke-empat jenis primata tersebut berstatus dilindungi dengan tingkat resiko kepunahan dari Vulnerable (VU) hingga Endangered (EN).

 

Eksplorasi dilakukan dengan tujuan pengenalan satwa primata dan juga berlatih cara pengambilan data pada pagi maupun malam hari serta melakukan evaluasi dan berbagi pengalaman mengenai hasil pengamatan di antara peserta setelah melakukan pengamatan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tingkat kepedulian dan pemahaman dari 52 peserta yang ikut dan memastikan informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik selama kegiatan berlangsung. Menariknya, banyak peserta yang belum pernah melakukan pengamatan langsung ataupun bertemu dengan satwa liar di habitat alaminya yang tidak selalu mudah untuk dijumpai. Mereka merasa terpana dan memberikan pertanyaan. Saat akan pengamatan malam pada hari terakhir, dengan kondisi cuaca kabut tebal dan kurangnya stamina, para peserta tetap bersemangat untuk melakukan pengamatan. Hal ini menjadi harapan besar dalam upaya pelestarian pada generasi muda yang berada di luar bidang biologi.

 

Banyak peserta memiliki ketertarikan pada Kukang yang merupakan salah satu jenis primata kecil dengan ukuran panjang kepala, 59,2 mm; panjang moncong 19,9 mm. Kukang merupakan satwa  nocturnal (aktif di malam hari), bersifat arboreal (hidup diatas pohon), bergerak perlahan di liana dan pemakan buah, telur, biji-bijian (Supriatna dan Wahyono, 2000). Kukang kadang dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional karena dianggap punya magis dan kuratif. Faktor-faktor ini penyebab penurunan populasi satwa tersebut di alam. Faktor lain, yaitu alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan pemukiman, sehingga banyak ditemukan Kukang mati karena tersengat listrik. Pergerakan kukang yang lamban dan membutuhkan tanaman merambat atau kanopi pohon yang berkesinambungan dengan tiang listrik menjadi penyebab kukang tersengat listrik.

 

Selain itu, banyak kukang diburu untuk menjadi hewan peliharaan jdi  saat pandemi covid 19 melanda dunia, khususnya di Indonesia (Kukangku.id). Minat masyarakat utk membeli bayi orangutan, kukang, Macaca atau jenis primata lainnya melalui media sosial saat pandemik covid 19 meningkat. Begitupun Surili dan Lutung, yang merupakan hewan pemakan utama daun, sangat berperan dalam ekosistem untuk membantu proses regenerasi hutan, mengalami perubahan populasi sejalan dengan alih fungsi lahan yang terjadi semakin marak akhir-akhir ini.

 

Oleh sebab itu, kegiatan eksplorasi, monitoring sebagai media edukasi dalam upaya penyelamatan penting dilakukan. Tiga Badan Semi Otonomi Fakultas Biologi Universitas Nasional yaitu Lutung "Forum Studi Primata", Kelompok Studi Herpetofauna 'Sahul' dan Biological Bird Club "Ardea" yang didukung oleh Biodiversity Warriors (BW) KEHATI, serta Pusat Riset Primata (PRP) Universitas Nasional  telah melaksanakan Trip Eksplorasi Biodiversity dengan diikuti oleh 52 peserta. Di antara peserta terdapat Wakil Kepala Sekolah SMA Dewi Sartika – Jakarta Selatan, Siswa/Siswi tingkat SMA, Mahasiswa FTKI & FISIP UNAS serta Alumni FISIP Universitas Brawijaya. Tujuan kegiatan ini, yaitu mengenalkan kepada generasi muda di luar lingkungan biologi akan pentingnya pelestarian satwa liar.

 

Potensi keberadaan primata dapat menjadikan kehidupan yang harmoni antara manusia dan primata jika kawasan dikelola dengan baik dan membuka peluang bagi masyarakat sebagai alternatif pendapatan, misalnya sebagai pemandu dan penyediaan penginapan. Masyarakat yang merasakan ada manfaat potensi primata di daerahnya tentu akan menjaga primatanya tetap lestari. Para peserta Trip Eksplorasi yang datang jauh dari Jakarta kelak akan dapat menjadi peduli karena telah mengenal dan memahami bahwa primata bermanfaat bagi ekosistem dan bermanfaat juga sebagai media pembelajaran.

Tentang Penulis
Fitriah Basalamah
Dosen Fakultas Biologi Universitas Nasional

Fakultas Biologi Universitas Nasional

Syarat dan ketentuan

  1. Memuat hanya topik terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup
  2. Panjang tulisan 5.000-6.000 karakter
  3. Tidak plagiat
  4. Tulisan belum pernah dimuat di media dan situs lain
  5. Mencantumkan nama, jabatan, dan organisasi
  6. Melampirkan foto diri dan biografi singkat
  7. Melampirkan foto pendukung (jika ada)
  8. Mengirimkan tulisan ke [email protected]
  9. Jika akan dimuat dimuat, pihak admin akan menghubungi penulis untuk menginformasikan tanggal pemuatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *