Bambu Ampel (Bambusa vulgaris), Bambu Paling Kosmopolitan di Indonesia

Flora, Kehutanan, Tumbuhan
Bambu Ampel (Bambusa vulgaris), Bambu Paling Kosmopolitan di Indonesia
26 November 2024
34
0

Bambu, anggota keluarga rumput-rumputan (Poaceae), dikenal sebagai salah satu tumbuhan paling cepat tumbuh di dunia. Buluhnya yang kuat dan berongga tetapi elastis membuatnya sangat berguna dalam berbagai bidang, terutama sebagai bahan konstruksi bangunan. Potensi bambu Indonesia sangat besar, baik untuk kepentingan ekonomi maupun konservasi. Di Indonesia, kekayaan jenis bambu sangatlah melimpah. Hingga tahun 2021, tercatat ada 175 jenis bambu yang tersebar di berbagai wilayah. Setiap jenis memiliki ciri khas, mulai dari ukuran, warna, hingga pola pertumbuhannya.

Kemampuan adaptasi bambu sangat tinggi, sehingga dapat ditemukan mulai dari daerah pantai hingga ketinggian 4300 m di atas permukaan laut. Di Indonesia, bambu ampel atau dalam bahasa Latin dikenal dengan Bambusa vulgaris adalah salah jenis bambu yang paling dikenal oleh masyarakat, sering dijumpai dan tumbuh tersebar luas (kosmopolitan). Di Indonesia, jenis ini hampir dijumpai di seluruh wilayah, terutama di Sumatra, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil (Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor), Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua. Selain di Indonesia, jenis ini juga tumbuh tersebar dari India, Tiongkok, Indocina, hingga Asia Tenggara dan diintroduksi di beberapa negara, seperti di Amerika dan Afrika. Bambu ampel di Indonesia biasanya ditanam oleh masyarakat di halaman rumah dan kebun, atau tumbuh meliar (ternaturalisasi) di sepanjang bantaran sungai, hutan, hutan bambu, dekat danau, atau pinggir jalan. Bambu ini dilaporkan dijumpai tumbuh pada ketinggian 7 hingga1400 m di atas permukaan laut di Indonesia. Bambu ampel sangat mudah tumbuh, bahkan dapat tumbuh di wilayah yang kering atau tergenang air selama beberapa bulan. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila bambu ini sering dijumpai tumbuh subur di bantaran sungai atau pinggir danau.

Sejatinya, bambu ampel jarang digunakan dalam konstruksi bangunan karena rentan diserang hama bubuk dan tidak selurus jenis bambu lainnya. Namun demikian, bambu ampel paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Hal ini terjadi diduga karena sifat bambu ampel yang kosmopolitan, dapat dijumpai dimana-mana. Buluh bambu ampel digunakan untuk bahan bangunan sementara atau bangunan yang tidak permanen (misalnya kandang ayam) jika tidak ada bambu lain yang dijumpai. Buluh bambu ampel sering dimanfaatkan menjadi bagian perahu seperti cadik, tiang dan kemudi, hingga sebagai penopang dan pagar serta menjadi bahan utama pembuatan kertas. Secara tradisional, buluh bambu ini digunakan dalam pembuatan sisir dan koteka. Rebung bambu ampel dapat dikonsumsi sebagai sayuran, sementara itu, air rebusan tunas muda bambu ampel berwarna kuning dipercaya bisa menyembuhkan penyakit kuning (hepatitis). Bambu ampel yang berwarna kuning dan beruas menggembung sering ditanam sebagai tanaman hias. Selain  itu, daun bambu ampel kadang dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Bambu ampel, secara morfologi, merupakan bambu merumpun dengan rebung berwarna hijau atau hijau kekuningan yang diselimuti miang berwarna cokelat tua hingga hitam. Buluh bambu ampel tumbuh tegak dan agak zig-zag pada bagian pangkal, berwarna hijau atau kuning bergaris-garis hijau dengan tinggi dapat mencapai 27 m, panjang ruas hingga 32 cm, diameter mecapai 10 cm, dan tebal dinding hingga 1,2 cm. Bambu ampel memiliki percabangan dengan satu cabang utama yang besar dan beberapa cabang yang lebih kecil di sekitarnya. Pelepah buluh bambu ampel diselimuti miang berwarna cokelat tua hingga hitam, memiliki kuping yang cukup besar dengan bulu kejur. Pelepah ini mudah luruh dari buluhnya sehingga bagian lantai sekitar rumpun bambu ini tumbuh akan dipenuhi oleh pelepah buluh yang berguguran. Helaian daun bambu ini berwarna hijau, sementara perbungaan bambu ampel jarang dijumpai, namun diketahui bunganya berupa bulir seperti bunga padi. Bulir bunga bambu ampel berwarna hijau kekuningan dengan kepala sari berwarna marun.

Bambusa vulgaris di Indonesia dilaporkan memiliki 3 varietas, yaitu B. vulgaris var. striata, B. vulgaris var. vulgaris, dan B. vulgaris var. wamin. Bambu ampel varietas striata dicirikan dengan ruas buluh yang cukup lurus (tidak menggembung) dan berwarna kuning kusam dengan corak garis-garis vertikal berwarna hijau sepanjang ruas. Sementara itu, bambu ampel varietas vulgaris dicirikan dengan ruas buluh yang cukup lurus (tidak menggembung) dan berwarna hijau mengkilap (tanpa corak garis-garis vertikal). Di sisi lain, bambu ampel varietas wamin dicirikan dengan ruas buluh menggembung dan berwarna hijau (tanpa corak garis-garis vertikal). Kendati demikian, beberapa ahli bambu memperlakukan variasi morfologi tersebut sebagai kultivar. Variasi yang terlihat pada bambu amepl diduga dipengaruhi oleh proses budidaya secara besar-besaran, mengingat bambu ini merupakan spesies yang tersebar luas di berbagai wilayah. Perlu diketahui bahwa varietas dan kultivar adalah dua istilah yang sering digunakan dalam dunia tumbuhan, khususnya dalam pertanian dan hortikultura. Varietas adalah kelompok tanaman dalam jenis atau spesies tertentu yang dapat dibedakan dari kelompok lain berdasarkan suatu sifat tertentu. Varietas berupa populasi dengan ciri morfologi yang jelas dan mempunyai daerah penyebaran lokal yang tegas. Variasi morfologi dalam varietas umumnya terjadi secara alami. Sementara itu, kultivar adalah varietas tanaman yang dibudidayakan yaitu kelompok tumbuhan yang diperoleh melalui seleksi buatan oleh manusia.

Perlu dicatat bahwa bambu dengan buluh berwarna hijau dapat terlihat menguning atau menjadi hijau kusam kekuningan jika terpapar matahari terik secara langsung dan terus menerus. Oleh karena itu, perlu kehati-hatian dalam menentukan warna buluh bambu akibat adanya pengaruh lingkungan. Selain itu, variasi ruas buluh yang menggembung pada bambu ampel varietas wamin dapat menghilang dan menjadi lurus saat ditanam di tanah yang subur. Buluh menggembung pada bambu ampel varietas wamin biasanya terjadi karena bambu tersebut ditanam di area yang tidak subur, tanah kering atau ditanam pada pot yang terbatas unsur haranya.

Bambu ampel dengan variasi buluh berwarna kuning bergaris hijau dan tidak menggembung (Foto: I Putu Gede P. Damayanto)

 

Bambu ampel dengan variasi buluh berwarna hijau mengkilap dan tidak menggembung (Foto: I Putu Gede P. Damayanto)

 

Bambu ampel dengan variasi buluh menggembung (Foto: I Putu Gede P. Damayanto)

 

Bambu, Hari Bambu Nasional
Tentang Penulis
I Putu Gede P. Damayanto
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, BRIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *