Kategori: Perubahan Iklim

PNBP Pascaproduksi: Efektif atau Kontradiktif?

Ditetapkannya Permen KP No. 2 Tahun 2023 pada bulan Januari tahun 2023 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pengenaan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang Berasal dari Pemanfaatan Sumber Daya Alam Perikanan, memiliki kesesuai dengan prinsip ekonomi biru (blue economy) yang bertujuan agar sumber daya ikan dan ekosistem laut PNBP Pascaproduksi: Efektif atau Kontradiktif?

Menggali Kekayaan Serelia di NTT

Dalam sidang ke-75 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan tahun 2023 sebagai International Years of Millet (IYM2023). Milet mendapatkan perhatian yang cukup besar karena disebut sebagai ‘tanaman masa depan’. Tanaman milet dapat beradaptasi dengan lahan kering dan dapat tumbuh dalam kondisi yang sangat sulit. Selain itu, milet merupakan pangan bebas gluten dengan Menggali Kekayaan Serelia di NTT

Mengukir Masa Depan Hijau

Di tengah riuhnya kemajuan zaman, ada benang merah yang menghubungkan tiga elemen yang pada pandangan awal mungkin tidak tampak terkait: lapisan ozon, biodiversitas (keanekaragaman hayati), dan semangat generasi muda.   Pada kanopi biru yang membentang di atas Bumi, ada penjaga tak kasat mata yang memberikan perlindungan dari ancaman yang juga tak nampak. Lapisan ozon di Mengukir Masa Depan Hijau

Konsep 5S+1D (Sadari, Sukai, Siapkan, Simpan, Salurkan, dan Daur Ulang): Upaya Efektif Reduksi Sampah Makanan Pada Tahap Konsumsi di Indonesia

Tahap konsumsi menjadi penyumbang paling tinggi angka timbulan sampah dan emisi gas rumah kaca (GRK) pada lingkup food loss dan waste (FLW) di Indonesia. Berdasarkan data Sistem Pengelolaan Sampah Nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 40,8% sampah makanan dihasilkan oleh masyarakat Indonesia di tahun 2022. Timbulan sampah ini juga memiliki keterkaitan dengan perubahan iklim dan Konsep 5S+1D (Sadari, Sukai, Siapkan, Simpan, Salurkan, dan Daur Ulang): Upaya Efektif Reduksi Sampah Makanan Pada Tahap Konsumsi di Indonesia

Sorgum: Kunci Ketahanan Pangan NTT

Bicara tentang isu ketahanan pangan tidak terlepas dari konsep keberagaman pangan. Demi tercapainya ketahanan pangan yang ideal, kita mesti memiliki ketersediaan pangan yang beragam. Dengan demikian, jika satu jenis pangan mengalami krisis atau langka, masih ada yang lainnya sebagai pengganti.   Dalam situs web wri-indonesia.org,  disebutkan bahwa Indonesia memiliki 77 jenis tanaman pangan sumber karbohidrat. Sorgum: Kunci Ketahanan Pangan NTT

Sorgum Mutiara Darat NTT

Sorgum (Sorghum bicolor Moench) merupakan pangan lokal jenis serealia. Sorgum amat adaptatif sehingga bisa bertumbuh di lahan marginal/berbatu, wilayah panas ekstrem, dan rendah curah hujan.   NTT merupakan provinsi dengan kemarau yang panjang setiap tahunnya. Karena itu, sorgum menjadi kunci pertanian ladang kering. Selain hemat dalam kebutuhan air sorgum juga lebih tahan serangan hama.   Sorgum Mutiara Darat NTT

Meningkatkan Ketahanan Pangan Lokal di Era Perubahan Iklim Melalui Konsumsi “Ugly Food”

  Perubahan iklim telah memunculkan tantangan serius bagi keberlanjutan dan ketahanan pangan global. Di tengah perubahan cuaca yang tidak stabil, penting bagi suatu negara seperti Indonesia yang memiliki sumber daya alam dan pertanian yang kaya, untuk mengembangkan solusi inovatif guna memastikan ketersediaan pangan yang cukup dan berkelanjutan. Salah satu solusi menarik yang dapat adalah meningkatkan Meningkatkan Ketahanan Pangan Lokal di Era Perubahan Iklim Melalui Konsumsi “Ugly Food”

Pangan Lokal, Ketahanan Pangan, dan Perubahan Iklim: Menjaga Keseimbangan Kehidupan

Pangan telah menjadi fokus perhatian global dalam beberapa tahun terakhir, terutama ketika perubahan iklim semakin nyata. Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, pangan lokal dan ketahanan pangan menjadi elemen utama dalam memastikan keberlanjutan dan kestabilan sistem pangan global. Pada akhirnya, hubungan yang rumit antara pangan lokal, ketahanan pangan, dan perubahan iklim memiliki dampak yang Pangan Lokal, Ketahanan Pangan, dan Perubahan Iklim: Menjaga Keseimbangan Kehidupan

Pekasem dan Kerupuk yang Menjaga Sawah dan Sungai

ENO, berjalan tergesa-gesa, sehingga kakinya tersandung sebuah batu yang mengakibatkan tali salah satu sandal jepit yang dikenakannya putus. Dia bangkit dan meninggalkan sepasang sandal jepitnya, sambil memanggul jaring ikan yang kami beli, menghampiri saya yang menunggu di tepi sebuah anak Sungai Ogan, yang airnya meluap.   Siang itu, kami memasang jaring yang panjangnya tiga meter Pekasem dan Kerupuk yang Menjaga Sawah dan Sungai