TWA Kerandangan: Potensi Pengembangan Ekowisata Herpetofauna Berbasis Konservasi

Aktivitas, Ekowisata, Flora, Kehutanan, Satwa, Urban Biodiversity
TWA Kerandangan: Potensi Pengembangan Ekowisata Herpetofauna Berbasis Konservasi
12 January 2026
24
2

Wahyudi Amin (Staff BKSDA NTB, TWA Kerandangan) Dok. Pribadi

Gerlach Uwe (Peneliti Herpetologi Jerman) Dok. Pribadi.

Taman Wisata Alam Kerandangan memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata herpetofauna karena kawasan ini menyimpan keanekaragaman reptil dan amfibi yang cukup tinggi dalam bentang hutan tropis yang relatif masih terjaga. Keberadaan berbagai jenis ular, kadal, dan amfibi menunjukkan bahwa ekosistem di Kerandangan masih mampu menyediakan habitat, sumber pakan, dan ruang hidup yang memadai bagi kelompok satwa yang sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Secara ekologis, herpetofauna memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Ular, khususnya, berfungsi sebagai predator alami yang mengendalikan populasi hewan kecil seperti tikus dan katak. Di TWA Kerandangan, tercatat sekitar 11 spesies ular yang hidup secara alami, baik yang berbisa maupun tidak berbisa, sehingga kawasan ini sangat potensial dijadikan lokasi edukasi tentang peran ekologis ular dan pentingnya keberadaan mereka dalam rantai makanan.

Keunggulan lain dari TWA Kerandangan adalah keberadaan berbagai mikrohabitat dalam satu kawasan yang tidak terlalu luas. Hutan lembap, aliran sungai, serasah daun, semak belukar, serta area berbatu menciptakan kondisi ideal bagi herpetofauna untuk berkembang. Kondisi ini memungkinkan kegiatan pengamatan satwa dilakukan secara efektif dan terkontrol, tanpa harus membuka area baru atau mengganggu struktur hutan secara signifikan.

Dari sisi pariwisata, letak TWA Kerandangan yang berdekatan dengan kawasan wisata Senggigi menjadikannya sangat strategis untuk pengembangan wisata minat khusus. Wisata herpetofauna dapat dikemas dalam bentuk kegiatan jelajah alam, pengamatan malam hari (night walk), serta fotografi satwa liar yang menargetkan wisatawan pecinta alam, peneliti, dan pelajar, tanpa harus bersaing langsung dengan wisata massal.

Galang (Reptile enthusiast ) Dok. Pribadi.

Pengembangan ekowisata herpetofauna di Kerandangan juga memiliki nilai edukasi yang kuat, terutama dalam mengubah persepsi negatif masyarakat terhadap ular dan reptil lainnya. Melalui interpretasi lingkungan yang tepat, pengunjung dapat memahami bahwa sebagian besar ular tidak agresif terhadap manusia dan justru berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan.

Keterlibatan masyarakat lokal menjadi faktor penting dalam keberhasilan pengembangan ekowisata ini. Dengan pelatihan pemandu lokal yang memiliki pengetahuan dasar tentang herpetofauna, masyarakat sekitar dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian satwa dan habitatnya. Pendekatan ini mendorong terciptanya hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam.

dr. Lalu Febryan Cipta Amali (Dokumentasi Pribadi)

Dari perspektif konservasi, ekowisata herpetofauna dapat berfungsi sebagai bentuk perlindungan tidak langsung bagi reptil dan amfibi di TWA Kerandangan. Ketika satwa-satwa tersebut memiliki nilai edukatif dan wisata, tindakan perusakan habitat, perburuan, dan pembunuhan akibat rasa takut atau salah paham dapat ditekan secara signifikan.

TWA Kerandangan juga berpotensi menjadi lokasi penelitian dan pemantauan herpetofauna yang terintegrasi dengan aktivitas wisata terbatas. Kolaborasi antara pengelola kawasan, akademisi, komunitas pecinta reptil, dan pelaku wisata dapat menghasilkan data ilmiah yang berguna bagi konservasi sekaligus memperkaya pengalaman wisata berbasis pengetahuan.

Pengembangan ekowisata herpetofauna di kawasan ini perlu dilakukan dengan menerapkan prinsip pariwisata berkelanjutan, seperti pembatasan jumlah pengunjung, penetapan jalur pengamatan khusus, serta penerapan kode etik interaksi dengan satwa liar. Langkah-langkah ini penting untuk memastikan bahwa kegiatan wisata tidak mengganggu perilaku alami herpetofauna dan tidak menurunkan kualitas habitat.

Dengan perencanaan dan pengelolaan yang tepat, TWA Kerandangan berpotensi menjadi contoh pengembangan ekowisata herpetofauna di Nusa Tenggara Barat yang mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Kawasan ini dapat menunjukkan bahwa perlindungan reptil, termasuk ular yang sering disalahpahami, dapat berjalan seiring dengan pengembangan wisata alam yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

#herpetofauna, #lombok, herpetology, lesser sunda
Tentang Penulis
Tizar Gusli
Universitas Airlangga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2026-01-12
Difference:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *