Pagi itu, embun masih menempel di ujung-ujung daun hutan Sulawesi. Udara lembap, harum tanah basah, dan cahaya matahari pertama menembus sela pepohonan, menciptakan kilau keemasan di antara kabut tipis. Aku berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam — lalu mataku menangkap sesuatu yang membuat waktu seolah berhenti.
Seekor kupu-kupu melintas perlahan, begitu tenang dan anggun. Dari kejauhan, ia tampak hitam. Tapi ketika sayapnya terbuka, cahaya menari di atas sisiknya, memantulkan warna hijau kebiruan yang berpendar seperti batu zamrud di bawah sinar pagi. Kini, ia benar-benar ada di hadapanku.
Aku terdiam, terpukau. Setiap kepakan sayapnya tampak seperti sihir optik, mengubah arah warna dengan lembut, dari hijau menjadi biru, lalu kembali ke hitam berkilau biru kehijauan. Keindahan itu bukan hasil pigmen, melainkan permainan cahaya dari struktur mikroskopis pada sisik sayapnya (Lepis) — seolah seperti sihir yang begitu mempesona.
Kupu-kupu itu melayang di atas bunga liar, menyentuh kelopak dan daun dengan hati-hati. Begitu ringan, seolah tak membebani udara. Sampai ia turun ke lantai hutan untuk menghisap mineral dari sisa-sisa hujan yang ada. Aku hanya bisa mengamati dalam diam dan mencoba memotretnya, merasa kecil di hadapan ciptaan alam yang begitu sempurna. Sulawesi, dengan segala misteri dan keunikannya, telah memelihara permata hidup ini selama jutaan tahun.
Ketika ia akhirnya terbang menjauh, menghilang di antara pepohonan, yang tersisa hanya jejak rasa kagum — dan kesadaran bahwa keindahan alam seperti ini rapuh, mudah hilang jika tidak dijaga. Di saat itu aku berjanji, akan selalu menuliskan kisahnya, agar dunia tahu bahwa di tengah hutan tropis Sulawesi, masih ada keajaiban yang bernapas, mengepak, dan bersinar hijau di bawah cahaya matahari.
Kupu-kupu itu bernama Papilio blumei, kupu-kupu endemik Sulawesi yang dijuluki The Green Swallowtail atau Emerald Peacock.

Papilio blumei (Boisduval,1836)
Keindahan kupu-kupu ini bukan sekadar permainan warna alami. Kilau hijau metalik pada sayapnya bukan berasal dari pigmen, melainkan dari struktur mikroskopis sisik sayap yang memantulkan dan membelokkan cahaya, menciptakan efek iridesensi. Fenomena ini bahkan telah menginspirasi para ilmuwan untuk mengembangkan teknologi optik anti-pemalsuan dan bahan reflektif hemat energi — meniru cara alam menciptakan warna tanpa tinta.
Sebagai penghuni hutan tropis, Papilio blumei memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Ia membantu penyerbukan berbagai tumbuhan hutan, sementara larvanya bergantung pada daun Euodia famili Rutaceae — kelompok tumbuhan yang juga menjadi nenek moyang jeruk. Namun, keindahannya yang luar biasa membuat kupu-kupu ini kerap diburu kolektor dan pedagang satwa eksotis, menyebabkan populasinya menurun di beberapa wilayah.
Kini, Papilio blumei dilindungi oleh peraturan internasional melalui CITES Appendix II, yang melarang perdagangan tanpa izin resmi. Upaya konservasi lokal di Sulawesi terus dilakukan, mulai dari perlindungan habitat hutan hingga edukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
Melihat Papilio blumei di alam liar bukan sekadar pengalaman visual — ini adalah pertemuan dengan keajaiban evolusi. Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap kepakan sayap mungil, tersimpan rahasia besar tentang bagaimana alam menciptakan keindahan, ketahanan, dan harmoni.
Lestari selalu keanekaragaman hayati Indonesiaku — Tolong biarkan mereka hidup dialam sebagaimana mestinya. Salam Lestari, Salam Konservasi, Kupu-kupu tetap dihati.
Komentar (1)
Leave a Reply
Terkait
Keren artikelnya, pengalaman yg luar biasa bisa berjumpa dengan blumei di habitatnya.