Artikel
Aktivitas, Kehutanan, Urban Biodiversity

Sawala Leuweung: Belajar Konservasi di Lanskap Halimun Salak

Di tengah tekanan terhadap kawasan hutan di Pulau Jawa, upaya menjaga keberlanjutan ekosistem tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan perlindungan kawasan. Peran masyarakat Desa penyangga menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan. Dalam konteks inilah kegiatan Sawala Leuweung yang dalam praktiknya banyak melibatkan generasi muda yang berada di Kecamatan Kabandungan dan Kalapanunggal hadir sebagai ruang belajar lapangan yang mencoba membaca ulang relasi antara hutan, pertanian, dan kehidupan masyarakat di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS).

Kegiatan ini dilaksanakan secara berseri sejak September 2025 hingga Januari 2026 di sejumlah Desa penyangga, mulai dari Desa Pulosari, Mekarjaya, Cipeuteuy, hingga Cianaga. Melalui pendekatan observasi lapangan, diskusi, dan pendataan langsung di kawasan garapan kelompok tani hutan, kegiatan ini berupaya membangun pemahaman berbasis data mengenai kondisi sosial-ekologis lanskap Halimun Salak.

Membuka Kesadaran tentang Ekosistem Hutan

Pada tahap awal kegiatan Sawala Leuweung dilaksanakan di Kampung Sukagalih Desa Cipeuteuy, kegiatan difokuskan pada pengenalan keanekaragaman hayati serta pentingnya spesies kunci di ekosistem Halimun Salak. Salah satu yang dibahas adalah Owa Jawa (Hylobates moloch), primata endemik yang kini berstatus terancam punah akibat penyusutan habitat dan perburuan. Pembahasan mengenai spesies ini menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa kerusakan hutan tidak hanya berdampak pada satwa, tetapi juga pada stabilitas ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat Desa.

Selain satwa liar, peserta juga dikenalkan dengan berbagai tumbuhan herbal yang tumbuh alami di sekitar kawasan hutan, seperti sembung, kumis kucing, pegagan, temulawak, hingga kayu manis. Pengetahuan ini menunjukkan bahwa hutan tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan dan potensi ekonomi bagi masyarakat desa penyangga.

Menghubungkan Konservasi dengan Kearifan Lokal

Kegiatan Sawala Leuweung Seri 2 di Desa Pulosari memperluas diskusi dengan memasukkan perspektif budaya lokal. Salah satu konsep yang dibahas adalah Patanjala, sistem pengetahuan Sunda tentang pengelolaan daerah aliran sungai yang tercatat dalam Naskah Amanat Galunggung. Dalam konsep ini, hutan dibagi menjadi tiga zona ekologis—leuweung kolot, leuweung tutupan, dan leuweung baladahan—yang masing-masing memiliki fungsi perlindungan berbeda.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa gagasan konservasi sebenarnya bukan sesuatu yang baru bagi masyarakat lokal. Nilai-nilai menjaga keseimbangan alam telah lama hidup dalam tradisi masyarakat, hanya saja sering terpinggirkan oleh perubahan pola pemanfaatan lahan dan tekanan ekonomi modern.

Membaca Data dari Kawasan Garapan Petani

Pada seri-seri berikutnya di Desa Mekarjaya, Cipeuteuy, dan Cianaga, kegiatan difokuskan pada pengumpulan data lapangan di kawasan garapan kelompok tani hutan. Peserta melakukan wawancara dengan petani serta observasi langsung terhadap kondisi lahan untuk mencatat berbagai aspek sosial-ekologis, seperti luas lahan garapan, jenis komoditas, vegetasi, tumbuhan herbal, keberadaan satwa liar, kondisi tanah, serta ketersediaan sumber air.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa lanskap desa penyangga TNGHS tidak bisa dipahami hanya dari peta kawasan konservasi. Di lapangan, hutan, kebun, dan lahan pertanian saling berkelindan membentuk satu sistem ekologi yang kompleks.

Mengungkap Kekayaan Biodiversitas Halimun Salak

Selama kegiatan Monitoring Camp Sawala Leuweung, peserta juga berhasil mendokumentasikan berbagai spesies flora dan fauna yang hidup di kawasan penyangga. Beberapa jenis yang teridentifikasi antara lain ular bandotan pohon (Craspedocephalus puniceus), katak percil Jawa (Microhyla achatina), bunglon hutan (Gonocephalus chamaeleontinus), hingga sejumlah primata seperti Lutung Jawa, Surili, dan Owa Jawa.

Selain itu, keberadaan satwa besar seperti Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) dan berbagai jenis elang menunjukkan bahwa lanskap Halimun Salak masih menyimpan nilai ekologis yang sangat penting bagi konservasi keanekaragaman hayati di Pulau Jawa.

Konservasi Harus Dimulai dari Desa

Rangkaian Sawala Leuweung Seri 1 hingga Seri 5 menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya soal menjaga kawasan hutan, tetapi juga memahami dinamika kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Desa-desa seperti Cipeuteuy, Mekarjaya, Cianaga, dan Pulosari bukan sekadar batas administratif di pinggir Taman Nasional, melainkan bagian dari lanskap ekologis yang turut menentukan masa depan hutan Halimun Salak.

Dengan pendekatan pembelajaran lapangan, dokumentasi data, dan dialog antar komunitas/kelompok, Sawala Leuweung mencoba membangun kesadaran baru bahwa menjaga hutan bukan hanya tugas negara atau lembaga konservasi. Masa depan Halimun Salak sangat bergantung pada sejauh mana masyarakat desa penyangga mampu mengelola lahan, menjaga sumber air, dan merawat keanekaragaman hayati yang hidup di sekitar mereka.