Penelitian Studi Habitat Ikan Semah

Artikel
Penelitian Studi Habitat Ikan Semah
Aktivitas
47
11 September 2021
Universitas Tanjungpura
Penulis
Fjjdelva
1
posting

Ikan semah putih Tor. Tambroides

Mapala Untan Dan BW Kehati Untan Melakukan penelitian studi habitat ikan semah di sub DAS Embaloh Desa Menua Sadap,kecamatan Embaloh Hulu,Kapuas Hulu Kalimantan Barat Pada tanggal 5 sampai 9 juli 2021,Penelitian Ini didukung oleh Yayasan KEHATI.

Kegiatan ini dilakukan oleh Tim Ekspedisi Gunung Betung Mapala Untan  yang beranggotakan 7 orang antara lain:Jordi,Nurul,Delva,Tari,Ilham,Valen dan Verin.Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi habitat ikan semah agar bisa dibudidayakan di luar habitat aslinya.
Dalam penelitian ini ada 3 stasiun yang di ambil untuk dijadikan sampel tempat habitat ikan semah yang di ketahui berdasarkan hasil wawancara dari para nelayan yang sering menangkap ikan di daerah tersebut.Kami melakukan pengukuran lebar sungai,kedalaman sungai,suhu air dan udara,ph air,kecerahan air serta kecepatan arus sungai.

Ikan arus deras seperti ikan semah mempunyai karakter tersendiri untuk dapat hidup di habitatnya. Beberapa karakter fisik dan suhu dari habitat ikan semah yang di ukur di Sub-DAS Embaloh terlihat, ada dua karakteristik pada hasil yang kami dapatkan di kondisi air jernih dan kondisi air keruh. Habitat di Sub-Das Embalohmemiliki karakter lingkungan yang cukupberagam. Faktor fisika yang berbeda pada tiapstasiun adalah arus dan kecerahan.Kecepatanarus tertinggi terdapat pada stasiun 3 (0,203 – 1.53 m/s) dan terendah pada stasiun 2 (0,19 – 2,234 m/s). Kecerahan tertinggi terdapat pada stasiun 1 (563 – 259 cm) dan terendah pada stasiun 2 (324 – 153 c m). Suhu air sedikit lebihtinggi di stasiun 1 (24-26 ℃), Stasiun 2 dan 3 memiliki suhu yang sama (24-25℃). SuhuUdara Stasiun 1 dan 2 memiliki suhu yang sama(24-27℃), suhu udara di stasiun 3 sedikit lebihrendah (24-26℃). Memiliki lebar sungai yang beragam untuk stasiun yang paling lebar yaitustasiun 1 (44,7-58,71) dan Paling kecil stasiun 2 (41,69 – 47,57).

Pada hari pertama penelitian cuaca dalam keadaan cerah kondisi air pada saat penelitian tidak dalam keadaan pasang sehingga kondisi air jernih. Hari kedua cuaca dalam keadaan mendung dan hujan gerimis, kondisi air masih dalam keadaan jernih masih belum terpengaruh oleh keadaan cuaca. Habitat di Sub-Das Embaloh memiliki karakter lingkungan yang cukup beragam. Faktor fisika yang berbeda pada tiap stasiun adalah arus dan kecerahan. Kecepatan arus tertinggi dan terendah terdapat pada stasiun 1 (0,15 – 2,36 m/s) . Kecerahan tertinggi terdapat pada stasiun 1 (33 – 79,2 cm) dan terendah pada stasiun 3 ( 29,3 – 69 cm). Suhu air di stasiun 2 dan 3 (24 ℃), Stasiun 1 memiliki suhu (23 – 24℃). Suhu Udara paling tinggi di stasiun 3 (24 – 25℃) dan suhu udara paling rendah di stasiun 1 (22-23℃). Memiliki lebar sungai yang beragam untuk stasiun yang paling lebar yaitu stasiun 1 (44,7-58,71) dan paling kecil stasiun 2 (41,69 – 47,57).

Penelitian yang dilakukan di Sub-DAS Embalohmemiliki beberapa kawasan salah satunnya bernamariak tapang yang merupakan stasiun penelitian paling hilir dari daerah penelitian. Stasiun 1 dibagi menjadi3 yaitu titik awal (49 N 0664903 01533680, titiktengah (49 N 0665633 0153472), titik akhir (49 N 0666175 0153497) dalam ketiga titik ini memilikilebar sungai yang berbeda yaitu 58,71 m pada stasiun1 awal dan stasiun 1 tengah memiliki ukuran yaitu44,7 M sedangkan pada stasiun 1 akhir memilikilebar 56 m. kecepatan arus pada setiap stasiunmemiliki nilai yang relatitif yaitu menyesuaikandengan kondisi cuaca jika cuaca habis hujan makakecepatan air akan meningkat, pada saat kami melaksanakan pengambilan data terdapat range angka kecepatan yang 0,19-2,34 m/s pada kondisisebelum hujan sedangkan setelah hujan didapat hasil0,15-2,36 m/s. Kedalaman air pada stasiun ini juga pada umumnya berbeda yaitu dari kedalamanpinggiran 28 cm-351 cm dan kedalaman tengah yaitu163,5 cm-559 cm. Bentang alam pada stasiun 1 berdasar bebatuan, dan memiliki tutupan kanopi yang sedikit terbuka dari pinggiran, didominasi oleh tumbuhan tengkawang yang merupakan jenis daripohon meranti-merantian serta beberapa rumput liar. Pinggiran sungai terdapat bebatuan serta tumpukankayu yang diduga menjadi tempat untuk ikanbersembunyi.

Stasiun 2 berbeda kawasan dari stasiun 1, Kawasan stasiun 2 berhadapan langsung dengan sungaisenentang. Stasiun dibagi menjadi 3 titik yaitu awal(49 N 0667272 015750) tengah (49 N 0668220 0153796) dan akhir (49 N 0668707 0153994) masihdi Sub-DAS Embaloh memiliki kondisi sungaipinggiran terdapat beberapa batang kayu yang telahjatuh dan bertumpuk menjadi kesatuan yang nantinyajika air pasang akan menjadi salah satu tempattinggal untuk ikan-ikan yang ada di sungai tersebut.

Stasiun 2 memiliki lebar terkecil 41,69 metersedangkan lebar terbesar yaitu 47,57meter sedangkanuntuk kedalam memiliki kedalaman paling dangkal17 cm terdapat pada stasiun 2 awal dan titik yang paling dalam 341 cm terdapat pada stasiun 2 tengah. Memiliki kecepatan arus paling lama 0,19-2,34 m/s. Pinggiran sungai juga terdapat beberapa tumbuhansalah satunya meranti yang berfungsi salah satupakan dari ikan semah serta bebarapa lumut yang telah tumbuh pada akar-akar kayu. Tepi sungai masihterlihat karangan pasir yang berwarna kuning kecoklatan dan ini juga bisa dijadikan tempat untukikan semah menyimpan telur pada proses pemijahan. Memiliki tutupan konopi sedikit terbuka yang dapatdilihat dari pinggiran sungai kepinggiran sungailainnya. Memiliki dasaran bebatuan serta lubukuntuk kediaman ikan-ikan yang ada di DAS Embaloh. Lubuk yang ada di titik ini juga berupacelah-celah yang tersusun baik dari batu maupunkayu.

Stasiun 3 juga dibagi menjadi tiga bagian yaitustasiun 3 awal (49 N 0670955 054499), stasiun 3 tengah (49 N 0971319 054659), Stasiun 3 akhir (49 N 0671832 0154677) serta dalam ketiga titik inimemiliki lebar sungai yang berbeda yaitu pada stasiun 3 awal dan stasiun 3 tengah memiliki ukuranyang sama yaitu 43 m sedangkan pada stasiun 3 akhirmemiliki lebar 45,44 m. kecepatan arus pada setiapstasiun memiliki nilai yang relatitif yaitumenyesuaikan dengan kondisi cuaca jika cuaca habishujan maka kecepatan air akan meningkat, pada saatkami melaksanakan pengambilan data terdapat range angka kecepatan yang terkecil 0,45 m/s yang didapatdititik awal sedangkan yang tercepat yaitu 1,375 m/s yang didapat pada titik tengah. Kedalaman air pada stasiun ini juga pada umumnya berbeda yaitu darikedalaman pinggiran dimulai dari 58 cm- 291,4 cm dan kedalaman tengah yaitu 217 cm-374 cm. kerindangan pohon yang sangat lebat sehinggamemiliki tutupan kanopi yang lumayan rapat dilihatdari pinggiran sungai ke pinggiran sungai lainnya. Sedikit berbeda dari stasiun sebelumnya, titik inimemiliki pinggiran bebatuan tebing yang diukur daripermukaan sungai kurang lebih 3 meteran, sertabeberapa tumpukan kayu yang telah jatuh yang bisadijadikan tempat untuk ikan bersembunyi jikakondisi air pasang. Tumbuh beberapa lumut di bebatuan serta tumbuhan sejenis rumput yang juga tumbuh di dasaran pasir yang ada dipinggiran. Dasaran sungai berupa pasir serta bebatuan dengansegala ukuran,memiliki transparansi yang relatifmenyesuaikan dengan kondisi cuaca. Dasaranpinggiran berupa pasir halus yang berwarna kuningkecoklatan serta ada beberapa bebatuan kecil.

Karakteristik habitat kondisi faktor lingkungan ikansemah di Sub-DAS Embaloh yaitu kedalaman 647 – 13,4 cm, kecerahan air dari 29,3 – dasar, kecepatanarus 0,19 – 2,36 m/s, suhu air 24-26℃, suhu udara24-27℃, lebar sungai 41,69 – 58,71 m.

Karakterisitik bentang alam dari habitat ikan semahmemiliki kenampakan didominasi oleh pepohoantengkawang dan meranti dengan tutupan kanopicenderung terbuka,Sub-Das embaloh sungai air yang jernih berdasar sungai bebatuan.

 

 

1
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *