Monyet Endemik di Kebun Kopi dan Ancamannya

Aktivitas, Satwa
Monyet Endemik di Kebun Kopi dan Ancamannya
27 April 2021
1768

Indonesia merupakan negara dengan jumlah spesies Macaca terbanyak di Asia. Terdapat sebanyak 12 spesies Macaca yang tersebar di Indonesia, 8 diantaranya merupakan spesies endemik di Pulau Sulawesi. Macaca hecki dan Macaca tonkeana  merupakan dua dari delapan spesies monyet endemik  yang  bisa dijumpai di Sulawesi bagian tengah. Salah satunya yaitu, di sepanjang jalan trans Sulawesi Nupa Bomba – Toboli Barat.

 

Jalan Trans Sulawesi Nupa Bomba – Toboli Barat lebih dikenal dengan sebutan “Kebun Kopi” oleh masyarakat Sulawesi Tengah. Lokasi ini berjarak kurang lebih 40 menit dari Kota Palu. Istilah Kebun Kopi berasal dari salah satu nama Dusun di Desa Nupa Bomba, yaitu Dusun V. Secara administrasi jalan ini terletak di dua Desa (Desa Nupa Bomba dan Desa Toboli Barat), dua Kabupaten (Kabupaten Donggala dan Kabupaten Parigi Moutong) dan dua kawasan konservasi (Hutan Lindung Kebun Kopi dan Cagar Alam Pangi Binangga).

 

Kebun Kopi merupakan area percampuran antara M. hecki  dan M. tonkeana. Hal ini menjadi salah satu ancaman penyebab semakin berkurangnya jumlah populasi M. hecki  dan M. tonkeana di alam. Terjadinya perkawinan silang antara keduanya menghasilkan keturunan  (hybrid) yang memiliki morfologi yang mirip keduanya dan bersifat steril (mandul). Kebun Kopi merupakan daerah jelajah (home range) dari monyet endemik Sulawesi, yaitu Macaca hecki  dan Macaca tonkeana. Kedua monyet tersebut merupakan satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia sebagaimana tertuang dalam Permen LHK No.P.106/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Berdasarkan IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) red list tahun 2017, status konservasi M. hecki dan M. tonkeana masuk dalam kategori rentan (Vulnerable). Status konservasi rentan yang diberikan menunjukan bahwa jenis monyet tersebut sedang menghadapi resiko kepunahan di alam liar pada waktu yang akan datang. Sedangkan menurut CITES (Convertion On International Trade In Endangered Spesies Of Wild Fauna and Flora) M. hecki dan M. tonkeana masuk dalam daftar Appendix II.

 

Status konservasi M. hecki dan M. tonkeana (Sumber: IUCN Red List).

 

Jika melintasi kawasan Kebun Kopi pada waktu pagi dan sore hari, sering dijumpai sekelompok monyet yang turun melintas dan mencari makan di sepanjang sisi jalan trans Kebun Kopi. Hasil pengamatan yang dilakukan oleh tim Macaca Rangers terdapat tiga jenis tumbuhan yang berhasil diindentifikasi menjadi sumber makanan dari M. hecki  dan M. tonkeana  di Kebun Kopi yaitu, kersen (Muntingia calabura), beringin (Ficus virens ), dan Neonauclea sp. Bagian tumbuhan yang di makan adalah buah yang sudah matang untuk kersen dan beringin, sedangkan pada Neonauclea sp. bagian tumbuhan yang dimakan adalah kulit batang yang muda.

Tumbuhan pakan monyet endemik di Kebun Kopi. Foto oleh Nur Herjayanti.

 

Selain mencari makan, terlihat juga beberapa aktivitas lainnya seperti menelisik (grooming). Perilaku grooming merupakan kegiatan mencari dan mengambil kotoran atau parasit yang menempel dipermukaan kulit dan rambut. Kegiatan ini biasanya dilakukan setelah makan atau istirahat. Perilaku grooming kadangkala dilakukan secara sendiri (autogrooming) namun lebih sering dilakukan secara berpasangan (allogrooming), tujuannya untuk mempererat ikatan sosial dalam kelompok.

 

Perilaku allogrooming pada monyet di Kebun Kopi. Foto oleh Nur Herjayanti.

 

Monyet merupakan primata yang mudah terhabitusai. Interaksi yang terjadi secara berulang pada Macaca dapat mengurangi ketakutan dan menyebabkan pembiasaan perilaku hewan terhadap kehadiran pengamatnya. Monyet yang mulai terbiasa dengan keberadaan manusia mereka tidak takut lagi mendekati manusia. Kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab menjadikan hewan ini sebagai target buruan.

 

Monyet adalah hewan yang sangat sensitif terhadap jumlah pengamatnya. Maka dari itu, meskipun  terhabituasi monyet tetaplah satwa liar yang suatu waktu dapat berperilaku agresif ketika berada pada situasi terancam/terganggu. Hal ini dapat membahayakan masyarakat lokal disekitar home range, para pengendara, dan hewan itu sendiri. Seringnya kelompok monyet yang turun ke jalan dan melintas secara tiba-tiba dapat menyebabkan monyet tertabrak oleh pengendara. Selain itu, Macaca yang mulai terbiasa dengan keberadaan manusia mereka tidak takut lagi mendekati manusia. Kondisi ini dapat dimanfaatkan oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab menjadikan hewan ini sebagai target buruan.

 

Turunya sekelompok monyet ke jalan menimbulkan masalah baru dalam upaya konservasi satwa liar di Sulawesi Tengah. Kelompok monyet yang turun ke jalan menjadi pusat perhatian masyarakat yang melintasi kawasan ini. Tidak sedikit yang berswafoto dengan satwa liar ini. Namun sangat disayangkan, mereka juga memberi makan monyet-monyet tersebut. Meskipun sudah terdapat papan himbauan larangan memberi makan monyet oleh pihak Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah. Hal ini tentunya akan memberikan dampak buruk bagi kelangsungan hidup monyet endemik Sulawesi.

Papan Larangan memberi makan monyet endemik sulawesi Papan Larangan memberi makan monyet endemik sulawesi (Sumber : BKSDA Sulawesi Tengah).

 

Monyet yang diberi makan oleh manusia akan rentan tertular penyakit. Selain itu, pembiasan memberi makanan non-alami (pakan yang berasal dari luar habitat asli) oleh masyarakat menyebabkan monyet mengalami penurunan keterampilan bertahan hidup di alam. Mereka mulai ketergantungan dengan makanan yang diberikan oleh manusia sehingga kesulitan mencari makanan sendiri.

Pengguna jalan memberi makan monyet dengan buah pisang. Foto oleh Nur Herjayati.

 

Adapun pakan non-alami yang diberikan oleh penduduk lokal maupun pengguna jalan pada monyet Kebun Kopi antara lain pisang, mangga, belimbing, jagung, kelengkeng, kacang, tomat, anggur, labu siam, wortel, kubis, alpukat, cengkeh, coklat, telur rebus,  lalampa (sejenis lemper yang di bakar), burasa, permen, roti, keripik, dan siomay. Beberapa pakan non-alami yang diberikan merupakan makanan olahan, buah yang di jajakan oleh penjual buah di Kebun Kopi, dan ada pula buah dan sayuran yang dibudidayakan oleh masyarakat lokal disekitar home range.

Macaca tonkeana sedang memakan roti yang diberikan oleh pengguna jalan trans Kebun Kopi. Foto oleh Nur Herjayanti.

 

Pemberian pakan non-alami dapat menimbulkan konflik antara monyet dengan masyarakat lokal. Monyet yang mulai ketergantungan lebih sering masuk ke rumah, warung, dan kebun warga untuk mencuri atau merusak tanaman yang ada di kebun warga. Adanya konflik antara monyet dan masyarakat dapat mempercepat terjadinya penurunan populasi yang berujung pada kepunahan jika masyarakat sudah menganggap monyet endemik ini sebagai hama/pengganggu.

 

Untuk mengurangi ancaman terhadap kelangsungan hidup monyet endemik sulawesi, diperlukan suatu upaya konservasi yang tepat dan berkelanjutan dengan mempertimbangkan presepsi masyarakat di sekitar home range Macaca dan masyarakat Sulawesi Tengah, seperti dibentuknya Macaca Ranger dalam upaya pelestarian monyet endemik Sulawesi Tengah. Dalam pelaksanaannya Macaca Ranger akan bertugas dalam proses penelitian monyet endemik, pemberian edukasi konservasi kepada masyarakat dan membangun sinergi bersama instansi terkait dalam upaya pelestarian monyet endemik Sulawesi Tengah.

Tim Macaca Rangers saat melakukan pengamatan di Jalan Trans Sulawesi Kebun Kopi.

 

Referensi:

  1. Damayanti, W., Fitriana, Gunawan, M., S., I., Annawaty, Fahri. 2017. Habituasi Kelompok Bercampur Macaca tonkeana-hecki: Peluang dan Tantangan. Journal of Science and Technology. 6(2):100-108.
  2. Fitriana, Damayanti, W., Gunawan, M.,S., I., Annawaty dan Fahri. 2018. Jenis Pakan dan Pilihan yang diberikan oleh Masyarakat pada Kelompok Bercampur M. tonkeana-hecki di Cagar Alam Pangi Binangga. Journal of Science and Technology . 7(2):212-218.
  3. Gunawan, M., S., I., Annawaty dan Fahri. 2018. Distribusi kelompok Macaca hecki (Matschie, 1901) dan Macaca tonkeana (Meyer, 1899) di Hutan Lindung dan Cagar Alam Pangi Binangga Sulawesi Tengah. Journal of Science and Technology. 7(2):219-225.
  4. Mustari, A., H. Manual Identifikasi dan Bio-Ekologi Spesies Kunci di Sulawesi. IPB Press. Bogor.
  5. Pombo, A., R.,Waltert, M., Mansjoer, S., S., Mardiastuti, A., Muhlenberg, M. 2004. Home Range , Diet  and Behaviour of the Tonkean Macaque (Macaca tonkeana) in Lore Lindu National Park, Sulawesi. Springer. 1:313-325.
Tentang Penulis
Macaca Rangers
Pelestarian Monyet Endemik Sulawesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2021-06-15
Difference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *