Mengenal Ular Daboia siamensis dan Kemunculannya di Bima, Nusa Tenggara Barat

Photo : dr. Lalu Febryan Cipta Amali
Ular Daboia siamensis merupakan salah satu jenis ular berbisa dari keluarga viper yang cukup dikenal di kawasan Asia. Ular ini sering disebut sebagai Siamese Russell’s Viper atau Eastern Russell’s Viper. Spesies ini termasuk ular darat yang memiliki racun kuat dan dikenal sebagai salah satu ular yang memiliki dampak medis penting di beberapa negara Asia. Meskipun berbahaya bagi manusia, keberadaan ular ini tetap memiliki peran penting dalam ekosistem alam. Dalam penelitian lapangan yang dilakukan pada periode 2018 hingga 2021, spesies ini tidak pernah ditemukan di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa. Namun pada bulan Maret tahun 2026 muncul laporan mengenai keberadaan ular ini di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat, yang menjadi catatan menarik bagi penelitian herpetologi di kawasan tersebut.
Secara umum, Daboia siamensis merupakan ular berukuran sedang hingga besar dengan panjang tubuh yang dapat mencapai sekitar satu hingga satu setengah meter. Tubuhnya relatif tebal dan berotot, dengan kepala berbentuk segitiga yang jelas terlihat lebih lebar dibandingkan lehernya. Bentuk kepala seperti ini merupakan ciri khas dari banyak ular berbisa dari kelompok viper. Warna dasar tubuhnya biasanya cokelat kekuningan, cokelat muda, hingga cokelat tua. Sepanjang punggungnya terdapat pola bercak berbentuk bulat atau oval berwarna cokelat gelap yang tersusun berderet dan dikelilingi garis yang lebih terang. Pola ini merupakan salah satu ciri yang paling mudah digunakan untuk mengenali spesies ini di alam. Permukaan sisiknya juga terasa agak kasar karena memiliki struktur beralur halus yang disebut sisik berkarina.
Dari sisi anatomi, Daboia siamensis memiliki beberapa struktur tubuh yang mendukung kemampuannya sebagai predator yang efektif. Pada bagian rahang atas terdapat sepasang taring panjang yang dapat dilipat ke dalam mulut ketika tidak digunakan. Saat ular menyerang mangsa atau mempertahankan diri, taring tersebut akan bergerak ke depan untuk menyuntikkan racun. Racun ini diproduksi oleh kelenjar racun yang terletak di bagian belakang kepala. Selain itu, tubuh ular ini didukung oleh otot yang kuat sehingga mampu melakukan serangan dengan cepat dan akurat. Sistem sensoriknya juga cukup baik, termasuk kemampuan mendeteksi getaran di tanah yang membantu ular mengetahui keberadaan mangsa di sekitarnya.
Dalam kehidupan alaminya, Daboia siamensis biasanya ditemukan di habitat yang relatif terbuka seperti padang rumput, semak belukar, savana, hingga area pertanian. Ular ini cenderung menyukai daerah yang kering dengan vegetasi tidak terlalu rapat. Aktivitasnya umumnya lebih tinggi pada malam hari atau saat senja, sehingga dapat digolongkan sebagai hewan nokturnal. Pada siang hari ular ini biasanya bersembunyi di lubang tanah, di bawah batu, di semak-semak, atau di tempat yang teduh untuk menghindari suhu panas. Ketika merasa terancam, ular ini sering menunjukkan perilaku defensif dengan menggulung tubuhnya, mengangkat bagian depan tubuh, serta mengeluarkan suara desisan yang cukup keras sebelum melakukan serangan.
Dalam hal reproduksi, Daboia siamensis termasuk ular yang berkembang biak secara ovovivipar, yaitu telur berkembang di dalam tubuh induk hingga akhirnya menetas dan anak dilahirkan dalam keadaan hidup. Seekor induk betina dapat melahirkan sekitar sepuluh hingga tiga puluh anak dalam satu kali reproduksi. Anak ular yang baru lahir biasanya memiliki panjang sekitar dua puluh hingga tiga puluh sentimeter dan sudah memiliki racun yang aktif, sehingga mampu berburu mangsa kecil sejak usia yang sangat muda.
Racun yang dimiliki oleh Daboia siamensis tergolong racun hemotoksik, yaitu racun yang terutama mempengaruhi sistem darah dan jaringan tubuh. Gigitan ular ini dapat menyebabkan rasa nyeri yang kuat, pembengkakan, kerusakan jaringan di sekitar luka, serta gangguan pada proses pembekuan darah. Dalam kasus yang lebih berat, racun dapat mempengaruhi organ dalam seperti ginjal. Karena itu ular ini termasuk spesies yang perlu diwaspadai jika ditemukan di alam, terutama di daerah yang dekat dengan aktivitas manusia.
Meskipun demikian, ular ini sebenarnya memiliki peran yang cukup penting bagi keseimbangan ekosistem. Salah satu mangsa utamanya adalah tikus dan berbagai hewan kecil lainnya. Dengan memangsa tikus, ular ini membantu mengendalikan populasi hewan pengerat yang sering menjadi hama pertanian. Keberadaan ular ini juga merupakan bagian dari rantai makanan di alam, sehingga membantu menjaga keseimbangan populasi berbagai organisme. Selain itu, racun ular juga menjadi objek penelitian ilmiah, terutama dalam bidang toksikologi dan pengembangan serum anti bisa yang digunakan untuk penanganan gigitan ular berbisa.
Secara geografis, Daboia siamensis memiliki persebaran di beberapa wilayah Asia, seperti Thailand, Myanmar, Kamboja, Vietnam, China bagian selatan, serta Taiwan. Di Indonesia, keberadaannya diketahui di beberapa wilayah tertentu di bagian timur kepulauan, terutama di kawasan Nusa Tenggara. Namun persebaran spesies ini tidak selalu merata dan sering kali terpisah antara satu populasi dengan populasi lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan pada tahun 2018 hingga 2021, tidak ditemukan keberadaan Daboia siamensis di Pulau Lombok maupun Pulau Sumbawa. Hal ini menunjukkan bahwa pada periode tersebut spesies ini kemungkinan tidak memiliki populasi yang terdeteksi di kedua pulau tersebut. Akan tetapi, pada bulan Maret tahun 2026 muncul laporan mengenai kemunculan ular ini di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Laporan tersebut menjadi informasi penting yang menarik untuk diteliti lebih lanjut karena dapat menunjukkan kemungkinan adanya perubahan distribusi spesies, populasi yang sebelumnya tidak terdeteksi, atau kemungkinan perpindahan akibat aktivitas manusia.
Kemunculan laporan baru ini menunjukkan bahwa penelitian mengenai keanekaragaman reptil di wilayah Nusa Tenggara masih sangat penting untuk terus dilakukan. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai persebaran, biologi, dan peran ekologis ular seperti Daboia siamensis, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami keberadaan satwa liar di sekitarnya serta mampu hidup berdampingan dengan alam secara lebih bijaksana.


