Falsafah Bambu, Belajar Hidup dari Rumput Serba Guna.

Falsafah Bambu, Belajar Hidup dari Rumput Serba Guna.
25 Desember 2014
2752

"Pring wuluh, urip iku tuwuh. Aja mung embuh ethok-ethok ora weruh"

Kalimat di atas bukan sebuah mantra atau ajimat, kalimat di atas adalah potongan lirik lagu Ngelmu Pring dari Rotra (Jogja Hip Hop Foundation). Ngelmu pring sendiri jika dibahasa Indonesiakan berarti falsafah bambu, kurang lebih makna lagu ini adalah hidup dengan mempelajari bambu. Kenapa harus bambu?

Bambu masuk kedalam keluarga rumput-rumputan (Poaceae), bentuk bambu memang khas berbeda dengan rumput yang biasa kita injak di halaman. Meskipun bambu dan rumput liar sama-sama memiliki rongga dan ruas, tapi bambu memiliki bentuk yang lebih besar dan kuat. Selain itu bambu juga memiliki kemampuan tumbuh yang sangat cepat yaitu 60 cm per hari.

Bambu memiliki banyak manfaat, di Indonesia bambu digunakan sebagai bahan bangunan, dekorasi, bahan perkakas rumah tangga, obor, bahkan bambu muda (rebung) nikmat untuk disantap. Dibalik kegunaan setelah dipotong, bambu yang masih hidup juga bermanfaat untuk mencegah longsor.

Pohon bambu memberikan banyak pelajaran dan manfaat untuk kehidupan manusia. Bambu yang hidup di atas tanah bisa mencegah bencana longsor dan bambu yang sudah dibelah masih bisa dimanfaatkan.

Refrensi:

[daily pioneerwikipediamn]

Tentang Penulis
Admin BW
Biodiversity Warriors

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel
Terkait
Tidak ada artikel yang ditemukan
2020-07-30
Difference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *