BANGGAI CARDINALFISH, SPESIES ENDEMIK DARI SULAWESI

Kelautan, Satwa
BANGGAI CARDINALFISH, SPESIES ENDEMIK DARI SULAWESI
2 Juli 2024
136

IKAN CAPUNGAN/ BANGGAI CARDINALFISH

Nama Lokal : Ikan Capungan Banggai

Nama Umum: Banggai Cardinal Fish

Nama Latin : Pterapogon kauderni

A. KARAKTER SEKSUAL SEKUNDER

Ikan BCF dilaporkan memiliki karakter seksual dimorfisme kelamin sekunder dan sex ratio (jumlah total jantan/jumlah total betina) satu banding satu (Wardhana & Masitha, 2011). Perbedaan eksternal yang dapat dilihat untuk membedakan antara jantan dan betina ialah dengan memperhatikan ukuran mulutnya. Ikan jantan memiliki rongga mulut yang lebih besar dibandingkan ikan betina dan sangat terlihat jika sedang mengerami telurnya (Moore et al., 2017). Selain itu, cara membedakan antara ikan jantan dan betina dengan melihat sirip dorsal kedua yang mana ikan jantan memiliki sirip dorsal kedua lebih panjang daripada ikan betina. Namun, berdasarkan pengukuran dan pengamatan gonad ternyata hal ini tidak selalu benar. Selain itu, pendekatan lain dalam identifikasi jenis kelamin yaitu dengan membandingkan ukuran lubang urogenital dengan cara menekan bagian samping perut secara perlahan. Ternyata lubang genital induk betina terlihat lebih bulat dan besar dan bagian perut juga lebih bulat dibandingkan dengan induk jantan yang mempunyai lubang genital yang jauh lebih kecil dan bagian perut yang lebih lancip (Gunawan et al., 2010).

Selain itu, panjang tubuh ikan capungan banggai dapat mengindikasikan jenis kelamin dari ikan tersebut. Umur ikan yang dapat dijadikan induk antara 4-5 bulan diperkirakan memiliki panjang tubuh sekitar 4-5 cm. Seleksi ukuran tubuh dilakukan untuk mengetahui umur ikan sehingga mengetahui ikan tersebut sudah bisa dijadikan induk atau tidak (Wardhana & Masitha, 2011). Berdasarkan pengukuran panjang relatif, ada kecenderungan bahwa kepala ikan jantan relatif lebih tinggi dibandingkan dengan ikan betina. Induk jantan dan betina juga dapat dibedakan dari ukuran relatif antara panjang kepala dan tinggi badan dengan nilai 0,83±0,05 (n=17) lebih tinggi dibandingkan dengan induk betina dengan nilai 0,79±0,05 (n=19) (Gunawan et al., 2010).

Perbedaan genetik (genotipe) kerapkali terkait dengan perbedaan dalam morfologi atau yang nampak (fenotipe), sehingga penentuan batas stok ikan idealnya menggunakan data morfometrik dan genetik (Moore et al., 2017). Vagelli (2011) mengemukakan hipotesa bahwa pola bintik putih pada tubuh P. kauderni bervariasi antar lokasi, mungkin terkait dengan perbedaan genetik antar sub-populasi (stok).

B. STATUS JENIS KELAMIN

Ikan Banggai cardinal memiliki status jenis kelamin gonokhoris dengan jenis kelamin tetap dan perkembangannya langsung (KKP, 2012). Dari beberapa referensi yang telah terbit juga tidak ada yang menjelaskan bahwa ikan ini tergolong hermafrodit.

C. POLA REPRODUKSI

Siklus reproduksi ikan Banggai Cardinal adalah pertama ikan dibuahi di dalam perut dengan tahapan TKG I sampai TKG IV. Apabila sudah matang gonad telur tersebut dikeluarkan, kemudian dimasukan kembali ke dalam mulut untuk berkembangbiak dengan berbagai tahapan diantaranya tahap telur, embrio, larva dan juvenil. Ikan Banggai Cardinal memiliki pola berkembangbiak dengan menggunakan mulut (mouth breeders) seperti yang terjadi pada ikan-ikan golongan Apogonidae yang lain (Prihatiningsih & Hartati, 2012).

Pola reproduksi ikan ini tergolong berpasangan antara jantan dan betina, tetapi cenderung tidak selamanya sebagaimana menurut penelitian Mogontha et al. (2020), bahwa terdapat kecenderungan satu ekor ikan jantan akan mengerami telur dari beberapa (lebih dari satu) individu betina. Hal ini ditopang pula dengan data yang ada bahwa jumlah antara individu jantan dan individu betina tidak seimbang di perairan.

Benih (larva) P. kauderni yang dilepas oleh induk jantan disebut rekrut (recruit) dan langsung melakukan settlement tanpa fase pelagis. Selanjutnya, berlindung pada mikrohabitat terutama bulu babi Diadema sp. dan anemone laut dengan pola kehidupan sedentary tanpa berpindah jauh (Ndobe et al., 2013).

1. WAKTU REPRODUKSI

Berdasarkan hasil penelitian Prihatiningsih & Hartati (2012) terlihat TKG ikan Banggai Cardinal tersebar pada stadia I sampai dengan spent menunjukkan ikan tersebut dapat bertelur setiap bulan. Selain itu, kemungkinan berkaitan dengan siklus bulan sehingga dapat dikatakan bahwa ikan Banggai Cardinal memijah sepanjang tahun dengan puncak musim pemijahan terjadi pada bulan Juni. Di wilayah tropis, ikan Banggai Cardinal bereproduksi sepanjang tahun selama persediaan makan cukup.

Banggai cardinalfish betina dapat memijah dengan rentang waktu sekitar 30 hari sedangkan ikan jantan membutuhkan rentang waktu cukup panjang antar periode mengerami telur/larva, dan menurut berbagai peneliti maupun penggemar ikan hias P. kauderni jantan dapat mengerami sekitar 6 kali setahun dengan interval waktu sekitar 60 hari. Hal ini berarti bahwa kemampuan reproduksi P. kauderni sangat ditentukan atau dibatasi oleh jumlah dan kondisi ikan jantan, dan apabila SR = 1, maka OSR akan bias terhadap betina (female-biased) (Ndobe et al., 2013).

2. MATANG GONAD

Menurut Fishelson (2009), ikan capungan banggai termasuk kelompok ikan yang siklus pematangan gonadnya unsynchronized. Namun menurut Gunawan et al. (2010), pemijahan ikan ini lebih cenderung dikelompokkan sebagai sinkronis periodik karena masa pemijahan yang periodik dan memijah secara sinkronis sebanyak 2 kali dan kemudian istirahat.

Ikan Banggai Cardinal dikategorikan memiliki tingkat frekunditas yang rendah karena jumlah telurnya terbilang sedikit dibandingkan jumlah telur ikan laut lainnya. Jumlah telur ikan BCF di dalam perut rata-rata berkisar 12 – 124 telur, dan telur yang dierami di dalam mulut rata-rata berjumlah 78 telur, dan jumlah larva yang berhasil dierami hingga terlepas sebagai rekrut jarang melebihi 20 (Prihatiningsih & Hartati, 2012).

D. TINGKAH LAKU

Dalam setiap individu ikan BCF, ukuran telur hampir sama setiap butirnya sehingga pemijahannya bersifat total spawning artinya telur yang sudah matang dikeluarkan sekaligus dalam suatu periode pemijahan (Prihatiningsih & Hartati, 2012). Ikan BCF bersifat paternal mouthbrooder with direct development, induk P. kauderni betina melepaskan masa telur kemudian induk jantan mengerami telur (selama ± 20 hari) dan larva (selama ± 10 hari) hingga terlepas sebagai rekrut yang menyerupai ikan dewasa; induk jantan tidak makan (puasa) selama mengerami (Ndobe et al., 2013). Bahkan setelah telur menetas, induk jantan P. kauderni tetap mengerami hingga fase larva berakhir (Vagelli, 2011).

Induk jantan yang mengerami larva berada di dalam atau berdekatan dengan kelompok Banggai cardinalfish lain, sejumlah P. kauderni dewasa melayang di sekitar induk jantan dan saat rekrut terlepas, satu atau lebih ikan tersebut langsung sambar dan selalu ada yang berhasil memangsanya. Induk jantan yang mengerami larva sering terlihat sendiri, relatif jauh dari kelompok, dan berdekatan dengan anemone laut, baik yang dihuni maupun yang tidak dihuni oleh ikan badut (Amphiprion sp.) (Ndobe, 2013).

E. MATING PATTERNS

Fekunditas ikan Capungan banggai dikelompokkan dalam dua bagian yaitu “Ovarian fecundity“ yaitu jumlah telur matang yang ada dalam ovarium sebelum dikeluarkan dalam pemijahan dan “Brooding fecundity“ yaitu jumlah telur yang sedang dierami di dalam mulut. Berdasarkan penelitian Mogontha et al. (2020), dari 76 individu betina, hanya 14 individu yang ditemukan mengandung telur dan dari 74 individu jantan hanya ada 8 yang mengerami telur. Dari data “Brooding fecundity“ ini jika dibandingkankan dengan “Ovarian fecundity“ terlihat bahwa terdapat kecenderungan satu ekor ikan jantan akan mengerami telur dari beberapa (lebih dari satu) individu betina. Hal ini nampaknya sejalan dengan data dalam penelitian ini yakni terdapat kecenderungan ikan jantan lebih sedikit dari ikan betina, tetapi bertolakbelakang dengan data Ndobe et al., (2013) yang mana ikan betina lebih banyak dari ikan jantan. Oleh karena itu, kemungkinan ikan ini tergolong ke dalam polygamous.

Ikan jantan dan betina dewasa yang telah matang gonad akan memisahkan diri dari kelompok dan mencari tempat yang cocok dan sesuai untuk kawin. Sebelum sel telur dan sperma dikeluarkan maka mereka akan melakukan beberapa gerakkan yang unik yang dikenal dengan “mating dance” yaitu ikan jantan akan bergerak berputar mengelilingi betina dan sebaliknya. Setelah itu, ikan betina akan mengeluarkan sel telur yang diikuti oleh ikan jantan mengeluarkan sel sperma. Setelah sel telur dibuahi, ikan jantan akan menangkap sel-sel telur tersebut dan dimasukkan ke dalam mulutnya untuk dierami selama beberapa hari. Setelah telur-telur tersebut menjadi juvenil, ikan dikeluarkan satu persatu dari mulut ikan jantan (Mogontha et al., 2020).

 

DAFTAR PUSTAKA

Fishelson, Lev and Ofer Gon. 2009. Comparison of the ovaries and oogenesis of some Australian and South African viviparid clinid fishes (Clinidae, Blennioidei, Perciformes). Environmental Biology of Fishes. 86: 527-540.

Gunawan., Hutapea, J. H., & Setiawati, K. M. 2010. Pemeliharaan Induk Ikan Capungan Banggai (Pterapogon kauderni) dengan Kepadatan yang Berbeda. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Hal: 461 – 466.

KKP. 2012. Profil Komoditas: Banggai Cardinalfish (BCF).[Online]: Available at:https://kkp.go.id/ Diakses pada 9 Desember 2022.

Mogontha, L., Bataragoa, N. E., & Rondonuwu, A. B. 2020.Biology Reproduction Of Banggai Cardinal Fish Pterapogon kauderni Koumans, 1933 In Lembeh Strait. Jurnal Perikanan dan

Kelautan Tropis. 11(1): 33 – 40.

Moore, A. M., Ndobe, S., & Jompa,J. 2017. Konsep Konservasi Berbasis Kawasan Dalam Rangka Pemulihan Populasi Endemik Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni). Coastal and Ocean Journal. 1(2): 63 – 72.

Ndobe, S., Widiastuti, I., & Moore, A. 2013. Sex Ratio dan Pemangsaan terhadap Rekrut pada Ikan Hias Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni). Konferensi Akuakultur Indonesia. Hal: 9 – 20.

Prihatiningsih & Hartati, S. T. 2012. Biologi Reproduksi Dan Kebiasaan Makan Ikan Banggai Cardinal (Pterapogon kauderni, Koumans 1933) Di Perairan Banggai Kepulauan. BAWAL. 4 (1): 1 – 8.

Vagelli, A.A. 2011. The Banggai Cardinalfish: Natural History, Conservation, and Culture of Pterapogon kauderni. John Wiley & Sons, Ltd., Chichester. 219 pp.

Wardhana, W & Masitha, E. D. 2011. Pembenihan Ikan Capungan Banggai (Pterapogon kauderni) di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol. Provinsi Bali. 13p.

#konservasi, Keanekaragaman hayati, biodiversitas
Tentang Penulis
aymanisa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2024-07-02
Difference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *