Airku Asin

Kelautan
Airku Asin
30 Maret 2020
1050

Teringat satu baris lagu Kata Pujangga dari Raja Dangdut, Rhoma Irama. “Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga”. Seakan hidup tidak berguna lagi jika tidak memiliki cinta. Benar begitu? Nyatanya, kita sebagai manusia tidak sepenuhnya tak mampu hidup tanpa cinta. Ada hal yang lebih penting dibandingkan cinta. Seperti pernyataan dari seorang penyair berkebangsaan Amerika, Wystan Hugh Auden. “Ribuan orang hidup tanpa cinta, tetapi tak satupun yang hidup tanpa air”. Ya, air adalah kehidupan dan air bersih berarti kesehatan, ucap Audrey Hepburn. Apakah air lebih penting dibandingkan cinta? Mari kita telusuri bersama.

Anak Pulau Gili Ketapang

(Sumber: Dokumentasi pribadi, 2019)

Menengok foto diatas, nampaknya tak ada yang salah. Sayangnya, dua anak perempuan itu tak hanya sekadar bermain air atau berenang di laut. Namun kegiatan berendam di dalam air tersebut, mereka artikan sebagai mandi. Ya, karena minimnya air di Pulau Gili Ketapang. Pulau Gili Ketapang merupakan pulau karang yang terletak di sebelah utara wilayah Kabupaten Probolinggo, dengan kondisi daerah yang khas pesisir dan penduduk Suku Madura. Permasalahan penduduk di Pulau Gili Ketapang diantaranya: ketersediaan penerangan dan listrik, limbah domestik, lingkungan, sarana dan prasarana fisik/non fisik, kerusakan ekosistem perairan, sumber daya manusia dan ketersediaan air bersih (Ikhwani dan Koswara, 2011).

Sampah di Bibir Pantai Pulau Gili Ketapang

(Sumber: Dokumentasi pribadi, 2019)

"Selama ini kita hanya fokus kepada kehidupan di daratan yang luas. Sampai kita melupakan bagaimana dengan mereka yang hidup di kawasan pesisir pantai."

Jika kita melihat lebih jauh lagi kehidupan masyarakat pesisir dan pulau kecil. Air yang digunakan untuk mandi oleh masyarakat Gili Ketapang itu tak sepenuhnya bersih. Sampah terlihat menutupi bibir pantai karena minimnya lahan dan teknologi. Permasalahan klasik yang dirasakan penduduk pulau kecil. Penduduk Gili Ketapang mengandalkan air tanah dan air hujan sebagai sumber air bersih. Menurut Pryambodo dan Prihantono (2019), dengan jumlah penduduk mencapai 8.583 jiwa menjadikan Pulau Gili Ketapang menjadi salah satu pulau kecil yang berpenduduk padat (Undang-undang Nomor 56/PRP/1960) dengan kepadatan mencapai 12.356 jiwa/km2. Semakin tergerusnya lahan penyerapan air dan beralih fungsi menjadi kawasan pembangunan. Tentu saja akan berdampak pada jumlah ketersediaan air tanah sebagai sumber air bersih yang semakin terbatas. Menurut Ramdhan et al. (2019), jumlah ketersediaan air sangat berkaitan dengan curah hujan dan penggunaan lahan di Pulau Gili Ketapang. Lalu bagaimana jika hujan tidak turun?

Penyediaan air bersih dan sanitasi yang terjangkau merupakan salah satu tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030. Pulau Gili Ketapang terletak kurang lebih 3.8 mil laut dari daratan utama. Letak geografis ini mengakibatkan Pulau Gili Ketapang terisolasi dari daratan utama, sehingga timbul berbagai permasalahan salah satunya adalah ketersediaan air bersih. Kesenjangan air bersih ini tidak sesuai dengan luas perairan laut yang ada di Indonesia, yaitu sekitar 5,9 juta km2. Hal ini dikarenakan kandungan air laut yang terdiri dari campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman. Sehingga air dengan kandungan garam tinggi tersebut tentunya tidak dapat dikonsumsi.

 

Kenaikan Muka Laut Sebagai Potensi Penyediaan Air Bersih?

Kita ketahui bersama bahwa saat ini manusia begitu gencar menyuarakan isu perubahan iklim (climate change). Bagaimana dampaknya terhadap makhluk hidup termasuk mereka penduduk pulau kecil. Suhu permukaan bumi cenderung menghangat dengan laju 0,150C/dekade (IPCC, 2014 dalam Supriyadi et al., 2019). Hal ini mengakibatkan perubahan curah hujan, melelehnya salju dan es yang kemudian mengubah sistem hidrologi, serta mempengaruhi sumber daya air secara kuantitas dan kualitas. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi keterpaparan yang besar terhadap perubahan iklim contohnya adalah peningkatan curah hujan, kekeringan ekstrim, gelombang pasang ekstrim dan kenaikan muka laut.

Tumpukan Karang Gili Ketapang

(Sumber: Dokumentasi pribadi, 2019)

Semakin tingginya permukaan air laut akan semakin menurunkan salinitas (konsentrasi larutan garam) air laut. Jika kita beranggapan dengan terjadinya penurunan level salinitas akan berdampak baik bagi peningkatan sumber air bersih. Hal ini sangatlah salah. Karena semakin rendah salinitas akan mempengaruhi makhluk hidup akuatik dalam beradaptasi. Salinitas yang rendah dari baku mutu tidak cocok untuk media pertumbuhan biota laut secara optimal, salah satunya adalah karang. Maka tak heran jika kita sering mendengar berita tentang pemutihan terumbu karang (coral bleaching). Seperti halnya yang tampak pada foto, menggunungnya karang di Gili Ketapang. Dan hanya bisa dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.

 

Air Laut dan Kulit Kerang

Ilustrasi Reverse Osmosis

(Sumber: Dokumentasi pribadi, 2019)

Laut tak selamanya dianggap sebagai tempat untuk menikmati keindahan alam saja. Dengan cara mengurangi salinitas air laut maka barang tentu manusia terutama penduduk pesisir dan pulau kecil dapat memanfaatkannya. Proses reverseo terbalik) air laut menjadi potensial dalam penyediaan air bersih. Namun tentunya dalam proses ini terdapat beberapa kendala. Diantaranya foulingd kerak pada membran. Oleh sebab itu, diperlukan pre-treatmentuntuk mengurangi hal tersebut. Pre-treatment yang dapat dilakukan dapat berupafiltrasi, adsorbsi, koagulasi dan flokulasi. Limbah cangkang kerang mengandung kitosan yang berpotensi menjadi koagulan. Kitosan lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan tawas. Selama ini cangkang kerang yangdimanfaatkan hanya 20% dan terbatas sebagai bahan baku kerajinan dan pakanternak (Mu’minah, 2008). Dengan memanfaatkan cahaya matahari sebagai sumber tenaga yang ketersediaannya tak pernah habis ini. Proses reverse osmosis dapat dijadikan sebagai salah satu solusi untuk mengolah air laut menjadi air tawar yang layak pakai.

 

“Indonesia itu indah, air laut melimpah.

Air bersih itu anugerah, walau jumlahnya secercah.“

- Melynda Dwi Puspita -

 

Referensi:

  • Hamuna, B., R. H. R. Tanjung, Suwito, H. K. Maury dan Alianto. 2018. Kajian kualitas air laut dan indeks pencemaran berdasarkan parameter fisika-kimia di perairan Distrik Depapre, Jayapura. Jurnal Ilmu Lingkungan. 16 (1): 35-43.
  • Ikhwani, H. dan A. Y. Koswara. 2011. Kajian kebijakan pengelolaan pulau kecil (Pulau Gili Ketapang) di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Prosiding Seminar Nasional Manajemen Teknologi XIV.
  • Latuconsina, H. 2010. Dampak pemanasan global terhadap ekosistem pesisir dan lautan. Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan. 3 (1): 30-37.
  • Mu’minah. 2008. Aplikasi kitosan sebagai koagulan untuk penjernihan air keruh. Tesis. Program Pascasarjana ITB Bandung.
  • Pryambodo, D. G. dan J. Prihantono. 2019. Pendugaan potensi volume akuifer menggunakan metode geolistrik di Pulau Gili Ketapang, Probolinggo, Jawa Timur. Eksplorium40 (1): 53-62.
  • Ramdhan, M., S. Husrin, D. G. Priyambodo, J. Prihantono, S. N. Amri, H. Prihatno, N. Sudirman, Hasanuddin dan S. Iswahyudi. 2019. Simulasi daya dukung lingkungan di Pulau Gili Ketapang-Probolinggo dengan mengandalkan curah hujan sebagai pemenuhan kebutuhan air. Jurnal Kelautan Nasional. 14 (1): 25-32.
  • Supriyadi, I. H., A. J. Wahyudi, Suyarso, dkk. 2019. Masyarakat Pesisir: Adaptasi Terhadap Dampak Perubahan Iklim 2019. Pusat Penelitian Oseanografi – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia: Jakarta.

 

#bwkehati #hariairsedunia #bwchallenge

Tentang Penulis
Melynda Dwi Puspita
Universitas Brawijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2021-06-09
Difference:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *