#konservasi

BUKAN SEKADAR POHON: MANGROVE SEBAGAI RUMAH SAKIT BIODIVERSITAS PESISIR

Ada aroma khas yang hanya bisa ditemukan di perbatasan antara daratan dan lautan. Aroma tersebut bukanlah bau garam yang tajam seperti di pantai berpasir putih, melainkan aroma yang lebih berat dan pekat. Ini adalah aroma lumpur basah, sebuah komposisi dari dedaunan busuk, air payau, dan kehidupan mikroskopis yang sedang bekerja keras. Bagi sebagian orang, aroma BUKAN SEKADAR POHON: MANGROVE SEBAGAI RUMAH SAKIT BIODIVERSITAS PESISIR

Jerat Ekstraktif dan Deforestasi Sawit Di Sumatera

  Sumatera, sebagai salah satu paru-paru tropis dunia, kini menghadapi krisis multidimensi yang berakar pada praktik ekonomi ekstraktif. Model pembangunan yang memprioritaskan komoditas kelapa sawit di atas keberlanjutan ekologis telah menghasilkan sebuah keniscayaan bencana. Tragedi berulang berupa banjir bandang dan longsor lumpur adalah manifestasi paling brutal dari kegagalan tata kelola lahan yang sistemik. Lumpuhnya Sumatera Jerat Ekstraktif dan Deforestasi Sawit Di Sumatera

Bambu: Penjaga Lanskap dan Pilar Komunalitas Masyarakat Ngada

Pulau kecil disebelah utara Pulau Timor ini menyajikan ekosistem yang beragam dari hutan dataran rendah sedang, hutan tropika kering, savana dan mangrove yang menjadi benteng lautan. Bambu yang bergerombol hijau pada lahan kering menjadi pemandangan ketika pesawat akan mendarat di Bandar Udara Soa Bajawa. Pintu gerbang menjelajahi wilayah kaya tradisi berbingkai kekayaan alam yang memukau. Bambu: Penjaga Lanskap dan Pilar Komunalitas Masyarakat Ngada

Kuntul Kecil dalam Apexel Si Amatir

Burung Kuntul Kecil terlihat beraktivitas di sawah saat pagi hari. Aktivitas yang teramati adalah foraging (mencari makanan) dan berdiam diri sejenak setelah bergerak lalu bergerak kembali. Salah satu makanannya adalah serangga kecil (Elfidasari, 2008). Burung kuntul jenis ini memiliki paruh berwarna hitam (Mackinnon dkk., 2010). Cobalah jalan-jalan di sekitar sawah ketika pagi atau sore hari Kuntul Kecil dalam Apexel Si Amatir

Saninten, Permata Hutan yang Kian Terlupakan

Lereng pegunungan Jawa Barat hingga kawasan kaki Gunung Slamet dahulu menjadi habitat alami pohon Saninten (Castanopsis argentea) yang berdiri kokoh dengan tajuknya yang rimbun. Saninten memiliki daun yang tebal dan berwarna hijau keperakan serta buah menyerupai kastanye (chesnut) yang merupakan kerabat dekatnya dalam famili Fagaceae. Buah Saninten menjadi sumber pakan bagi berbagai satwa liar seperti Saninten, Permata Hutan yang Kian Terlupakan

Merawat Cinta Yang Tak Bertepi

Menurut kajian para ahli geologi, sekitar 300 juta tahun lalu daratan di Bumi masih berupa satu benua yang dinamakan Pangea. Benua tersebut dikelilingi oleh satu samudra besar Panthalasa. Pangea kemudian terpecah menjadi dua benua besar yakni Laurasia (di utara) dan Gondwana (di selatan) pada kisaran waktu 200 juta tahun lalu. Benua inilah yang kemudian terpecah Merawat Cinta Yang Tak Bertepi

Apakah Indonesia Masih Layak Disebut Negara Megabiodiversitas?

Perayaan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) pada tiap tanggal 5 November dapat menjadi sebuah momentum untuk kembali menengok siapa diri kita, sebagai bangsa pewaris kekayaan hayati yang luar biasa. Namun, di balik gegap gempita kampanye cinta alam, seiring hilangnya hutan, terjadinya krisis iklim, dan tingginya tekanan pembangunan, muncul pertanyaan reflektif: masihkah Indonesia layak Apakah Indonesia Masih Layak Disebut Negara Megabiodiversitas?

Chelonia mydas | Penyu hijau

Chelonia mydas atau Penyu Hijau memiliki perisai berbentuk hati dengan tepi yang rata, mampu hidup berukuran maksimal sekitar 200 kilogram. Chelonia mydas biasa menetas pada bulan Maret hingga Mei dengan total 43 hari menuju penetasan. Upaya konservasi Penyu Hijau yang telah dilakukan mulai menunjukkan keberhasilan, karena pada Oktober silam jenis ini naik statusnya dari Terancam Chelonia mydas | Penyu hijau

Leptophryne cruentata | Kodok merah

Leptophryne cruentata (Tschudi, 1838) Dikenal dengan sebutan Kodok darah, Kodok merah yang menjadi anggota dari Bufonidae. Amfibi eksotis ini berukuran kecil 20 mm hingga 40 mm. Jenis ini dapat dijumpai di hutan primer dekat dengan aliran sungai cukup deras dan bersih. Kodok darah menjadi salah satu amfibi yang harus diperhatikan karena kini memiliki status terancam Leptophryne cruentata | Kodok merah

Nasib Malang Para Pencari Suaka Berbulu

World Migratory Bird Day (hari burung migrasi sedunia) diperingati tiap tahunnya pada Sabtu kedua bulan Mei dan Oktober sebagai sarana penyadartahuan kepada masyarakat luas tentang pentingnya pelestarian burung yang bermigrasi serta habitatnya yang semakin terancam oleh perubahan iklim, polusi, kehilangan habitat dan tentunya, perburuan.   Setiap tahunnya, burung-burung dari bumi bagian utara bermigrasi untuk menghindari Nasib Malang Para Pencari Suaka Berbulu