Siaran Pers

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Prof. Emil Salim Serukan Pembangunan Holistik

JAKARTA, 5 Juni 2026 — Memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema “Inspired by Nature. For Climate. For Our Future”, tokoh lingkungan hidup nasional sekaligus Pembina Yayasan KEHATI, Prof. Emil Salim kembali menyuarakan urgensi perubahan mendasar dalam model pembangunan di Indonesia. Beliau mengungkapkan kecemasannya terhadap pola pembangunan nasional saat ini yang cenderung meniru model dari negara-negara seperti Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, dan Jepang, tanpa memperhitungkan perbedaan kondisi alam khatulistiwa yang mendasar.

Menurut Prof. Emil Salim, alam Indonesia memiliki karakteristik yang senantiasa hidup dan sangat berbeda dengan alam di negara-negara empat musim yang bisa “mati” saat musim salju. Beliau menekankan bahwa alam tidak boleh sekadar dipandang sebagai objek eksploitasi pasif, melainkan harus diperlakukan sebagai subjek.

“Cara mengolah alam itu bukan dengan alam itu sebagai obyek tadi tetapi bagaimana manusia itu tumbuh memanfaatkan alam tanpa merombak fungsi kehidupan alam itu,” jelas Prof. Emil Salim. Pemahaman ini didasari oleh teori interdependensi yang menuntut berbagai sektor, mulai dari pertanian hingga industri, untuk mengelola alam dengan memperhitungkan kepentingan alam itu sendiri.

Sejalan dengan tema global tahun ini, Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI Riki Frindos menegaskan bahwa alam adalah sumber inspirasi sekaligus solusi utama dalam menghadapi krisis iklim. Indonesia membutuhkan paradigma pembangunan baru yang menjadikan alam sebagai fondasi pembangunan dan bukan sekadar sumber daya untuk dieksploitasi.

“Krisis iklim yang kita hadapi saat ini merupakan peringatan bahwa pembangunan tidak bisa lagi berjalan dengan mengabaikan batas-batas ekologis,” ujar Riki Frindos. “Keanekaragaman hayati Indonesia adalah aset strategis bangsa yang berperan menjaga ketahanan iklim, pangan, air, kesehatan, dan ekonomi masyarakat. Karena itu, investasi terbaik untuk masa depan adalah investasi pada pelestarian alam dan pemulihan ekosistem”.

Pentingnya kolaborasi dan pembelajaran holistik dalam menjaga alam telah dibuktikan sendiri oleh Prof. Emil Salim. Pada awal masa jabatannya sebagai Menteri Lingkungan Hidup, pandangan beliau mengenai lingkungan banyak terbentuk berkat proses belajar secara langsung dari berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berfokus pada isu laut, darat, dan masyarakat. Lebih jauh, interaksi dengan tokoh-tokoh dunia yang memiliki pemahaman yang sama turut memperkuat wawasannya, yang pada akhirnya mendorong terbentuknya United Nations Environment Programme (UNEP) di tingkat PBB sebagai wadah saling belajar antarbangsa.

Di tengah ancaman krisis global, Prof. Emil memberikan peringatan keras mengenai dampak dari proses pembangunan yang keliru. Ia menegaskan bahwa pembangunan yang mengabaikan ekosistem sering kali menyebabkan perubahan iklim yang mengubah alam ke arah yang mati. Beliau memperingatkan agar manusia tidak membangun dengan cara yang justru menjadikan alam sebagai sumber kematian bagi kehidupan manusia.

Sebagai penutup, Prof. Emil Salim menitipkan pesan khusus kepada generasi muda agar pendidikan saat ini berpusat pada pemahaman alam secara utuh untuk menghindari kerusakan akibat ketidakpahaman.

“Pandangan holistik, pandangan lingkungan hidup adalah inti untuk belajar bagi keberlangsungan hidup tanpa membunuh unsur hidup lainnya. Itulah cara pembangunan berwawasan lingkungan,” pungkasnya, mengingatkan agar Ibu Pertiwi harus tetap lestari dan tidak boleh dibiarkan mati.

video kutipan Prof Emil Salim dapat diakses pada tautan berikut https://drive.google.com/file/d/1kZqXREL_dE50_p8YLKiirbPIef9D9_4m/view?usp=sharing

 

Tentang KEHATI

Dibentuk pada 12 Januari 1994, Yayasan KEHATI bertujuan untuk menghimpun dan mengelola sumber daya yang selanjutnya disalurkan dalam bentuk dana hibah, fasilitasi, konsultasi dan berbagai fasilitas lain guna menunjang berbagai program pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan pemanfaatannya secara adil dan berkelanjutan. Beberapa tokoh dibalik terbentuknya Yayasan KEHATI antara lain, Emil Salim, Koesnadi Hardjasoemantri, Ismid Hadad, Erna Witoelar, M.S. Kismadi, dan Nono Anwar Makarim.

Selama lebih dari dua dekade, Yayasan KEHATI telah bekerja sama dengan lebih dari 1.500 lembaga lokal yang tersebar dari Aceh hingga Papua, serta mengelola dana hibah lebih dari US$ 200 juta. Dana tersebut berasal dari donor multilateral dan bilateral, sektor swasta, filantrofi, crowd funding, dan endowment fund.

Terdapat 6 pilar pendekatan program yang dikelola oleh KEHATI yaitu ekosistem kehutanan, pertanian, kelautan, perubahan iklim dan sirkular ekonomi, ekonomi berkelanjutan, dan Biodiversity Warriors. Selain itu, Yayasan KEHATI juga mengelola program khusus antara lain Tropical Forest Conservation Action (TFCA) Sumatera dan Kalimantan, Blue Abadi Fund (BAF), Ananta Fund, dan Program Solutions for Integrated Land-and Seascape Management in Indonesia (SOLUSI).

Yayasan KEHATI merupakan pionir investasi ESG di pasar modal Indonesia. Bekerja sama dengan Bursa Efek Indonesia, KEHATI mengembangkan indeks saham berbasis ESG, yaitu: Indeks saham SRI-KEHATI, ESG Quality 45 IDX KEHATI, dan ESG Sector Leaders IDX KEHATI. Yayasan KEHATI juga aktif mempromosikan impact investment, memfasilitasi impact enterpreneurs, serta berinvestasi dan menggalang investor untuk mendukung usaha rintisan berdampak lingkungan dan sosial.