Archives: Opini

Keanekaragaman Hayati Urban, Potensi yang Kurang Promosi (Dan Edukasi?)

Istilah keanekaragaman hayati kadangkala tersempitkan bahkan mengalami perubahan makna. Keanekaragaman hayati sering dimaknai dalam menjelaskankan flora dan fauna yang indah, langka maupun kharismatik yang ada di lokasi-lokasi konservasi alam. Pembelajar keanekaragaman hayati juga sering mengidentifikasi diri sebagai kelompok pemuda-pemudi yang senang berkelana ke tempat-tempat jauh dan sulit diakses, demi hanya untuk mengamati kelompok hewan-tumbuhan unik Keanekaragaman Hayati Urban, Potensi yang Kurang Promosi (Dan Edukasi?)

Wisata Gunung Berkelanjutan

The United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) pada bulan Juni 1992 atau yang sering disebut dengan “KTT Bumi” atau “KTT Rio” diantaranya menghasilkan dua dokumen penting yakni Convention on Biodiversity (CBD) dan Agenda 21. Dua buah dokumen yang menjadi cetak biru (blue print) dari kegiatan pelestarian keanekaragaman hayati sampai sekarang. Dokumen Agenda 21 Chapter 13 memuat Wisata Gunung Berkelanjutan

Menyelamatkan Yang Sudah Sedikit, Menjaga Yang Masih Banyak

Berbagai usaha telah dilakukan oleh banyak pihak, baik oleh ilmuwan, pemerintah, dan masyarakat umum untuk melindungi makhluk hidup beserta lingkungan hidupnya. Salah satunya adalah upaya penyadartahuan melalui kampanye, dalam bentuk hari-hari peringatan. Dari berbagai hari peringatan yang terkait isu lingkungan hidup, salah satunya adalah Hari Konservasi Satwa Liar Sedunia (World Wildlife Conservation Day) yang diperingati Menyelamatkan Yang Sudah Sedikit, Menjaga Yang Masih Banyak

Bambu Mata Air Kehidupan

Bambu salah satu tanaman multi guna yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat terutama masyarakat pedesaan. Bambu juga sebagai sumber daya hayati yang cukup memiliki nilai ekonomi tinggi.  Bambu banyak ditanam di daerah yang beriklim tropis maupun sub tropis berupa tanaman berumpun. Tunas muda yang keluar dari rimpang atau akarnya akan tumbuh menjadi tanaman baru. Bambu Mata Air Kehidupan

Maskot dan Spesies Payung Indonesia: Melestarikan dan Memanfaatkan Berkelanjutan

Setiap tanggal 5 November kita selalu memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN). Sampai tahun ini (2021) kita telah memperingatinya 27 kali. Tentu setiap tahun temanya berubah tetapi yang penting adalah tujuan yang ingin dicapainya, yaitu agar bangsa ini mengetahui, menghargai, mencintai, dan memanfaatkan puspa dan satwa nusantara kita. Dalam arti yang lebih sederhana Maskot dan Spesies Payung Indonesia: Melestarikan dan Memanfaatkan Berkelanjutan

Sagu Memenuhi Kebutuhan Pangan Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan

Menyambut Hari Pangan Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 Oktober, beberapa negara di dunia termasuk Indonesia ikut memperingatinya.  Begitu pentingnya pangan bagi manusia sehingga perlu diperingati untuk mengingatkan kita semua bahwa pangan merupakan hak asasi manusia yang mendasar.  Berbagai acara diselenggarakan untuk memperingati hari tersebut setiap tahunnya, dengan topik yang biasanya terkait dengan kondisi pangan Sagu Memenuhi Kebutuhan Pangan Masyarakat dan Pelestarian Lingkungan

Pariwisata Berkelanjutan: Semoga Bukan Sekadar Slogan

Mendiskusikan pariwisata selalu saja menarik untuk diikuti, gimana tidak, karena sektor ini bukan saja mampu menyediakan lapangan pekerjaan dan peningkatan pendapatan para pelakunya, bahkan mampu mendatangkan devisa bagi sebuah negara. Maka tidak heran sektor ini sering dimasukkan sebagai salah satu sektor unggulan oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Badan Dunia Bidang Pariwisata/United Nation World Tourism Organization Pariwisata Berkelanjutan: Semoga Bukan Sekadar Slogan

Generasi Millenial Jadi Pewaris Penyelamatan Badak Di Indonesia Bergaung Ke Seluruh Dunia

Dunia memiliki lima jenis badak, dua jenis di Afrika (Diceros bicornis dan Ceratotherium simum) dan tiga jenis di Asia (Rhinoceros unicornis, Rhinoceros sondaicus dan Dicerorhinus sumatrensis). Di Indonesia ada dua jenis, yaitu: badak sunda (Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822) dan badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis Fischer, 1814).   Kedua jenis badak di Indonesia bukan satwa endemik, tetapi Generasi Millenial Jadi Pewaris Penyelamatan Badak Di Indonesia Bergaung Ke Seluruh Dunia

GRK Sebabkan Ozon Rusak dan Krisis Iklim

Gas-gas rumah kaca (GRK) selain memicu pemanasan global dan krisis iklim ternyata juga menyebabkan lapizan ozon menipis. Gas-gas di atmosfer Bumi itu memerangkap panas, yang berarti membiarkan sinar matahari melewati atmosfer, tetapi mencegah panas yang dibawa sinar matahari meninggalkan atmosfer.   Proses alamiah yang menghangatkan Bumi ini disebut efek rumah kaca, yang memang diperlukan agar GRK Sebabkan Ozon Rusak dan Krisis Iklim

Indonesia: Laboratorium Dunia Penelitian Orangutan

Selamat Hari Orangutan! Bagi peneliti primata atau yang menekuni bidang anthro-biologi, penelitian kera kesar menjadi bahasan umum baik di dalam kelas bahkan diskusi-diskusi terkait teori evolusi. Dalam pelajaran tingkat sekolah dasar, satwa primata/kera besar juga sudah mulai diperkenalkan secara umum. Namun apakah kita tahu kapan penelitian kera besar ini mulai dilakukan dengan lebih serius? Louis Indonesia: Laboratorium Dunia Penelitian Orangutan