Owa Jawa dan Krisis Ruang di Pulau Jawa

Aktivitas, Kehutanan, Satwa
Owa Jawa dan Krisis Ruang di Pulau Jawa
29 January 2026
7
0

Suara Owa Jawa masih terdengar di sejumlah hutan Pulau Jawa pada pagi hari. Suaranya yang melengking memecah kesunyian dan menandai keberadaan kelompok yang bertahan di antara sisa kanopi hutan. Bagi sebagian besar orang, suara ini memberi kesan bahwa alam masih bekerja sebegaimana mestinya. Owa masih ada, hutan masih hijau, dan segalanya seolah berjalan normal. Namun, kenyataannya jauh lebih rumit. Di balik suara yang tersisa itu ruang hidup Owa Jawa terus menyempit dan kualitas habitatnya mengalami perubahan yang tidak selalu terlihat secara kasatmata. Ancaman yang dihadapi bukan kepunahan mendadak, melainkan tekanan perlahan yang berlangsung dari waktu ke waktu dan jarang disadari sebagai kondisi yang kritis.

KOMPAS/Raditya Mahendra Yasa

Owa Jawa merupakan primata endemik Pulau Jawa yang sangat bergantung pada hutan yang utuh. Hampir seluruh siklus hidupnya berlangsung di atas kanopi pohon. Makan, berpindah, berinteraksi dan membangun ikatan sosial dilakukan tanpa turun ke tanah. Ketergantungan ini membuat Owa Jawa sangat peka terhadap perubahan sekecil apapun. Kehadiran manusia di dalam dan di sekitar hutan saja, meskipun tanpa perburuan sudah cukup mempengaruhi perilaku mereka. Aktivitas wisata, jalan setapak, kebun dan lalu lintas manusia akan membuat Owa menjadi lebih waspada dan lebih jarang bersuara. Tekanan seperti ini sering dianggap ringan karena tidak bersifat destruktif secara langsung, padahal dampaknya bersifat kumulatif dan berpengaruh pada keseimbangan energi serta peluang reproduksi dalam jangka panjang.

Tekanan perilaku tersebut semakin berat ketika hutan terfragmentasi. Di Pulau Jawa, hutan jarang hilang sepenuhnya melainkan seringkali terpotong menjadi bagian-bagian kecil yang terpisah satu sama lain. Jalan, pemukiman dan kebun menciptakan batas yang memutus kanopi dan membentuk tepi-tepi hutan baru. Dari sudut pandang manusia jika dilihat dari kejauhan, lanskap memang masih nampak hijau. Namun dari sudut pandang Owa Jawa, lanskap itu dipenuhi celah yang tidak bisa dilalui. Fragmentasi menjadikan hutan tidak lagi berfungsi sebagai satu ruang hidup yang utuh. Owa Jawa terjebak dalam kantong-kantong kecil yang rentan terhadap penurunan keragaman genetik dan peningkatan resiko kepunahan lokal.

Situasi ini menjadi semakin kompleks ketika dinamika sosial alami Owa Jawa bertemu dengan lanskap yang tidak lagi menyediakan ruang. Dalam siklus hidupnya, individu muda pada usia tertentu akan meninggalkan kelompok untuk mencari wilayah baru dan membentuk pasangan. Proses ini merupakan bagian penting dari regenerasi populasi dan menjaga keseimbangan sosial. Pada hutan yang utuh, perpindahan individu satwa membuka peluang kehidupan baru. Namun pada lanskap yang terfragmentasi perpindahan ini berubah menjadi fase paling beresiko. Individu yang keluar sering kali tidak menemukan habitat yang sesuai dan harus berhadapan dengan area terbuka atau aktifitas manusia. Mekanisme alam tetap berjalan, tetapi ruang untuk menopang proses tersebut semakin terbatas.

Gambaran ini terlihat jelas di kawasan Petungkriyono di Jawa Tengah yang merupakan salah satu hutan pegunungan di Pulau Jawa. Penelitian menunjukkan bahwa habitat Owa Jawa di kawasan ini bersinggungan langsung dengan lahan masyarakat yang dimanfaatkan untuk pertanian dan aktifitas ekonomi lainnya. Perubahan penggunaan lahan banyak terjadi di wilayah dengan nilai ekologis tinggi, terutama di lereng curam dan daerah tangkapan air. Kondisi ini memperlihatkan bahwa konservasi Owa Jawa tidak bisa dilepaskan dari cara manusia mengelola ruang hidupnya sendiri. Upaya penataan ruang yang mempertimbangkan aspek ekologis dan sosial menunjukkan bahwa dialog dan keterlibatan masyarakat dapat membuka jalan konservasi yang lebih realistis dan berkelanjutan.

Pendekatan berbasis lanskap menjadi penting karena konservasi yang mengabaikan dimensi sosial hampir selalu berujung pada kebuntuan. Owa Jawa hidup berdampingan dengan komunitas yang bergantung pada hutan untuk penghidupan. Ketika konservasi dipahami semata sebagai pembatas akses, resistensi mudah muncul dan konflik menjadi tak terhindarkan. Sebaliknya, ketika konservasi diposisikan sebagai upaya menjaga fungsi lanskap yang juga melindungi air, tanah dan keselamatan manusia, ruang dialog mejadi lebih terbuka. Penelitian di Petungkriyono menunjukkan bahwa menjaga ruang bagi Owa Jawa sejalan dengan menjaga kualitas lingkungan yang menopang kehidupan Masyarakat sekitar.

Respon yang sering muncul ketika tekanan terhadap habitat semakin kuat adalah relokasi. Owa dipindahkan dari hutan yang terdegradasi ke kawasan lain yang dianggap lebih aman. Langkah ini tampak tegas dan cepat, namun menyimpan banyak resiko. Tingkat keberhasilan jangka panjang relokasi relatif rendah ketika habitat tujuan tidak benar-benar siap untuk menerima keberadaan Owa atau ketika tekanan lanskap tidak diselesaikan. Relokasi juga memutus peran ekologis Owa Jawa di habitat asal dan tidak menyentuh akar masalah berupa fragmentasi ruang. Tanpa pemulihan lanskap, relokasi hanya memindahkan persoalan dari satu tempat ke tempat lain.

BBC Indonesia | Irma, Owa Jawa berusia empat bulan, diselamatkan dari upaya perdagangan satwa ilegal.

Krisis ruang yang dialami Owa Jawa mencerminkan kondisi Pulau Jawa secara lebih luas. Owa Jawa dapat dipandang sebagai penanda kesehatan hutan. Ketika ruang jelajah menyempit dan perilaku mereka berubah, hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi ekosistem sedang terganggu. Dampaknya tidak berhenti pada primate, tetapi menjalar ke stabilitas tanah, ketersediaan air, dan ketahanan lanskap terhadap perubahan iklim. Menjaga ruang bagi Owa Jawa berarti menjaga konektifitas hutan yang menjadi penyangga kehidupan bagi banyak pihak.

Masa depan Owa Jawa sangat bergantung pada pilihan yang dibuat hari ini dalam pengelolaan ruang. Pulau ini akan terus berkembang dan tekanan terhadap hutan tidak akan berhenti dalam waktu dekat, sehingga tantangan konservasi ke depan akan semakin kompleks. Pilihan tetap ada antara membiarkan hutan terfragmentasi tanpa arah dan kehilangan fungsinya secara perlahan, atau berupaya menjaga sisa konektifitas yang masih tersisa melalui pengelolaan yang lebih hati-hati berdasarkan prinsip berkelanjutan. Selama kanopi hutan diberi ruang untuk tetap terhubung dan fungsi ekologisnya dijaga dengan konsisten, Owa Jawa masih memiliki peluang untuk bertahan di habitat alaminya. Upaya menjaga ruang hidup mereka pada akhirnya bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies endemik, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan Pulau Jawa agar manusia dan alam dapat terus hidup berdampingan dalam lanskap yang sama.

#PrimateForClimate #PrimataUntukIklim #HariPrimataIndonesia #HPI2026, #konservasi, Keanekaragaman hayati, Primata, biodiversitas, ekologi, satwa
Tentang Penulis
Arniana Anwar
Peneliti Universitas Papua

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *