Lahan Basah Bukan Hanya Gambut dan Mangrove: Danau sebagai Jantung Kehidupan yang Terabaikan

Aktivitas, Kehutanan
Lahan Basah Bukan Hanya Gambut dan Mangrove: Danau sebagai Jantung Kehidupan yang Terabaikan
2 February 2026
15
2

Danau dalam Ingatan Kita

Kapan terakhir kali kita benar-benar memikirkan danau? Bukan sekadar mengagumi permukaan airnya yang tenang, bukan pula sekadar menjadikannya latar belakang foto perjalanan, tetapi benar-benar bertanya: bagaimana kondisi danau hari ini? Apakah airnya masih layak minum, ikannya masih bisa ditangkap dengan mudah, dan masyarakat di sekitarnya masih menggantungkan hidup dengan aman?

Danau sering hadir dalam ingatan kita sebagai tempat yang indah, menenangkan, dan penuh nostalgia. Namun di balik ketenangan itu, banyak danau di Indonesia sedang menghadapi tekanan serius. Tekanan yang tidak selalu terlihat, tidak selalu terdengar, tetapi  perlahan melemahkan peran ekologisnya dalam menopang hidup manusia dan alam.

Setiap tanggal 2 Februari, dunia memperingati Hari Lahan Basah Sedunia sebagai pengingat pentingnya ekosistem lahan basah bagi kehidupan. Setiap kali topik lahan basah mencuat di Indonesia, perhatian publik hampir selalu terkunci pada mangrove dan gambut. Keduanya memang penting, terutama sebagai penyimpan karbon dunia. Namun, dominasi narasi ini tanpa sadar telah menyempitkan cara pandang kita, seolah ekosistem lain hanya menjadi pelengkap. Padahal, danau memegang fungsi ekologis yang tak kalah penting, namun sayangnya masih jarang mendapatkan perhatian yang setara.

 

Danau Tempe sebagai Lahan Basah Air Tawar

Danau Tempe bukan sekadar genangan air musiman. Danau Tempe merupakan salah satu lahan basah air tawar di Sulawesi Selatan yang menjadi penopang kehidupan ribuan masyarakat di Kabupaten Wajo, Soppeng, dan Sidrap. Danau Tempe bukan sekadar genangan air alami, melainkan sistem kehidupan yang kompleks. Danau menyimpan air pada musim hujan dan melepaskannya secara perlahan saat kemarau. Fungsi ini menjadikannya penyangga alami bagi keseimbangan hidrologi suatu wilayah. Di dalam danau, hidup beragam organisme air tawar yang membentuk jaring kehidupan yang saling terhubung. Fitoplankton, zooplankton, ikan, hingga burung air bergantung pada stabilitas danau. Bagi manusia, danau menyediakan sumber pangan, air bersih, jalur transportasi lokal, hingga ruang budaya dan spiritual. Namun, manfaat ini sering kali dipahami secara parsial. Danau dipandang sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan, bukan ekosistem yang perlu dijaga keseimbangannya. Cara pandang inilah yang menjadi akar dari berbagai persoalan danau di Indonesia.

 

Ketika Pemanfaatan Berubah Menjadi Tekanan

Salah satu masalah paling nyata yang dihadapi danau-danau di Indonesia, termasuk Danau Tempe adalah alih fungsi lahan basah di sekitarnya yang tidak terkendali. Rawa, dataran banjir, dan zona sempadan danau yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga justru dimanfaatkan secara intensif untuk pertanian dan permukiman.

Masalah paling nyata yang dihadapi Danau Tempe adalah alih fungsi lahan basah di sekitarnya menjadi pertanian musiman tanpa pengelolaan yang berkelanjutan. Setiap musim kemarau, sebagian besar rawa dan dataran banjir di sekitar danau berubah menjadi lahan pertanian. Ketika musim hujan datang, lahan tersebut kembali tergenang dan seluruh sisa pupuk, sedimen, serta limbah aktivitas manusia mengalir masuk ke danau

Dalam jangka pendek, perubahan ini terlihat menguntungkan. Lahan menjadi produktif, hasil panen meningkat, dan aktivitas ekonomi tumbuh. Namun, manfaat tersebut meninggalkan dampak lingkungan yang besar. Setiap musim hujan, limpasan air membawa sedimen, pupuk, dan limbah domestik langsung ke badan danau. Proses ini mempercepat pendangkalan, menurunkan kualitas air, dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Ironisnya, kerusakan ini berlangsung perlahan dan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Ketika danau mulai dangkal, ikan berkurang, dan banjir semakin sering terjadi, kita cenderung menyalahkan alam. Padahal, perubahan tersebut adalah akumulasi dari keputusan manusia yang memisahkan danau dari ekosistem penyangganya.

 

Danau Tempe dan Ketahanan Pangan yang Rentan

Bagi banyak masyarakat sekitar, Danau Tempe adalah sumber pangan dan penghidupan. Perikanan darat menjadi tumpuan ekonomi masyarakat lokal. Namun, ketika kualitas danau menurun, dampaknya langsung terasa pada ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Produktivitas perikanan menurun seiring dengan menurunnya kualitas habitat ikan. Biaya produksi meningkat, hasil tangkapan menurun, dan konflik pemanfaatan ruang semakin sering terjadi. Pada titik ini, danau yang semula menjadi sumber kesejahteraan justru berubah menjadi sumber kerentanan sosial. Masalah ini menunjukkan bahwa kerusakan Danau Tempe bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan persoalan pembangunan yang berdampak langsung pada masyarakat akan kehilangan sumber penghidupan.

 

Kebijakan yang Terfragmentasi

Salah satu penyebab utama permasalahan Danau Tempe adalah pengelolaan yang terfragmentasi. Danau Tempe sering kali diposisikan sebagai badan air yang berdiri sendiri, terpisah dari daerah tangkapan air dan lahan basah di sekitarnya. Kebijakan sektoral berjalan sendiri-sendiri tanpa kerangka pengelolaan yang menyeluruh.

Berbeda dengan gambut dan mangrove yang telah memiliki payung kebijakan relatif kuat, Danau Tempe belum mendapatkan tempat yang tegas dalam pengelolaan lahan basah nasional maupun dalam peraturan daerah. Akibatnya, program rehabilitasi sering kali bersifat parsial dan tidak menyentuh akar masalah. Danau direstorasi, tetapi tekanan dari hulu dan sekitarnya terus berlangsung. Upaya perbaikan yang dilakukan tidak pernah sebanding dengan laju kerusakan yang terus terjadi.

 

Mengelola Danau Tempe sebagai Satu Sistem Lahan Basah

Penyelamatan Danau Tempe membutuhkan perubahan cara pandang. Danau tidak bisa lagi dikelola sebagai entitas terpisah, melainkan sebagai satu kesatuan sistem lahan basah yang mencakup badan air, rawa penyangga, dan wilayah tangkapan airnya.

Pengelolaan berbasis ekosistem dan bentang alam menjadi kunci. Pendekatan ini menuntut integrasi antara perlindungan dan pemanfaatan. Alih-alih melarang pemanfaatan secara total, yang dibutuhkan adalah pengaturan zonasi yang jelas. Peraturan terkait area yang boleh dimanfaatkan secara terbatas, area yang harus dipulihkan, dan area yang perlu dilindungi secara ketat harus jelas. Pemanfaatan Danau Tempe harus disesuaikan dengan daya dukung ekosistem. Selain itu, praktik pertanian perlu diarahkan pada pendekatan yang lebih berkelanjutan, dengan pengendalian beban pencemaran sebagai bagian integral dari pengelolaan ekosistem danau.

 

Masyarakat lokal sebagai Penjaga Danau Tempe

Solusi pengelolaan Danau Tempe tidak akan efektif tanpa menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama. Masyarakat bukan sekadar pengguna danau, melainkan penjaga yang sesungguhnya. Pengetahuan lokal, ketergantungan langsung, dan kepentingan jangka panjang membuat masyarakat memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan danau.

Pelibatan masyarakat dalam kesepakatan pengelolaan bersama, pemantauan kondisi danau, serta pengaturan pemanfaatan lahan basah akan memperkuat rasa kepemilikan dan tanggung jawab kolektif. Danau yang dikelola bersama memiliki peluang lebih besar untuk tetap produktif tanpa kehilangan fungsi ekologisnya.

 

Danau Tempe dalam Agenda Lahan Basah Nasional dan Internasional

Selama danau seperti Danau Tempe terus dikesampingkan, upaya penyelamatan lahan basah tidak pernah benar-benar utuh. Danau perlu ditempatkan sejajar dalam agenda lahan basah nasional, bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai bagian inti dari sistem ekologis yang menopang kehidupan.

Danau Tempe yang berkelanjutan akan menjaga ketahanan pangan lokal, mengurangi risiko bencana, dan mempertahankan keseimbangan ekosistem. Sebaliknya, apabila Danau Tempe terus diabaikan maka hanya akan mewariskan persoalan yang harus ditanggung oleh generasi berikutnya.

 

Menjaga Danau Tempe, Menjaga Kehidupan

Pada akhirnya, menjaga Danau Tempe bukan semata persoalan lingkungan, melainkan persoalan keberlanjutan hidup masyarakat lokal yang bergantung padanya. Danau merupakan jantung kehidupan lahan basah air tawar. Di tengah kenyataan bahwa cadangan air tawar bumi terus menyusut setara dengan hilangnya sekitar empat kolam renang olimpiade setiap detik, posisi danau menjadi semakin strategis dan rentan sekaligus.

Sudah saatnya kita berhenti memandang danau sebagai genangan air yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Danau Tempe adalah ekosistem hidup yang membutuhkan ruang untuk bernapas dan pulih. Menjaga Danau Tempe hari ini berarti menjaga ketahanan pangan, keseimbangan ekologi, dan masa depan generasi mendatang.

#konservasi, #tumbuhan, Keanekaragaman hayati, ekologi, lahan basah
Tentang Penulis
Harmin Adijaya Putri
Dosen Universitas Puangrimaggalatung dan Founder Komunitas Danau Biru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *