HARI BUMI DAN GERAKAN KONSERVASI KAUM MUDA WARRIOR

Opini
HARI BUMI DAN GERAKAN KONSERVASI KAUM MUDA WARRIOR
Aktivitas, Flora, Kehutanan, Satwa
202
19 April 2021
Penulis
Prof. Dr. Ir. H. Hadi Sukadi Alikodra, MS
Guru Besar Konservasi Alam Fakultas Kehutanan dan Lingkungan – IPB University

Setiap tanggal 22 April diperingati sebagai Hari Bumi, acara tahunan ini dirayakan di seluruh dunia. Pada awalnya dicanangkan tahun 1970 oleh Senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson, seorang pengajar lingkungan hidup. Tanggal 22 April bertepatan pada musim semi di Northern Hemisphere, belahan bumi utara dan musim gugur di belahan bumi selatan. Tujuan hari bumi adalah untuk menunjukkan dukungan umat manusia bagi perlindungan lingkungan termasuk untuk melindungi biodiversity yang semakin kritis.

 

Etika dan Moral Konservasi

Al Gore (1993) dan Alikodra (2020) berulang kali menyatakan bahwa planet bumi diciptakan dalam kondisi keseimbangan, dengan berbagai diversity kekayaan alam, dimana umat manusia berada didalamnya. Sebagai khalifah Allah, manusia wajib menjaga bumi dan isinya sebagai rumah bersama. Kondisi biodiversity semakin kritis karena pertumbuhan manusia dan pembangunan yang jauh dari etika dan moral konservasi. Etika konservasi berbasis ekologi-dalam (deep ecology), dicirikan dengan menghargai hak dan keberadaan setiap ciptaan Tuhan YME, diharapkan segera menggantikan etika antroposentrisme.

 

Hari bumi dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap planet bumi yang ditinggali manusia. Borrong (1999) dan Fransiscus (2015) menekankan bahwa bumi sebagai rumah bersama semua makhluk termasuk kekayaan biodiversity. Namun, etika dan moral manusia dan pembangunan seringkali mengabaikan keberlanjutan keseimbangan unsur-unsur biodiversity bumi. Kerusakan dan terganggunya keseimbangan alam semakin nyata, menyebabkan kegoncangan iklim dunia. Bumi pun semakin panas dan semakin mengancam kehidupan biodiversity termasuk manusia.

 

Wilayah bumi Indonesia adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia, merupakan negara maritim tropis yang memiliki kekayaan biodiversity tergolong tinggi. Fungsinya mencakup berbagai kepentingan dan kebutuhan manusia dan pembangunan, diantaranya pangan, obat-obatan, rekreasi dan pariwisata, serta spiritual. Biodiversity adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki hak hidup, sehingga wajib dimuliakan sebagai bentuk terima kasih umat kepada Tuhan Sang Pencipta.

 

Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bersama masyarakat tanam bibit kopi di kawasan Hutan Kota Pesanggrahan, Jakarta. Foto oleh KEHATI

 

Konservasi biodiversity bertujuan untuk mencapai keberlanjutan manusia dan pembangunan. Kegiatannya mencakup tiga aspek, yaitu amankan, lindungi, dan manfaatkan. Amankan berarti mengamankan biodiversity di wilayah konservasi insitu dan eksitu ataupun mengamankannya di laboratorium. Lindungi berarti melindungi dari berbagai tekanan kegiatan manusia maupun bencana alam. Sedangkan manfaatkan biodiversity berarti memanfaatkannya dalam bisnis konservasi secara bijak.

 

Kaum Muda Milenial Warrior Penyelamat Biodiversity

 

Biodiversity baik alam maupun hasil budi daya manusia mencakup ekosistem, jenis, dan kekayaan genetika yang terkandung didalamnya wajib dilindungi dan dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung kehidupan berkelanjutan. Bagi penyelamatan kondisinya yang semakin terancam diperlukan upaya nyata sebagai suatu gerakan kaum muda warrior bagi kelestarian biodiversity. Gerakan ini harus mendapat dukungan dan tempat yang tepat bagi tumbuhnya para pejuang muda, jawara, ataupun pendekar pelestari biodiversity.

 

Melalui gerakan kaum muda warrior diharapkan biodiversity dapat terlindungi, terlestarikan, dan termanfaatkan secara berkelanjutan. Advokasi konservasi kaum muda yang berkelanjutan sangat penting perannya untuk membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat secara luas. Sesuai dengan ajaran Islam, dan berbagai agama maka tugas manusia adalah menjaga alam dari kerusakan. Tuhan sangat menyayangi bangsa Indonesia dengan menciptakan biodiversity yang tinggi dan tersebar di berbagai pulau.

 

Biodiversity Warriors dan KEHATI bersama Accenture Indonesia mengamati burung migrasi pada perayaan World Migratory Bird Day (WMBD) 2019. Foto oleh KEHATI

 

Bagi bangsa Indonesia biodiversity merupakan aset bangsa yang tersebar di seluruh Nusantara, merupakan perekat Bhineka Tunggal Ika. Secara nasional aset ini harus kita pahami dan pengelolaannya diterapkan secara benar dan tepat. Nilai aset bangsa ini menunjukkan bahwa jika dimanfaatkan secara bijak dapat menjamin keberadaan masyarakat yang stabil dan produktif bagi kebahagiaan bangsa Indonesia. Demikian juga kearifan lokal dengan berbagai pengetahuannya yang tersebar diberbagai polosok Nusantara jika dikelola secara baik dan produktif merupakan sumber kekuatan nasional bangsa Indonesia.

 

Diperlukan Ecosophy

 

Keberlanjutan kehidupan manusia dan pembangunan semakin terancam karena semakin rapuhnya keseimbangan alam. Bahkan ilmu dan teknologi pun belum mampu membendung berbagai bencana dan kerusakan alam termasuk berjangkitnya wabah virus pandemi Covid-19. Semua agama pun mengajarkannya bahwa kerusakan di muka bumi ini adalah kekuasaan Tuhan untuk menyadarkan kekhilafan manusia yang kurang memperhatikan keseimbangan alam. Sifat antroposentris semestinya dirombak dan digantikan dengan sifat-sifat bijak yang memberikan penghargaan/memuliakan segala ciptaan Tuhan, pendekatan ini dikenal dengan paham “ekologi-dalam” sebagai dasar paham ecosophy.

 

Ecosophy atau filosofi ekologi, suatu paham yang mengedepankan etika dan moral manusia dan pembangunan yang menghargai hak hidup dan keberadaannya. Leadership ecosophy berbasis kejujuran, kebersamaan, dan gotong-royong, adalah menyatukan tiga aspek fundamental kehidupan manusia sehari-hari dan pembangunan, yaitu spiritual, intelektual, dan aspek emosional. Tujuannya adalah untuk mencapai titik keseimbangan atau titik kebahagiaan yang kekal. Dalam kegiatannya dicerminkan dengan kesatuan 3H, yaitu menyatukan pemikiran di kepala/otak (head) secara rasional, masuk ke hati (hearth) secara bijak, dan dilaksanakan oleh tangan (hand).

 

Penutup

 

Kondisi bumi yang semakin kritis ditandai oleh iklim semakin tidak menentu, semakin mengancam biodiversity. Kehidupan manusia dan pembangunan pun semakin terancam keberlanjutannya. Diperlukan cara dan peta jalan baru bagi tercapainya indeks kebahagiaan yang terus meningkat, bagi tercapainya kemakmuran. Biodiversity dan filosofi kearifan lokal yang tersebar di seluruh nusantara terus digali dan dterapkan bagi upaya membangun kemakmuran bangsa ini secara nyata. Oleh karenanya diperlukan pengembangan kapasitas ilmu dan teknologi yang berbasis sains ecosophy. Menumbuhkembangkan kaum muda warrior merupakan salah satu upaya yang tepat.

 

Peringatan Hari Bumi diharapkan dapat membangun kesadaran umat di seluruh dunia, terutama dalam rangka menghadapi perubahan iklim yang semakin panas. Semakin meningkatnya emisi gas rumah kaca dan dampaknya terhadap lingkungan hidup, semakin diperlukan cara baru untuk mengatasinya. Sesuai pendapat Levin et. al. (2018) bahwa disamping memangkas emisi secepat mungkin, dengan mengadopsi energi terbarukan, mempromosikan efisiensi energi dan menghentikan deforestasi, juga diperlukan cara baru untuk memindahkan karbon dari atmosfer secara besar-besaran, yaitu mengurangi miliaran metrik ton karbondioksida setiap tahun hingga pertengahan abad mendatang.

 

Daftar Pustaka

Alikodra, HS. 2020. Era Baru Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan: Membumikan Ekosofi Bagi Kebahagiaan Umat. Bogor (ID). IPB Press.

Al Gore. 1993. Earth in The Balance: Ecology and the human spirit. New York (US). Penguin Books USA Inc.

Borrong PR. 1999. Etika Bumi Baru. Jakarta (ID). PT BPK Gunung Mulia.

Fransiscus P. 2015. The Care for Our Common Home: Seri Dokumen Gerejawi No. 98. Jakarta Jakarta (ID). Departemen Dokumentasi dan Penerangn, KWGI.

Levin K, J Mulligan, G Ellison. 2019. Mengambil Gas Rumah Kaca dari Langit: 7 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Penghapusan Karbon. Jakarta (ID). WRI.

Panduan Pemuatan Opini di Situs BW

Syarat dan ketentuan

  1. Memuat hanya topik terkait keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup
  2. Panjang tulisan 5.000-6.000 karakter
  3. Tidak plagiat
  4. Tulisan belum pernah dimuat di media dan situs lain
  5. Mencantumkan nama, jabatan, dan organisasi
  6. Melampirkan foto diri dan biografi singkat
  7. Melampirkan foto pendukung (jika ada)
  8. Mengirimkan tulisan ke biodiversitywarriors@kehati.or.id
  9. Jika akan dimuat dimuat, pihak admin akan menghubungi penulis untuk menginformasikan tanggal pemuatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *