Adelia Yasmin — Simbol Perjuangan Generasi Muda Menjaga Indonesia Tetap Lestari
Matahari belum condong sepenuhnya ketika Adelia Yasmin menunduk, menekan tanah dengan kedua tangannya. Bibit mangrove yang baru ia tanam berdiri tegak di tepian pantai yang pernah gundul. Di belakangnya, belasan anak muda menyusul melakukan hal yang sama. Mereka tertawa, berpeluh, kotor oleh lumpur, tetapi mata mereka menyala. Di tengah suara ombak, ada keyakinan yang lahir: Indonesia masih bisa diselamatkan.
Bagi Adelia, 18 tahun, aktivis muda dari Emil Salim Institute, aksi menanam pohon bukan seremoni, bukan simbol kosong, dan bukan pula rutinitas tahunan yang berakhir di unggahan media sosial. Ini adalah barisan perlawanan. Ini adalah langkah kecil yang mengusung visi besar—mewarisi semangat Prof. Emil Salim untuk memastikan bumi Indonesia tetap bernafas, tetap hijau, dan tetap menjadi rumah yang bermartabat bagi generasi berikutnya.
“Lingkungan hidup bukan sekadar isu,” begitu keyakinannya, “lingkungan adalah hak asasi manusia.”
Kalimat itu menjadi kompas moral yang kini ia bawa ke mana-mana—ke sekolah, ke desa pesisir, ke sungai-sungai kotor, hingga ke ruang-ruang diskusi diplomatik tingkat global.
Benih Kesadaran yang Tidak Biasa
Benih kepedulian itu tumbuh sejak usia lima tahun. Adelia kecil menyerap banyak cerita dari ibunya—seorang guru di sekolah internasional di kawasan Bintaro—tentang krisis global, perubahan iklim, ketimpangan sosial, dan bagaimana dunia bisa runtuh jika generasi muda memilih diam.
Ketika remaja seusianya tenggelam dalam ritme hiburan yang tanpa henti, Adelia memilih jalan berbeda: ia membaca laporan iklim, mengikuti kegiatan lingkungan, dan bertanya hal-hal yang tidak ditanyakan anak SMA pada umumnya: “Jika kita tahu bumi sekarat, bagaimana mungkin kita tidak melakukan apa-apa?”
Pertanyaan itu menjadi api.
Api yang membawanya pada penghargaan sebagai Duta Lingkungan dan Advokat Muda KLHK 2023. Gelar itu bukan akhir, melainkan pintu awal. Dari sanalah ia mulai bergerak lebih luas, bertemu lebih banyak komunitas, dan akhirnya bergabung dengan Emil Salim Institute. Di tempat itulah ia menemukan rumah perjuangan: ruang untuk menyuarakan perubahan, membangun gerakan, dan menata ulang cara pandang anak muda Indonesia terhadap bumi yang mereka pijak.
Menjembatani Akar Rumput dan Ruang Kebijakan
Tidak cukup bagi Adelia hanya menanam. Ia berbicara. Ia berdiri di podium konferensi, KTT, dan forum kebijakan iklim, menyampaikan argumen tentang keberlanjutan, keadilan iklim, dan masa depan generasi muda. Ia menolak myth bahwa isu lingkungan terlalu rumit atau terlalu “dewasa” untuk anak-anak muda.
“Saya ada di ruang-ruang itu agar suara generasi saya tidak diabaikan,” tegasnya.
Ia menghubungkan dua dunia yang jarang bertemu:
dunia pengambil keputusan yang penuh data, dan dunia masyarakat akar rumput yang penuh kenyataan.
Namun di balik ruangan berpendingin udara dan layar proyektor, realitas lapangan menampar lebih keras. Ia pernah memimpin aksi bersih sungai, tetapi pada detik yang sama menyaksikan warga masih membuang sampah ke aliran air yang sama.
Saat itu ia sadar: pekerjaan ini bukan proyek satu atau dua tahun. Ini perjuangan generasi.
Sustainability Roadshow — Gerakan Mencetak Pasukan Hijau Muda
Karena itulah Adelia membangun program Sustainability Roadshow—gerakan pendidikan keberlanjutan yang menyasar siswa SD hingga mahasiswa, dari kota sampai daerah yang minim akses informasi. Targetnya sederhana tapi strategis: mempersempit jurang pengetahuan mengenai SDGs dan perubahan iklim, terutama bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah—mereka yang paling terdampak, tetapi paling jarang diajak bicara.
Ia tidak ingin generasi muda hanya menjadi penonton masa depan. Ia ingin mereka menjadi aktor sejarah.
Di forum internasional, ia bicara soal kolaborasi global. Di sekolah-sekolah, ia bicara soal tanggung jawab lokal. Keduanya ia nilai sama pentingnya.
“Kalau kita ingin bumi bertahan,” ujarnya, “maka pengetahuan harus menjadi milik semua, bukan milik sebagian.”
Roadshow itu kemudian berkembang menjadi Youth Initiatives, melahirkan kolaborasi Indonesia–Belanda di SMA Izada, mempertemukan pelajar dua bangsa membahas solusi lingkungan. Semua itu digerakkan dari satu keyakinan: anak muda harus memimpin, bukan menunggu.
Perlawanan yang Tidak Gentar
Di balik semangat itu, ia tidak menutup mata: perjuangan lingkungan di Indonesia masih penuh hambatan. Masih ada yang menganggap krisis iklim sebagai wacana belaka. Masih ada yang berpikir kerusakan alam adalah “risiko biasa.” Bahkan masih ada masyarakat yang memilih berdamai dengan sampah ketimbang melawannya.
Namun Adelia bukan tipe yang menyerah. “Keberlanjutan,” katanya, “bukan pilihan. Ini kebutuhan hidup.”
Karena itu ia menanam mangrove setiap pekan. Melatih siswa tentang iklim. Berkampanye di media digital. Mengajak nelayan, pedagang, dan komunitas lokal. Ia ingin gerakan ini tidak elitis. Tidak eksklusif. Tidak berhenti di kalangan terdidik menengah-atas saja.
Gerakan ini, baginya, harus menjadi gerakan rakyat.
Generasi yang Tidak Akan Mundur
Seperti banyak anak muda lain, Adelia juga punya dunia yang ringan—nongkrong, tertawa, nonton film, dan menikmati masa remaja. Namun ia memegang satu garis tegas: bersenang-senang tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti peduli.
“Menjaga bumi bukan tugas orang tua kami,” katanya, “ini tugas kami juga. Karena kami yang akan hidup paling lama di masa depan itu.”
Bibit-bibit yang ia tanam hari ini adalah pernyataan:
bahwa generasi muda tidak akan duduk diam menunggu bumi rusak total.
bahwa masa depan harus diperjuangkan, bukan diwariskan begitu saja.
bahwa Indonesia bisa lestari—asal ada yang memilih bergerak, bukan berpangku tangan.
Di tepian pantai, mangrove-mangrove kecil itu tumbuh pelan. Sama seperti gerakan yang ia bangun: mungkin belum besar, tetapi mengakar. Dan seperti pohon, ia percaya, keteguhan akan selalu menang melawan badai.
Adelia Yasmin bukan hanya aktivis lingkungan. Ia adalah simbol perlawanan hijau generasi baru. Generasi yang tidak takut kotor, tidak takut bicara, dan tidak takut mengambil alih peran.
Indonesia belum selesai. Dan generasi muda ini—generasinya—tidak akan mundur.
