Abdul Rahim Idris – Menyikap Tirai Hijau Meratus, Pegunungan Misteri Menyimpan Spesies Tanaman Baru
Pegunungan Meratus, jantung keanekaragaman hayati Kalimantan, memang menyimpan banyak misteri. Dari kejauhan, Pegunungan Meratus tampak hijau membentang bagaikan karpet raksasa. Hutan hujan tropis yang lebat menutupi lerengnya, menciptakan udara sejuk dan segar yang menjadi daya tarik utama bagi wisatawan alam. Air terjun alami, sungai jernih, dan lembah subur tersebar di berbagai titik.
Di tengah rimbunnya hutan hujan tropis yang belum terjamah, ada seorang anak muda mahasiswa Universitas Mulawarman telah menorehkan babak baru dalam dunia sains. Bukan satwa, kali ini fokusnya adalah flora, sebuah penemuan yang menegaskan status Meratus sebagai “paru-paru dunia” yang tak ternilai harganya.

Di pagi hari, kabut tipis sering menyelimuti puncak-puncaknya, menghadirkan panorama menenangkan dan menawan yang menjadikan ini sebagai momen sempurna bagi para pecinta fotografi dan pendaki. Selain itu, di beberapa lokasi, dapat menikmati pemandangan hamparan hutan yang berpadu dengan langit biru, menciptakan suasana damai khas pegunungan tropis. Inilah tempat dimana seorang pemuda bernama Abdul Rahim Idris (21) pertama kali melangkahkan kakinya dalam sebuah karya dan penemuan besar.
Ahim (sapaan Abdul Rahim) menceritakan tantangan selama melakukan eskplorasi di pegunungan Meratus denan medan yang slit, kelembaban tinggi dan tantangan yang dihadapi tidak mudah. Berhari-hari menembus hutan lebat, menaiki lereng curam hingga menyusuri sungai yang tak berujung. Membuat ia harus ekstra menghadapi kuatnya alam.
Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan merupakan salah satu keajaiban alam Indonesia yang menyimpan keindahan luar biasa serta kekayaan hayati yang menakjubkan. Rangkaian pegunungan ini membentang membelah Pulau Kalimantan bagian selatan dari timur ke barat, menjadi rumah bagi beragam flora, fauna, dan budaya lokal yang unik.
Lahir dan besar di sebuah kota kecil bernama Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Abdul Rahim yang kini tengah menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Tropis Universitas Mulawarman, Samarinda memandang pegunungan Meratus bukan sekedar gugusan bukit dan hutan, melainkan sebuah panggilan jiwa yang telah memandu perjalanan hidupnya sejak usia belia.
Kecintaannya pada alam dimulai sejak masih sangat muda. Kala itu, di usia yang seharusnya diisi dengan bermain, Ahim (Abdul Rahim biasa disapa) justru lebih tertarik pada tanaman hias. Aneh! Itu yang menjadi anggapan tentang Ahim kecil. Meski begitu, dirinya tidak pernah merasa terganggu. Sebaliknya, ia menemukan ketenangan dan kebahagiaan dalam mengamati detail-detail kecil dari kehidupan tumbuhan.
Ketertarikan awal ini berkembang pesat ketika duduk di bangku SMA. Di sana, Ahim mulai mendalami teori-teori awal mengenai keanekaragaman hayati dan pentingnya perlindungan terhadapnya. Konsep-konsep ini membuka matanya tentang betapa rapuhnya ekosistem dan betapa vitalnya peran manusia dalam menjaga “Alam Kita”.
Pengetahuan ini kemudian menjadi fondasi kuat yang terus Ahim kembangkan hingga di Universitas Mulawarman, tempatnya belajar dan mendalami minat terhadap alam dan kehutanan. “Di sini saya belajar bahwa konservasi bukan hanya sekedar teori, melainkan aksi nyata yang harus dilakukan dengan sepenuh hati. Seluruh lingkup riset dan major saya saat ini berfokus pada konservasi, sebuah pilihan yang saya ambil dengan penuh keyakinan,” ujar Ahim.
Perjalanannya dalam konservasi semakin intensif di masa pandemi. Saat itu, Ahim bertemu dengan seseorang yang Ia anggap sebagai ahli sekaligus kakak, Zain. Pertemuannya dengan Zain terjadi secara tidak terduga melalui media sosial Facebook. Keduanya memiliki kesamaan visi dan misi untuk mengekspos dan mendokumentasikan kekayaan keanekaragaman hayati di Pegunungan Meratus.
Dengan semangat dan tekad yang kuat, dua pemuda ini memulai ekspedisi pertamanya menyusuri hutan belantara. Ditemani motor trail tuanya, mereka menjelajah setiap sudut Meratus Timur, sebuah wilayah yang dikenal kaya akan biodiversitasnya. “Saat itu yang terlintas dalam pikiran kami bagaimana menyelamatkan spesies berharga dari ancaman konsesi tambang batu bara dan perkebunan industri yang terus menggerogoti hutan Meratus,” tuturnya.
Keresahan lainnya yakni, menurut catatan dan pengetahuan yang mereka pelajari, hampir tidak ada catatan penelitian ekstensif mengenai keanekaragaman hayati di Pegunungan Meratus. Kondisi ini membuat banyak spesies karismatik yang mungkin memiliki peran krusial dalam ekosistem, namun menghilang sebelum sempat dikenal dan didokumentasikan.
Padahal, menurut Ahim secara ekologis, kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati tinggi berbagai jenis anggrek hutan, tumbuhan obat, serta satwa endemik Kalimantan seperti owa-owa dan bekantan dapat ditemukan di sini. Pegunungan Meratus juga berperan penting sebagai daerah tangkapan air bagi sungai-sungai besar di Kalimantan Selatan.
Kondisi itulah yang mendorong kedua pemuda ini untuk mengambil tindakan dalam upaya penyelamatan ekosistem yang ada di dalamnya dan gencar mendorong upaya konservasi untuk menjaga kelestarian alam Meratus agar tetap lestari untuk generasi mendatang. “Kalau bukan kita siapa lagi,” ucap Ahim dengan semangat mudanya.
Berangkat dari situ, mereka pun memulai ekspedisi pertama dengan melakukan serangkaian eksplorasi kecil-kecilan lainnya di Pegunungan Meratus.
“Kami jelajahi setiap jengkal wilayah, dari pesisir hingga pegunungan, dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Usaha kami membuahkan hasil yang luar biasa. Kami berhasil mengungkap banyak jenis baru yang belum pernah terdeskripsikan sebelumnya, mulai dari herba, palem, hingga pohon. Setiap temuan adalah sebuah kemenangan kecil, sebuah bukti nyata bahwa Meratus masih menyimpan harta karun yang tak ternilai,”

Beberapa jenis baru terkonfirmasi dari genus Begonia, Pinanga, Arenga, Gymnostachyum, Etlingera, dan banyak jenis Araceae (keladi-keladian) seperti Schismatoglottis, Homalomena dan Burttianthus. “Selain itu, satu paper jenis baru Nepenthes atau kantong semwr dari Pegunungan Meratus, sedang disiapkan untuk dipublikasikan,” ungkapnya.
Tembus Jurnal Internasional
Perlahan tapi pasti, usaha mereka mulai mendapat perhatian. Beberapa catatan baru hasil eksplorasinya berhasil mereka terbitkan di Jurnal Internasional terakreditasi Scopus (Q2) dengan judul NEW DISTRIBUTION RECORDS AND RANGE EXTENSIONS FOR THREE SUMATRAN ORCHID SPECIES IN KALIMANTAN, BORNEO, INDONESIA.
Melalui jurnal yang diterbitkan diharapkan dapat menjadi gerbang informasi ke dunia luar bahwa Kalimantan, salah satu pulau terbesar dan paling beragam hayati di dunia, terus mengungkap penemuan-penemuan biologis yang luar biasa. Sejarah geologisnya yang unik dan eksplorasi botani yang relatif terbatas telah berkontribusi pada flora di pulau yang penuh teka-teki ini.
“Alhamduilillah, selama ekspedisi kami di tiga provinsi di Kalimantan, kami menemukan tiga spesies anggrek yang sebelumnya tidak tercatat di daratan ini. Tiga spesies anggrek Sumatra, Eria compressoclavata, Oxystophyllum cuneatipetalum, dan Plocoglottis quadrifolia, dilaporkan untuk pertama kalinya dari Kalimantan,” jelasa Ahim.
Publikasi ini tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga membuka pintu kolaborasi. Orang-orang mulai melirik dua pemuda ini. Teman-teman baik dari peneliti BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) maupun LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) mulai membantu Ahim. Melalui relasi dan saluran pendanaan eksplorasi, memungkinkan Ahim dan Zain untuk menembus jauh lebih dalam ke jantung Pegunungan Meratus.
Dari keresahan yang sama, Ahim dan teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia kemudian membentuk sebuah wadah bernama Yayasan Tumbuhan Asli Nusantara (Ya Tuhan). Yayasan ini berisi “orang-orang gila” yang memiliki semangat dan cita-cita yang sama untuk melestarikan alam. Meskipun yayasan ini baru terbentuk beberapa tahun, Ahim sudah berhasil menemukan banyak jenis baru dari berbagai taksa.

“Melalui yayasan ini, kami mendorong banyak teman dan pegiat tumbuhan untuk menjadi seorang Citizen Science, sebuah konsep yang menunjukkan bahwa dedikasi dan kecintaan terhadap alam lebih penting daripada gelar akademik,”
Sebagai seorang Biodiversity Warriors, Ahim bertekad untuk terus mengeksplorasi Pegunungan Meratus. “Saya akan terus menyuarakan konservasi bagi pegunungan yang paling terisolasi di Pulau Borneo ini, melakukan kegiatan ekspedisi yang kemudian hasilnya dapat dipublikasikan melalui berbagai jurnal dan media,” tegas Ahim.
Kegiatan ini, lanjut Ahim sangat krusial sebelum kita memulai langkah konservasi yang lebih besar. Bagaimana mungkin kita dapat mengkonservasi suatu spesies jika spesies tersebut belum memiliki nama dan identitas? Oleh karena itu, mendokumentasikan dan mendeskripsikan keanekaragaman hayati adalah langkah awal yang fundamental.
“Sebagai seorang botanis, saya memang memberikan suatu spesies nama. Namun, sebagai seorang konservasionis, kita memberikan mereka suara,” ujar Ahim.
Kalimat ini adalah Inspiration Word bagi Ahim. Nama adalah identitas, tetapi suara adalah keberadaan dan keberadaan itulah yang harus kita perjuangkan untuk Pegunungan Meratus. “Saya percaya dengan kolaborasi dan semangat yang tak pernah padam, kita bisa memastikan keindahan alam ini akan terus hidup dan menyuarakan keberadaan sesuatu di alam menjadi langkah kecil dalam melindunginya,” tutup Ahim.
Bertaruh Nyawa di Tengah Hutan
Di Tengah hutan Kalimantan yang dipenuhi bahaya, setiap melakukan ekplorasi adalah pertarungan. Keterbatasan alat, pasokan makanan dan juga faktor keamanan akan ancaman manusia maupun binatang buas, menjadi masalah utama.
Selama menjalankan pengamatan, Ahim dan Zen mengaku tidak mengalami kendala yang berarti. Namun tantangan dan halangan yang merintang pasti ada. “Ancaman dari manusia belum mengalami, masih aman-aman saja. Tetapi, kekhawatiran nyawa melayang akibat serangan binatang buas itu pasti ada,” ucapnya.
Diakui Ahim, kesulitan yang paling berat dialami ketika menemui medan terjal dan sulit dilalui oleh motor tuanya. “Jadi lebih ke situ saja sih, masalah lain soal transportasi kadang motor rusak, cuaca yang berubah-ubah, sehingga jalur terjal yang sulit dilalui,” kenang Ahem, ditambah lagi apa yang dikerjakan tidak ada yang mendanai, hasil dari kocek sendiri.
Dia juga menceritakan, selama melakukan eksplorasi, tidak jarang menemukan akivitas lain di hutan seperti pembalakan liar, dan itu frekuensinya cukup tinggi. Tetapi, mereka tidak sampai mengancam atau intimidasi. “Bertemu illegal mining, illegal loging dan sebagainya itu sebetulnya frekuensinya cukup sering, cuma memang tidak pernah sampai diusir atau diancam,” ungkap Ahim.
Kalaupun harus kontak fisik, Ahim berupaya meyakinkan mereka bahwa apa yang dikerjakannya murni gerakan mahasiswa yang concern masalah keanekaragaman hayati, sebagai mahasiswa penyayang flora dan fauna, fokus dibidang riset, mengambil data, dan pemotretan yang bukan sekedar jalan-jalan menapaki jejak di hutan, uji adrenalin tanpa hasil apapun. “Sebenarnya kami ingin sounding bahwa ada lho pegunungan paling terisolasi di Pulau Borneo yang memerlukan perhatian lebih. Dan kalo bukan kami siapa lagi yang mengerjakan,” tutup Ahim mengakhiri.


