Dari Pesta Babi Menuju Collaps: Peringatan Atas Rapuhnya Pengelolaan Lingkungan Hidup Indonesia
“Apa yang membuat masyarakat kita sedemikian rapuh?” sebuah pertanyaan yang terus menggantung di kepala saya. Mencari jawaban atas pertanyaan tersebut tentunya tak mungkin dalam satu kelebat saja. Dalam pencarian itu, saya dihadapkan pada satu fenomena dimana kritik dianggap sebagai ancaman.
Pertanyaan lain saya temukan di dalam buku Collaps karya Jared Diamond, terbit dalam Bahasa Indonesia pada tahun 2014. Katanya, mengapa sejumlah masyarakat masa lalu gagal menyadari bahwa mereka telah terjeblos ke dalam kekacauan, padahal (kalau kita lihat dalam kilas balik) seharusnya mereka bisa melihatnya?”
Lantas, apakah Indonesia sedang mengalami pengulangan pola yang sama?, kita ceroboh dalam mengelola sumber daya alam, mengorbankan hutan, sungai, masyarakat adat, dan stabilitas iklim demi keuntungan jangka pendek. Sementara itu, tanda-tanda krisis sudah terlihat jelas di depan mata?
Beberapa waktu yang lalu, saya sempat bertemu dengan dokumenter investigatif Pesta Babi. Film ini menarik, tapi dia mengkritik. Pesta Babi berlatar perjuangan masyarakat adat suku Marind, Yei, Awyu dan Muyu di Papua Selatan. Namun sejatinya, dokumenter ini adalah kritik keras atas pengelolaan lingkungan dan sumber daya alam di Indonesia. Banyak pihak merasa tidak senang, bahkan melakukan serangan balik atas kritik ini.
Kisah Pesta Babi dibuka melalui visual Atatbon, dimana suku Muyu melakukan ritual adat. Ritual yang memperlihatkan hubungan yang jelas antara manusia, alam dan leluhur mereka. Namun keadaan berubah Ketika kapal-kapal datang menurunkan ratusan ekskavator dikawal aparat militer. Alat-alat berat itu digunakan untuk pengembangan proyek ketahanan pangan, tebu, sawit, biodiesel dan bioetanol.
Bagi saya, Pesta Babi mengingatkan pada film The Burning Season. Film ini dirilis tahun 1994, menceritakan perjuangan Chico Mendes yang memimpin serikat buruh dan masyarakat adat demi melindungi hutan hujan Amazon. Chico menolak deforestasi massif akibat perluasan lahan peternakan. Kendati begitu gigih, Chico akhirnya terbunuh.
Berhari-hari setelah film dokumenter Pesta Babi diluncurkan, polemik muncul. Beberapa rencana nonton bareng terpaksa dibatalkan, bahkan ada yang dibubarkan. Sementara tidak secarik kertas resmi pun melarang peredaran film tersebut.
Belakangan, salah satu tokoh di film itu, Yasinta Moiwend malah melaporkan Ketua LBH Merauke dan produser film, Dandhy Laksono ke Polda Metro Jaya pada Selasa, 2 juni 2026.
Sebelumnya, 25 May 2026, Dandhy membuat unggahan di akun media sosialnya. “Bukankah setiap orang berhak membuat pilihan?” penggalan kalimat terakhir Dandhy.
Yasinta berbeda. Situasi keluarga yang serba terbatas menjadi satu-satunya alasan baginya berbalik arah. Bisa jadi alasan Yasinta serupa dengan takutnya Chico ketika berkali-kali mendapat teror, ataukan memang murni keinginan sendiri? Saya sungguh tidak mungkin membandingkan Pesta Babi dengan The Burning Season dalam konteks ini.
Selain menampilkan bentrokan di lapangan antara masyarakat dengan militer, dokumenter Pesta Babi bicara tentang deforestasi, kerusakan lingkungan, pemaksaan konsep pangan, sistem hukum yang tak berkeadilan, gurita korporasi penerima manfaat dari eksploitasi sumber daya alam, dan seterusnya.
Namun dalam polemik yang berkembang, justru pihak-pihak tertentu mencoba menelisik dari kacamata yang anti kritik. Misalnya dengan mempertanyakan, dari mana sumber pembiayaan film tersebut. Atau kecaman yang menyebut Pesta Babi sebagai film provokatif. Lantas pertanyaannya, dimana ruang berpendapat dan bersuara bebas? Dimana nilai demokrasi terselip?
Bagi saya, Pesta Babi merupakan karya anak bangsa yang mampu mengingatkan setiap generasi, bahwa pernah ada suatu masa dimana hutan dikorbankan dan masyarakat kehilangan wilayah adatnya. Pernah ada suatu masa dimana anak bangsa berani mengatakan bahwa situasi ini tidak boleh dianggap normal.
Pesta Babi sejatinya juga dapat dianggap sebagai Silent Spring-nya Indonesia. Masyarakat umum penting membangun kesadaran kritis untuk menyatakan bahwa krisis iklim bukanlah sesuatu yang abstrak, bahwa kehilangan hutan bukan hanya sekedar kehilangan pohon, bahwa eksploitasi alam adalah juga persoalan politik dan moral. Silent Spring sendiri merujuk buku karya Rachel Carson, terbit tahun 1962.
Pesta Babi bukan hanya sekedar dokumenter investigatif, mestinya ia dapat dipandang sebagai momentum rujuk nasional dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang berkelanjutan. Collapse – Runtuhnya Peradaban-peradaban Dunia karya Jared Diamond memberi sedikit pencerahan bagi saya. Pertanyaan dia di awal catatan ini terasa sangat relevan. Saya ingin mengulangi, mengapa sejumlah masyarakat masa lalu gagal menyadari bahwa mereka telah terjeblos ke dalam kekacauan, padahal seharusnya mereka bisa melihatnya?
“Proses-proses perusakan lingkungan oleh masyarakat masa lalu dibagi ke dalam delapan kategori, yang kadarnya relatif berbeda dari kasus ke kasus: penggundulan hutan dan penghancuran habitat, masalah tanah (erosi, penggaraman, dan hilangnya kesuburan tanah), masalah pengelolaan air, perburuan berlebihan, penangkapan ikan berlebihan, efek spesies yang didatangkan terhadap spesies asli, pertumbuhan populasi manusia, dan peningkatan dampak per kapita manusia,” papar Jared.
Di masa modern, hari ini manusia dihadapkan pada empat masalah baru. Menurut Jared, masalah baru tersebut adalah perubahan iklim akibat manusia, penumpukan zat-zat kimia beracun di lingkungan, kekurangan energi, dan penggunaan kapasitas penuh fotosintesis bumi oleh manusia.
Bisa jadi Pesta Babi belum memotret semua ciri-ciri yang disampaikan Jared. Tapi bukankah sebagiannya sudah dijelaskan secara nyata?
Jared mengkaji berbagai peradaban yang mengalami kemunduran atau bahkan runtuh akibat kegagalan mengelola lingkungan dan sumber daya alam. Pelajaran penting dari Collaps adalah bahwa keruntuhan jarang terjadi secara tiba-tiba. Keruntuhan biasanya diawali oleh serangkaian keputusan politik dan ekonomi yang tampak rasional dalam jangka pendek, tetapi menghancurkan kemampuan masyarakat untuk bertahan dalam jangka panjang.
“Banyak orang khawatir bahwa ekosida kini telah mengalahkan perang nuklir dan penyakit sebagai ancaman peradaban global,” kata Jered. Dia secara terang-terangan menyatakan bahwa ekosida, upaya terang-terangan menghancurkan ekosistem, telah menjadi ancaman yang luar biasa. Pesta Babi mengingatkan hal tersebut, masihkan kita belum sadar?
Jared mengajukan tesis yang cukup kritis. Baginya, tanggapan masyarakat terhadap masalah lingkungan selalu terbukti penting.
Namun kadang kita lupa, sikap arif agaknya telah jauh terpendam di dalam lemari berkas, atau dokumen izin yang diterbitkan pemerintah. Indonesia kini sedang berhadapan dengan persoalan yang tidak bisa dianggap remeh, kendati anak bangsa kerap disuguhi tontonan tak mendidik, komentar atau pernyataan blunder dari penyelenggara negara.
Lantas, apakah Pesta Babi kurang begitu kuat memperingatkan kita semua? Jared juga kelas-jelas menunjukkan bahwa elit penguasa sering kali gagal membaca tanda-tanda krisis yang sebenarnya sudah terlihat jelas. Mereka cenderung mempertahankan sistem yang menguntungkan kelompok tertentu, bahkan ketika sistem tersebut secara perlahan menghancurkan fondasi kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Fenomena ini memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan dengan berbagai situasi yang kita saksikan saat ini. Ketika hutan ditebang meski risiko banjir meningkat, ketika izin eksploitasi diberikan meski habitat satwa terancam, atau ketika suara masyarakat adat diabaikan demi kepentingan investasi, maka sesungguhnya kita sedang mengulangi pola yang pernah membawa banyak masyarakat menuju krisis.
Hal ini mengingatkan saya pada pidato Presiden Prabowo Subianto pada peresmian Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk, Sabtu, 16 May lalu. “Sebentar-sebentar Indonesia akan kolaps, akan chaos. Rupiah begini, dolar begini,” kutipan pidatonya yang cukup viral.
Keruntuhan bukanlah akibat kurangnya informasi. Keruntuhan sering kali merupakan akibat dari ketidakmauan untuk bertindak berdasarkan informasi yang sudah tersedia. Dalam konteks ini saya memandang, Pemerintahan yang semakin otoriter cenderung memusatkan pengambilan keputusan pada kelompok kecil elit. Dalam situasi seperti itu, kritik dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai mekanisme koreksi.
Proses pengambilan keputusan kehilangan salah satu unsur terpentingnya: kemampuan untuk mendengar peringatan. Keputusan dapat dibuat dengan cepat, tetapi tidak selalu dengan bijaksana. Dalam banyak kasus, kecepatan tersebut justru mempercepat laju kerusakan ekologis. Pesta Babi memperlihatkan bagaimana relasi kuasa dapat memengaruhi cara masyarakat memandang alam. Ketika kekuasaan ekonomi dan politik bertemu tanpa kontrol yang memadai, maka lingkungan hidup dan masyarakat sering menjadi korban paling pertama.
“Tanggapan suatu masyarakat bergantung kepada lembaga-lembaga politik, ekonomi, dan sosialnya, serta nilai-nilai budayanya,” kata Jared. Dalam hal ini, Pesta Babi terasa sangat menyentuh, termasuk berbagai polemik yang menyertainya.
Sementara itu, setiap 5 Juni kita memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Tahun ini, tema yang diusung adalah “Saatnya Bekerja untuk Iklim” bertagar #NowForClimate. Tema ini terdengar sederhana. Tapi bagi saya, tema ini justru menjadi alarm, alarm yang sama yang disampaikan Dandhy Laksono dan Jared Diamond lewat karya-karya mereka.
Persoalannya bukan lagi apakah perubahan iklim sedang terjadi, melainkan apakah kita masih memiliki keberanian politik dan moral untuk bertindak sebelum kehancuran benar-benar terjadi.
#NowForClimate mestinya diterjemahkan secara luas, menjadi aksi bersama dan berkelanjutan untuk menyelamatkan lingkungan kita. tak hanya sampai pada menanam sebatang pohon, tak pula sebatas membuang sampah ditempatnya. Ia harus menjadi panggilan untuk mengubah cara kita mengambil keputusan dan memandang masa depan.
Pemerintah perlu memastikan bahwa perlindungan lingkungan menjadi fondasi pembangunan, bukan hambatan pembangunan. Perusahaan perlu memahami bahwa keberlanjutan bukan sekadar strategi komunikasi, melainkan syarat untuk mempertahankan legitimasi sosial. Masyarakat sipil perlu terus mengawasi dan menyuarakan kepentingan lingkungan, bahkan ketika ruang untuk melakukannya semakin sempit. Dan, warga negara perlu menyadari bahwa pilihan politik yang mereka buat memiliki konsekuensi ekologis yang nyata.
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat tak berapa lama sudah dilantik menerbitkan Surat Edaran Nomor 09 Tahun 2026 tentang Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tahun 2026.
Baiklah, secara umum Surat Edaran tersebut terkesan sangat seremonial. Tapi apakah kita mampu bertindak cukup cepat, nyata, strategis dan berdampak? Sebelum kisah-kisah tentang keruntuhan yang ditulis Jared Diamond berubah menjadi kisah tentang kita sendiri? Sebelum Pesta Babi dan pesta-pesta lainnya bermunculan?