Dinamika Konsumsi Tachypleus Gigas atau Kepiting Tapal Kuda di Balik Statusnya yang Dilindungi (MICRO ESSAI PRIMATE FOR CLIMATE)

Aktivitas, Bioprospeksi, Kelautan, Perdagangan Satwa, Satwa
Dinamika Konsumsi Tachypleus Gigas atau Kepiting Tapal Kuda di Balik Statusnya yang Dilindungi (MICRO ESSAI PRIMATE FOR CLIMATE)
27 January 2026
5
1

Email lucasunggul93@gmail.com Instagram @lu._cas41 part of @shellter_untirta

Belangkas di Indonesia, yang dikenal sebagai mimi, merupakan salah satu living fossil yang mampu mempertahankan morfologinya hingga sekitar 150 tahun terakhir (Vratiwi et al., 2024). Spesies ini dilindungi berdasarkan Peraturan Kementerian Kelautan dan Perikanan No. 44/PERMEN-KP/2023 yang melarang penangkapan dan perdagangannya, serta tercantum dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan kategori Data Deficient (DD) (Supadminingsih et al., 2025). Status tersebut menunjukkan keterbatasan data ilmiah terkait populasi dan keberlanjutan belangkas, sehingga perlindungan menjadi langkah preventif untuk mencegah penurunan populasi.

Belangkas memiliki sistem imun bawaan dengan hemolimfa yang kaya biomolekul aktif, seperti lektin, peptida antimikroba, dan faktor pembekuan, yang berperan penting dalam pertahanan terhadap patogen (Adebayo et al., 2022). Penelitian Du et al. (2011) menunjukkan bahwa belangkas berkontribusi besar dalam bidang farmasi melalui pemanfaatan limulus amoebocyte lysate (LAL) untuk deteksi endotoksin serta cell-free hemolymph (CFH) sebagai sumber molekul imunoregulator dalam pengembangan obat dan alat medis.

Tingginya nilai ilmiah belangkas belum diimbangi dengan pemahaman masyarakat. Studi di Hong Kong menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mengkonsumsi belangkas tanpa mengetahui status konservasi dan peran ekologisnya (Tang et al., 2025). Kondisi serupa terjadi di kawasan Pantai Galau hingga Pantai Ceria Labuan, di mana belangkas dimanfaatkan sebagai tangkapan sampingan semata untuk konsumsi dan tambahan pendapatan.

Hasil kunjungan lapangan pada 20 Januari 2026 di Pantai Galau menunjukkan bahwa belangkas masih sering tertangkap sebagai bycatch nelayan dan diperdagangkan secara konvensional dengan harga sekitar Rp15.000 per ekor. Temuan ini mencerminkan adanya kesenjangan antara kebijakan perlindungan dan praktik pemanfaatan di lapangan, sehingga diperlukan sosialisasi dan penyebaran pengetahuan berbasis sains guna meningkatkan kesadaran serta partisipasi masyarakat pesisir dalam menjaga keberlanjutan populasi belangkas.

 

Daftar Pustaka

 

Adebayo, I. A., Habib, M. A. H., Sarmiento, M. E., Acosta, A., Yaacob, N. S., & Ismail, M. N. (2022). Proteomic analysis of Malaysian horseshoe crab (Tachypleus gigas) hemocytes gives insights into its innate immunity host defence system and other biological processes. PLOS ONE, 17(8), e0272799.

Du, R., Ho, B., & Ding, J. L. (2011). Application of cell-free hemolymph of horseshoe crab in antimicrobial drug screening. Current Pharmaceutical Design, 17(13), 1234–1239.

International Union for Conservation of Nature (IUCN). (2023). The IUCN Red List of Threatened Species. IUCN.

Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. (2023). Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 44/PERMEN-KP/2023 tentang Pengelolaan Jenis Ikan Dilindungi. Jakarta: KKP RI.

Supadminingsih, F. N., Pratama, G., Prabowo, N. W., Yanuarti, R., & Nurdin, H. S. (2025). Kuantifikasi populasi belangkas sebagai dasar strategi konservasi di perairan Mauk. Jurnal Akuatiklestari, 9(1), 60–67.

Tang, P. Y., Fong, H. W., Lee, S. Y., Chang, W. T., Pang, L. Y., Hui, T. Y., & So, K. J. Y. (2025). Human exploitation of adult horseshoe crab and public awareness campaign in Hong Kong SAR, China. Global Ecology and Conservation, 57, e03360.

Vratiwi, A., Pratiwi, F. D., & Aisyah, S. (2024). Identifikasi jenis dan analisis hubungan karakteristik lingkungan terhadap kelimpahan relatif belangkas di Pantai Tanjung Bay Kabupaten Bangka Tengah. Akuatik: Jurnal Sumberdaya Perairan, 18(1), 11–18.

 

#PrimateForClimate

#PrimataUntukIklim

#HariPrimataIndonesia

#HPI2026

#PrimateForClimate #PrimataUntukIklim #HariPrimataIndonesia #HPI2026, hewanakuatik, pesisir pantai
Tentang Penulis
Lucas
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2026-01-27
Difference:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *