Pengelolaan sampah dalam pendakian

Artikel
Pengelolaan sampah dalam pendakian
Ekowisata, Tata Kelola Sampah
59
11 September 2021
Tata rias
Penulis
Nurul izzati
2
posting

Pendakian minim sampah

Pengelolaan sampah dalam pendakian

Kata zerowaste sudah tak asing lagi di telinga kita. Berasal dari kata bahasa inggris zero yang berarti nol dan waste yang berarti limbah atau sampah. Penggunaan kata zerowaste sering dikaitkan dengan melakukan kegiatan yang menghasilkan sampah seminim mungkin.

Pendakian gunung merupakan kegiatan yang menghasilkan banyak sampah dikarenakan berbagai macam keterbatasan yang ditemukan ketika di gunung. Menghasilkan sampah seminim mungkin menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk menjaga bumi tetap lestari terlebih lagi area gunung. Dalam rangka mendukung Ekspedisi Karya Pemuda, Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) Eka Citra UNJ mengadakan Sharing Session dengan salah satu pencetus gerakan pendakian minim sampah yaitu Siska Nirmala atau yang akrab dengan sebutan Zerowasteadventure. Sharing Session ini dilaksanakan pada 25 Agustus 2021 secara daring melalui Google meet.

Siska menerangkan bahwa gaya hidup minim sampah bertujuan untuk mengurangi sampah dari hilir atau dari sumbernya, berbeda dengan aksi bersih yang biasa di lakukan di beberapa gunung yang hanya membersihkan sampah tapi tidak mengurangi sampah yang di hasilkan karena sampah yang berada di gunung hanya akan di pindahkan ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Selama sharing, disebutkan sampah-sampah yang sering ditemui di gunung seperti botol air mineral sekali pakai, kemasan makanan, kantong plastik, tisu kering dan tisu basah, tali rafia, kaleng gas, sampah B3 sepeti baterai serta alat P3K. Siska juga menjelaskan alternatif-alternatif yang bisa digunakan untuk meminimalisir sampah yang dihasilkan selama pendakian di mulai dengan mengganti plastik dengan wadah makanan atau tas kain, mengganti tisu dengan sapu tangan dan botol air sekali pakai dengan jerigen.

Selain alternatif dalam mengurangi sampah, mengelola sampah organik di gunung juga menjadi hal penting, seperti tidak mencampur sampah organik dan non organik, tidak menyebar sampah organik di sekitar jalur pendakian dengan asumsi sampah tersebut pada akhirnya akan terurai, karena pada kenyataannya sampah organik yang disebar bisa dimakan oleh satwa di gunung dan menimbulkan perubahan perilaku pada satwa-satwa tersebut. Sampah organik lebih baik di kubur di dalam tanah.

Dalam menjalani pendakian minim sampah pun di perlukan adanya toleransi sehingga anggota tim tidak merasa berat dan terpaksa dalam menjalaninya. Contoh toleransinya ada beberapa bahan makanan, bekal perjalanan, atau perlengkapan yang dapat menghasilkan sampah tapi boleh dibawa seperti rokok yang menghasilkan puntung rokok, tetapi tetap harus membawa sampahnya turun.

Pendakian minim sampah memang memerlukan penyesuaian dalam pelaksanaannya tapi dengan kesadaran dan motivasi yang tinggi untuk menjaga lingkungan, segala macam tantangan dan kesulitan menjadi mudah dilakukan.

1
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *