Pemanfaatan Babandotan Sebagai Tanaman Multiguna

Artikel
Pemanfaatan Babandotan Sebagai Tanaman Multiguna
Flora
1350
18 Juni 2015
Penulis
Syamsul Anwar Maulana
47
posting

Ageratum conyzoides Linn atau orang lebih mengenalnya dengan nama  babadotan. Bandotan (dalam bahasa Jawa) merupakan tumbuhan dari famili Asteraceae. Tumbuhan ini merupakan herba menahun, tegak dengan ketinggian 30 – 80 cm dan mempunyai daya adaptasi yang tinggi, sehingga mudah tumbuh di mana-mana dan sering menjadi gulma yang merugikan para petani. Namun di balik itu Ageratum dapat digunakan sebagai obat, pestisida dan herbisida, bahkan untuk pupuk dapat meningkatkan hasil produksi tanaman.  Di sisi yang lain Ageratum yang menunjukkan gejala lurik kekuningan dapat menjadi sumber penyakit bagi tanaman lain yang diusahakan di sekitarnya.

Sumber gambar: https://id.wikipedia.org/wiki/Bandotan

Babadotan dikenal luas sebagai obat luka yaitu caranya dengan menumbuk bandotan dan dicampur dengan minyak goreng, dan dipergunakan untuk obat luar saja. Menurut Heyne, daun tumbuhan ini diremas-remas, dicampur dengan kapur, dioleskan pada luka yang masih segar. Rebusan dari daun juga digunakan untuk obat sakit dada, sementara ekstrak daunnya untuk obat mata yang panas. Akar yang ditumbuk dioleskan ke badan untuk obat demam dan ekstraknya dapat diminum. Zat yang terkandung dalam babadotan yang dilaporkan pada tahun 1987 adalah  minyak esensial, alkaloid, dan kumarin. Meski demikian, tumbuhan ini juga memiliki daya racun.  Sementara, penelitian lain menemukan bahwa bandotan dapat menyebabkan luka-luka pada hati dan menumbuhkan tumor. Tumbuhan ini mengandung alkaloid pirolizidina.

Bandotan juga dapat digunakan sebagai biopestisida/pestisida nabati, dari tumbuhan ini telah berhasil diisolasi dua senyawa  aktif yang diberi nama prococene I dan Prococene II atau 6,7 dimetoksi -2,2-dimetil-2H-kromen. Diduga senyawa ini terdapat secara meluas pada tumbuhan dari genus Ageratum sp, termasuk A. conyzoides  (Bower dalam Rukmiati K. Tjokronegoro, 1987) Senyawa prococene I dan Prococene II  di kenal sebagai senyawa anti hormone juvenile, yaitu hormone yang diperlukan oleh serangga selama metarfosis dan reproduktif.  Pemberian senyawa ini akan menyebabkan turunnya titer hormone juvenile sehingga menyebabkan terjadinya metamorfosis dini, dewasa yang steril, diapauses dan terganggunya produksi hormone.  Bekerja sebagai racun kontak dan perut.

Ageratum juga sebagai herbisida. Bila kita perhatikan dengan teliti, tanaman Ageratum seringkali populasinya lebih dominan dibandingkan tanaman liar lainnya dalam suatu lahan. Ageratum diduga kuat  mempunyai allelopathy, suatu keadaan di mana tanaman/bahan tanaman mengeluarkan eksudat kimia yang dapat menekan pertumbuhan tanaman lainnya.

Sumber

http://epetani.pertanian.go.id/budidaya/babadotan-ageratum-conyzoides-sebagai-tanaman-multiguna-8446

https://id.wikipedia.org/wiki/Bandotan

0
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *